Pemerintah Britania Raya tengah melakukan investigasi soal klaim yang menyebutkan bahwa aksi kerusuhan hooligans Rusia di Euro 2016 ada kaitannya dengan Kremlin sekaligus presiden Rusia, Vladimir Putin.
Salah satunya adalah laman The Observer yang melaporkan sejumlah suporter fanatik Rusia yang bertindak bak preman kala menyerang pendukung Inggris di Marseille dan Lille merupakan 'kelompok berseragam' di negara mereka.
Teori tersebut mulai diselidiki Whitehall -- pusat pemerintah Britania Raya -- yang mulai menduga aksi brutal hooligans di Prancis sebagai bentuk dari politik peperangan yang dilancarkan Rusia, dengan adanya tuduhan Putin berusaha untuk unjuk kekuatan negaranya.
"Memang masih sulit untuk dibuktikan bahwa kekerasan yang terjadi ada hubungannya dengan Kremlin, tapi bisa kita lihat sejumlah suporter mereka merupakan anggota berseragam di Rusia. Itu tampak seperti politik peperangan yang diterapkan Putin," ujar salah seorang sumber Whitehall yang tak dipublikasikan namanya kepada The Observer.
Kecuriaan yang ada diyakini menguat terutama setelah munculnya komentar dari salah satu tokoh politik senior Rusia, Igor Lebedev yang sebelumnya terang-terangan menyatakan dukungan terhadap hooliganisme.
"Saya tak melihat ada hal yang salah dengan pertarungan antarsuporter. Justru sebaliknya: kerja baik semuanya, pertahankan!" demikian ujar Lebedev beberapa waktu lalu.
Sementara Putin sendiri juga tak ketinggalan untuk bersuara, kendati mengecam aksi brutan pra hooligans, ia menambahkan: "Saya benar-benar tak paham, bagaimana bisa 200 suporter kami mampu membuat pendukung Inggris kocar-kacir."
UEFA telah bereaksi keras dengan menjatuhkan denda sebesar €150,000 pada Rusia dan mengeluarkan ancaman diskualifikasi dari Euro tahun ini apabila aksi brutal pendukung garis keras mereka terulang kembali.


