Song Ui-young telah menjadi legenda hidup sepakbola Singapura, sejak ia berkarier di negara tetangga pada 2012, untuk membela Home United. Kala itu, Home United meminjamnya dari klub Korea Selatan, Suwon City.
Perjalanan kariernya mulus bersama Home United, dan secara personal rupanya Song pun merasa betah berada di Singapura. Hingga akhirnya, dia dikontrak secara permanen, dan tetap jadi bagian tim hingga saat ini.
Home United sudah berganti nama menjadi Lion City Sailors, dan Song tetap menjadi bagian penting dari klub tersebut. Pada 2018, ia merasakan pengalaman magis di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), saat jumpa Persija Jakarta.
Kedua tim dipertemukan di babak semi-final Piala AFC 2018 Zona Asia Tenggara. Home United secara mengejutkan mampu membuat Persija kalah, baik ketika bermain di Singapura (3-2), dan juga GBK (3-1).
Menantang Persija di GBK menjadi salah satu pertandingan yang paling diingat oleh Song sepanjang kariernya. Bagaimana tidak? Dirinya sampai sulit mendengar apa yang dikatakan rekannya, karena gemuruh dari Jakmania.
“Awalnya saya sangat gugup, jujur!” buka Song pada wawancaranya kepada Goal Singapura. “Tetapi pada saat yang sama, saya sangat bersemangat di lapangan. Ada enam puluh ribu suporter di sana yang menunjukkan dukungan kepada para pemain mereka – tanah terasa seperti berguncang," imbuhnya.
"Ketika Anda berteriak pada rekan satu tim Anda untuk memberikan informasi kepada mereka di lapangan, mereka tidak dapat mendengar dan ketika mereka berbicara atau berteriak kepada saya, saya tidak dapat mendengar sama sekali," jelasnya, seraya lega laga itu mampu dimenangkan Home United.
Goal IndonesiaPenampilan apik Song lantas membuat Persija kepincut, dan ingin merekrutnya sebagai pemain asing tim pada musim 2019. Negosiasi sudah dilakukan, dan kabarnya Persija sudah menawarkan gaji senilai Rp300 juta per bulan. Tapi, Song punya rencana lain untuk hidupnya.
“Ya, periode itu saya benar-benar berjuang untuk mengambil keputusan apakah akan tinggal di Singapura atau pergi ke Indonesia. Itu adalah keputusan yang sulit, tetapi saya memutuskan untuk bertahan. Saya merasa senang," beber Song.
"Saya sangat senang tinggal di Singapura saat itu, dan saya juga sedang mengejar naturalisasi. Jadi saya merelakan tawaran itu begitu saja, dan memutuskan untuk tinggal di sini. Setelah saya membuat keputusan itu, saya mendapat beberapa pesan di Instagram dari fans Indonesia - saya takut. Mereka mengancam saya,” ungkapnya.
Song memang sangat berharap bisa terus berada di Singapura dan menjadi warga negara sana, ia merasakan bahwa Singapura sudah jadi rumahnya. Hal itu juga yang menjadikan Song tegas menolak tawaran menggiurkan dari Persija.
“Saya sudah di sini selama sepuluh tahun, dan saya telah menghabiskan waktu yang sangat lama di Singapura. Jadi, saya tidak tahu. Cukup sulit untuk memilih kata-kata tetapi perasaan itu wajar saja.”
KallangRoar.com

