Hanya beberapa jam sebelum pertandingan antara Italia dan Belgia di Euro U-21 2019 di Reggio Emilia, Moise Kean memposting video di Instagram yang menampilkannya menyanyikan chorus lagu Benji & Fede 'Dove e Quando'.
"Katakan pada saya di mana dan kapan," bunyi lirik lagu tersebut, "malam ini saya tidak akan pulang terlambat, dan saya tidak punya alasan bodoh lagi."
Unggahan itu kemudian dengan cepat dihapus setelah Kean dan teman baiknya, Nicolo Zaniolo datang terlambat untuk rapat tim. Kean, dengan demikian, menghabiskan keseluruhan dari apa yang sebelumnya ia gambarkan sebagai "salah satu pertandingan terbesar dalam kariernya" di bangku cadangan.
Episode itu cukup mendeskripsikan Kean waktu itu: pribadi yang cerah, menarik, menyenangkan dengan sedikit keusilan, namun tetap membuat frustrasi karena tidak profesional.
Tentu saja, ia masih berusia 19 tahun saat itu dan tidak mudah untuk tumbuh dalam sorotan media yang begitu intens.
Kean, ingat, tidak hanya dipandang sebagai solusi lini depan Italia yang tidak tajam sejak lama ketika ia berhasil menembus skuad Juventus pada usia 16 tahun, ia juga menjadi contoh bagi generasi baru Italia: muda, berkulit gelap, dan penuh ambisi.
Setelah menjadi pencetak gol termuda kedua Italia dengan golnya dalam kemenangan 2-0 atas Finlandia pada Maret 2019, ia berbicara tentang kekhawatirannya akan kebijakan anti-imigrasi dalam politik Italia dengan menyatakan: "Maaf, tapi kita semua di negara yang sama dan jika kita tinggal di sini, kita harus diperlakukan sebagai orang Italia."
Hari berikutnya, halaman depan Gazzetta dello Sport dengan bangga menyatakan: "Yes we Kean! [pelesetan dari 'Yes we can' atau artinya kita bisa]."
Kurang dari seminggu kemudian, setelah dilecehkan secara rasial dalam laga Serie A antara Juventus dan Cagliari di Sardegna Arena, Kean merayakan golnya pada menit akhir permainan dengan berdiri diam di depan Curva Nord, dengan tangan terentang, dan tatapannya tertuju pada orang-orang yang membuatnya menjadi sasaran nyanyian monyet dan ejekan keji.
Itu adalah sikap yang luar biasa. Seperti yang dikatakan oleh rekan setimnya di Juventus, Giorgio Chiellini, "Moise adalah wajah yang baik untuk Italia, simbol kelahiran kembali gerakan kami."
Getty/GoalSang bek tentu saja benar, namun masih ada beban berat yang harus dipikul oleh seorang pemuda seperti Kean.
"[Kami] seharusnya tidak terlalu membebani Kean," kata pelatih Italia Roberto Mancini kepada wartawan saat itu. "Ia tidak bisa menyelesaikan semua masalah kami sendirian."
Memang, Kean, seperti remaja lainnya, memiliki masalahnya sendiri untuk diselesaikan. Ia, seperti yang diakuinya dengan terbuka beberapa kali, dirinya sedikit tempramental sebagai seorang remaja.
Tidak ada yang salah dengan karakter atau permainannya, tapi ia memiliki kecenderungan untuk membuat dirinya sendiri dalam masalah yang sebenarnya bisa dihindari.
Misalnya, ketika Mancini pergi menonton Kean bermain untuk Italia U-21 melawan Republik Irlandia di Dublin pada Oktober 2019, hanya beberapa bulan setelah kesalahan langkahnya di Euro, sang striker mendapat kartu merah karena duel yang tidak berbahaya namun sia-sia dengan Troy Parrott, kurang dari 20 menit setelah masuk dari bangku cadangan.
"Moise selalu terlibat [dalam pelanggaran]," keluh bos Azzurri. "Ia harus lebih berhati-hati."
Tentu saja, Kean saat itu sedang berjuang menemukan tempatnya di Everton; transfernya ke Liga Primer Inggris sama sekali tidak berjalan sesuai rencana.
Ia sebenarnya tidak ingin meninggalkan Juventus, tapi tawaran sebesar €27,5 juta dari Everton terlalu sayang untuk ditolak, mengingat lini depan klub sudah dihuni deretan penyerang hebat seperti Cristiano Ronaldo dan Paulo Dybala.
Pindah ke Everton juga merupakan pilihan yang buruk. Manajer saat itu, Marco Silva tidak meminta pembelian Kean dan ia juga bukan menjadi target transfer direktur sepakbola mereka, Marcel Brands. Agen Mino Raiola adalah pihak yang mendorong transfer tersebut agar terwujud.
Kean hanya mencetak dua gol dalam 33 penampilan di semua kompetisi untuk Everton, dengan titik terendahnya di Merseyside tiba di Old Trafford pada Desember 2019, ketika ia ditarik keluar oleh bos sementara Duncan Ferguson hanya 18 menit setelah masuk sebagai pemain pengganti.
Membuat keputusan semacam itu, tentu saja merupakan hak prerogatif Duncan, namun jelas Kean tidak pantas diperlakukan seperti itu bahkan sang pemain tidak diacuhkan oleh manajer asal Skotlandia itu saat berjalan ke luar lapangan.
Getty/GoalTidak dapat disangkal, bahwa Kean tidak sanggup mengangkat dirinya sendiri di Everton. Hanya sebulan sebelum dirinya diperlakukan buruk oleh manajernya di Old Trafford, namanya dicoret dari skuad untuk pertandingan melawan Southampton setelah absen dalam rapat tim untuk kedua kalinya.
Namun, transfernya musim lalu sebagai pemain pinjaman ke Paris Saint-Germain mengubah sesuatu dalam diri Kean.
"Saya suka menjalani kehidupan anak seusia saya tetapi sekarang saya berada di tim dengan orang-orang hebat yang memiliki keluarga, saya harus seperti mereka," jelasnya pada April lalu. "Sepakbola telah membantu saya menjadi pribadi dewasa. Saya meninggalkan rumah lebih awal dan perlahan tapi pasti saya menjadi lebih bertanggung jawab."
Juve masih memiliki keraguan yang tersisa, sebelum membawanya kembali ke Turin sebelum penutupan jendela transfer musim panas ini.
Kean cemerlang selama berada di Parc des Princes, dengan pendekatan yang lebih profesional ia mampu membukukan 13 gol dalam 26 penampilan di Ligue 1. Akan tetapi, sekembalinya ke Everton, pada Agustus lalu, ia malah menerima kartu merah sia-sia lainnya dalam pertandingan Piala Liga lawan Huddersfield Town.
Dengan kepergian Ronaldo, Juve perlu mendatangkan penyerang baru dan pelatih Massimiliano Allegri, yang memberi kesempatan debut bagi Kean, tetap percaya pada kualitas sang pemuda.
Tapi, sebelum memulangkannya, Chiellini diperintahkan untuk menelepon Kean untuk memastikan apakah ia benar-benar sudah dewasa. Untungnya, segala kekhawatiran dari kubu Juve dengan cepat sirna dan sepakat untuk merekrut kembali produk akademi mereka dengan transfer pinjaman senilai €7 juta plus kewajiban pembelian permanen dengan tambahan €28 juta.
Kean belum melakukan debut keduanya untuk Bianconeri. Tapi itu kemungkinan akan datang sebagai starter dalam pertandingan akbar Serie A, Sabtu (11/9) ini, kontra Napoli Stadio Diego Armando Maradona, dan Kean tampaknya tidak butuh waktu lama untuk mengingatkan kembali semua orang akan talentanya.
Pada Kamis (9/9) kemarin, saat lini depan Italia terkendala karena absennya beberapa pilar, Kean dipanggil kembali ke starting line-up setelah sepenuhnya absen dari skuad Mancini untuk Euro 2020, dan ia mencetak dua gol dalam kemenangan 5-0 atas Lithuania.
"Penting untuk kembali mengenakan seragam ini dan memberikan 100 persen untuk jersey ini, karena sangat berarti bagi saya setiap saat," kata Kean kepada RAI Sport setelah melakoni kualifikasi Piala Dunia 2022 di Reggio Emilia.
"Tidak mudah berada di rumah menonton Euro, tetapi saya selalu berada di depan televisi untuk menyemangati rekan satu tim saya. Mereka membawa pulang trofi untuk Italia dan itulah yang penting."
Namun, yang penting sekarang bagi Kean adalah bagaimana ia bisa melanjutkan irama positifnya, dari tanda-tanda awal yang menjanjikan selepas kepulangannya ke Juve.
"Semua tentang kerja keras, seberapa profesional saya melakukan pendekatan," imbuhnya. "Rekan-rekan setim saya di Juve memberi saya sambutan hangat, saya bekerja setiap hari dan kembali dengan target, mentalitas baru."
Sangat sedikit pemain yang mendapatkan kesempatan kedua untuk sukses di klub seperti Juventus tetapi ia selalu memiliki potensi untuk melakukan hal-hal hebat bagi klub, negara dan juga rekan-rekan senegaranya.
Sekarang, tampaknya ia telah kembali ke Turin dengan pandangan baru mengenai perjalanan kariernya.
Ia masih sangat muda, tentu saja. Akan ada kesalahan yang dilakukannya. Hanya saja jelas tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sebelumnya: Moise Kean sekarang menyadari bahwa sudah tidak ada lagi waktu baginya untuk melakukan hal-hal bodoh.
