Situasi tidak kondusif muncul di Sabah FC menjelang pertandingan lanjutan Malaysia Super League (MSL) melawan Penang FC, Minggu (11/4). Hal ini disebabkan pemain belum menerima gaji selama tiga bulan.
Krisis finansial yang dialami Sabah ini muncul setelah seluruh pemain meninggalkan sesi latihan tim di Kota Kinabalu kemarin sore. Pemain hanya berkumpul sekitar setengah jam di lapangan, dan selanjutnya pulang ke rumah masing-masing.
Aksi ini sebagai wujud protes pemain yang belum menerima gaji mereka. Bukan itu saja. Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto beserta stafnya bahkan belum menerima gaji yang tertunggak lebih lama, empat bulan. Padahal, skuad Sabah direncanakan bertolak ke kandang Penang hari ini.
“Pemain memboikot latihan. [Jadwal latihan] Dimulai pukul 4 sore (17:00 WIB), berkumpul, [lalu] pulang ke rumah pukul 4:40 sore. Tiga bulan tidak digaji?” demikian cuitan di akun Twitter suporter Sabah, SabahRhinos, yang memperlihatkan foto pemain meninggalkan lapangan.
“Pemain tiga bulan [belum digaji], dan staf pelatih empat bulan? Apakah mereka melakukan pekerjaan amal? Papan [iklan] LED baru, ruang ganti dirapikan, bagian luar bagus, kursi di bangku cadangan diganti, tetapi gaji tiga bulan pemain tidak dibayar. Bagaimana bisa?”
Sports RegimeKondisi ini tentunya menampar persepakbolaan Malaysia. Pasalnya, seluruh klub diwajibkan mengalih status mereka ke profesional, karena sebelumnya berada di bawah naungan masing-masing negara bagian.
Sabah, yang diperkuat winger asal Indonesia Saddil Ramdani, menjadi tim kelima Malaysia yang bermasalah dengan pembayaran gaji pemain setelah sebelumnya Perak, Kedah, Melaka United dan Sarawak United. Hingga saat ini manajemen belum memberikan pernyataan resmi terkait situasi itu.
Sebelumnya, selepas digasak Johor Darul Takzim (JDT) 4-1 di Stadion Likas, pelaksana tugas presiden asosiasi sepakbola Sabah (SAFA) Datuk Seri Bung Moktar Radin meminta pemain agar memperlihatkan komitmen untuk memeragakan permainan terbaik semaksimal mungkin.
Permintaan itu disampaikan Moktar setelah Sabah mendapatkan hasil tidak bagus tujuh pertandingan, yakni satu kemenangan, dua imbang, serta empat kekalahan, sehingga berada di peringkat sepuluh, atau satu tangga di atas zona degradasi.
“Saya menginginkan pemain menunjukkan semangat juang tinggi, sehingga bisa lebih meyakinkan di atas lapangan. Mempunyai semangat juang sangat penting di tiap pertandingan. Saya tahu pemain sudah maksimal mencurahkan tenaga, tapi yang dibutuhkan sekarang adalah kemampuan terbaik secara maksimal,” tutur Moktar.




