Afghanistan terancam menurunkan pemain lapis kedua di laga perdana Grup A kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan tuan rumah Qatar pada 16 November setelah skuad utama mereka melakukan aksi mogok.
Sedikitnya ada 18 pemain yang akan melakukan aksi mogok. Rencana tersebut sudah disampaikan melalui surat, yang ditandatangi tiga kapten saat mengalahkan Mongolia di putaran pertama Oktober lalu, kepada FIFA dan konfederasi sepakbola Asia (AFC).
Ketika menghadapi Mongolia di leg pertama, Farshad Noor menjabat sebagai kapten tim. Sedangkan dalam pertemuan kedua, giliran Faysal Shayesteh yang memimpin rekan-rekannya di atas lapangan. Mereka menuntut perombakan pengurus di federasi sepakbola Afghanistan (AFF).
“Kesulitan terakhir terjadi di kamp terakhir ketika sebagian besar dari kami memutuskan sudah merasa cukup. 18 pemain berkumpul dan berkata: 'Jika kami ingin maju, kami harus menghentikan ini',” kata Noor Husin dikutip laman Guardian.
“Kami sangat menginginkan perubahan. Kami ingin membantu pemain dalam negeri, karena uang yang mereka peroleh dari FIFA tidak digunakan dengan benar. Kami memiliki penerbangan terburuk dan kami harus menginap di hotel di bawah standar.”
AFF“Kami berkumpul sebagai sebuah kelompok, karena kami ingin sepak bola di Afganistan maju. Kami percaya hal itu tidak akan terwujud jika masih ada orang-orang seperti sekarang yang memimpin [federasi].”
Saat ini Afghanistan sedang melakukan seleksi pemain yang berasal dari klub lokal. Sedangkan mereka yang merumput di luar negeri akan bergabung dengan tim di Qatar.
Selain itu, para pemain juga mempertanyakan pemangkasan bonus atas keberhasilan mereka lolos ke fase grup. Para Pemain hanya menerima setengah dari US$30.000, karena sisanya sudah dibagi-bagi di antara anggota komite eksekutif (Exco) AFF.
Sekjen AFF Behram Siddiqui menampik semua tuduhan tersebut. Menurut Siddiqui, pemangkasan bonus itu bukan untuk diberikan kepada anggota Exco, melainkan biaya penginapan tim selama pemusatan latihan (TC).
“Itu untuk menutupi pengeluaran tim nasional kami selama kamp pelatihan, karena kami tidak memiliki uang di rekening bank kami selama sepuluh bulan terakhir,” tegas Siddiqui.
“Sejak peralihan kepengurusan pada Agustus 2021, tidak ada dana dari FIFA atau sumber eksternal apa pun ke rekening bank federasi. Karena itu, tindakan apa pun sebelumnya mengenai masalah ini tidak sepengetahuan saya.”
