Berita Live Scores
Manchester City FC

Mengapa Pep Guardiola Tak Pernah Juara Liga Champions Sejak Tinggalkan Barcelona?

23.32 WIB 07/08/20
Champions League trophy Pep Guardiola
Bos Man City ini ngebet menjadi juara Liga Champions setelah gagal mewujudkannya di Bayern Munich.

OLEH  JONTHAN SMITH   PENYUSUN  SANDY MARIATNA

Jika Pep Guardiola tidak mampu menjuarai Liga Champions bersama Manchester City, ia akan dikenang selamanya sebagai manajer gagal.

Itulah yang dikatakan Guardiola sendiri, setengah serius setengah bercanda. Pria Catalan ini tahu, para pengkritiknya selalu menyinggung soal hal itu untuk menjatuhkannya.

Kini, sudah sembilan tahun berlalu sejak ia mengangkat Si Kuping Lebar bersama Barcelona dan banyak yang berargumen Guardiola tidak akan bisa memenanginya lagi tanpa Lionel Messi di sisinya.

Ia meninggalkan Bayern Munich pada 2016 dengan raihan tiga gelar Bundesliga Jerman dan dua gelar DFB-Pokal, tapi tak pernah sanggup mendapatkan hadiah terbesar: trofi Liga Champions.

Bagi sebagian pihak, deretan trofi domestik bersama Bayern itu seperti tak ada artinya. Eks penyerang Bayern Ivica Olic adalah salah satunya. "Guardiola kalah berturut-turut di tiga semi-final Liga Champions. Untuk Bayern yang menuntut standar tinggi, itu adalah sebuah kegagalan," katanya.

Faktanya, Liga Champions adalah kompetisi yang sangat sulit untuk dimainkan. Hanya ada tiga pelatih di dunia yang mampu memenanginya lebih banyak ketimbang Guardiola: Carlo Ancelotti, Bob Paisley, dan Zinedine Zidane, lawan yang akan dihadapinya Sabtu (8/8) dini hari WIB nanti.

Sang manajer The Citizens juga punya catatan luar biasa di kompetisi ini. Ia mampu memenangi 20 dari 28 duel knock-out dan hanya sekali gagal ke perempat-final dalam sepuluh musim terakhir.

Guardiola terkadang menyalahkan ketidakberuntungan. Di ajang seperti ini, perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan hanya dipisahkan oleh garis sangat tipis dan kemujuran kerap tak berpihak kepadanya.

Salah satu momen sial itu terjadi dalam musim terakhirnya di Allianz Arena ketika Bayern tereliminasi oleh aturan gol tandang dari Atletico Madrid. Kala itu, Thomas Muller gagal mengeksekusi penalti dan gol yang dicetak Antoine Griezmann terlihat sedikit off-side.

Di musim lalu bersama City, Guardiola tersisih dari kompetisi ini lagi-lagi karena gol tandang dalam sebuah laga dramatis melawan Tottenham. Gol penentu Raheem Sterling di masa injury time dibatalkan VAR, gol Fernando Llorente sedikit mengenai lengan, sementara Sergio Aguero gagal mengeksekusi penalti di leg pertama.

Semusim sebelumnya, ketika VAR masih belum diterapkan, kekalahan dari Liverpool di perempat-final mungkin tidak akan setelak itu. Gol telat Gabriel Jesus saat takluk 3-0 di Anfield seharusnya disahkan. Situasi serupa juga tersaji di leg kedua sehingga menggagalkan potensi comeback City.  

Itulah hal-hal yang bisa dijabarkan untuk memberikan pembelaan terhadap Guardiola. Meski begitu, tetap ada noda dan kesalahan yang dilakukannya.

Di musim pertamanya di Jerman, Bayern tertinggal 1-0 dari Real Madrid di leg pertama semi-final, tapi kemudian malah hancur lebur 4-0 saat melakoni leg kedua di Allianz Arena. Asistennya, Domenec Torrent mengklaim sejumlah pemain tak mematuhi taktik Guardiola. Tetap saja, itu adalah eliminasi yang amat memalukan.

Setahun berselang, Guardiola memainkan sepakbola dengan garis pertahanan tinggi dalam leg pertama semi-final melawan Barcelona. Hasilnya, kebrilianan Messi sukses mengeksploitasi kelemahan Bayern. Die Roten takluk 3-0 di laga itu. 

Bahkan saat bersama City, sejumlah taktik dasar tak mampu diterapkannya. Di musim pertamanya di Etihad, City unggul 5-3 di leg pertama babak 16 besar atas Monaco. Namun, City tak berkutik di leg kedua dan gagal membendung permainan mengalr dari skuad muda Monaco yang diinspirasi Kylian Mbappe dan Bernardo Silva.

Pertandingan yang tampaknya terkontrol terkadang bisa lepas kendali ketika lawan melakukan serangan kilat dan mencetak gol krusial. Guardiola mengakui, itulah masalah dihadapi timnya jelang duel melawan Real Madrid.

"Yang lebih menjengkelkan dari kebobolan gol adalah proses kami kebobolan gol itu. Jika tim lawan memang bermain brilian, kami harus menerimanya. Namun, kami lebih sering kebobolan gol-gol yang seharusnya bisa dihindari," katanya dalam jumpa pers.

"Membuat kesalahan di kompetisi ini mahal harganya. Kami tahu itu dan kita sudah sering membicarakannya. Jika kami ingin selangkah lebih dekat memenangkan kompetisi ini, kami harus bisa lebih baik di aspek ini."

Guardiola masih kepayahan ketika menghadapi tim yang defensif dan mengandalkan serangan balik. Madrid adalah salah satunya. Taktik inilah yang mengantarkan Zidane menuju tangga kesuksesan besar di Madrid, meski kali ini ia akan mencoba bermain menyerang lantaran tertinggal 2-1 dari City di leg pertama.

Di masa lalu, Inter 2010 arahan Jose Mourinho dan Atletico 2016 besutan Diego Simeone jadi contoh terbaik bagaimana sebuah kerapatan tanpa cela di lini belakang bisa sangat krusial untuk menentukan sukses tidaknya sebuah tim.

Selain itu, Guardiola juga dikritik karena "terlalu kreatif" dalam laga-laga besar. Penyerang Bayern Thomas Muller mengakui jika eks manajernya itu "terlalu banyak berpikir" alias overthinking ketika melakoni pertandingan penting.

Melawan Liverpool pada perempat-final dua tahun lalu, Guardiola mencoba memasukkan satu gelandang di lapangan dengan maksud agar timnya punya kontrol lebih baik sekaligus untuk membendung serangan kilat pasukan Jurgen Klopp. Namun, taktik itu gagal.

Di musim ini, Guardiola membuat keputusan tak lazim dengan tidak memasang striker ketika bertandang ke Santiago Bernabeu, Februari lalu. Untungnya keputusan penuh risiko itu bekerja cukup baik. City mendominasi laga dan mengklaim kemenangan 2-1.

Guardiola punya waktu lima bulan untuk mempersiapkan pertemuan kedua melawan Madrid. Namun, Guardiola tetap harus waspada karena Los Blancos kini telah bertransformasi secara apik di periode kedua bersama Zidane. Gelar juara La Liga jadi bukti yang tak terbantahkan.

"Seringkali manajer punya banyak rencana yang mendetail dan taktik khusus, tapi semuanya akan berubah tergantung bagaimana jalannya sebuah pertandingan. Kami ingin memainkan filosofi bermain kami, entah itu kami harus bertahan atau mengontrol laga. Kami ingin fokus kepada area tertentu di mana kami bisa melukai Real Madrid."

Atmosfer pertandingan nanti bakal terasa minimalis karena 55 ribu penonton absen di Etihad akibat pembatasan Covid-19. Dengan demikian, taktik tentu akan menjadi lebih penting di laga ini. Guardiola punya kesempatan sekali lagi untuk membuktikan diri di ajang ini.