Pelatih Arema FC Javier Rocha menyatakan, sejumlah penggawa Singo Edan masih terpengaruh dengan tragedi Kanjuruhan, sehingga belum bisa menjalani latihan dengan baik.
Arema telah memulai latihan sejak, Jumat (21/10), selepas tragedi yang memakan korban jiwa 134 orang, serta ratusan lainnya mendapat perawatan di rumah sakit pada awal bulan ini.
Roca mengatakan, meski lanjutan Liga 1 belum ada kejelasan, mereka tetap harus mempersiapkan diri hingga otoritas terkait memastikan keberlangsungan kompetisi, sehingga mereka tidak tertinggal.
Juru taktik asal Cile ini mengungkapkan, latihan tim belum menyentuh ke hal spesifik, karena para pemain masih diliputi kesedihan. Menurut Roca, bukan hanya pemain yang masih terpengaruh dengan tragedi itu, tetapi juga dirinya.
“Kondisi saya baik-baik saja. Saya bukan orang kuat, tapi saya harus bertanggung jawab kepada pemain. Mungkin akan kedengaran terlalu dingin, tapi kami harus tetap berjalan pelan-pelan, dengan sedih, dengan luka di hati,” jelas Roca dikutip laman Antara.
Mengenai keputusan komite disiplin (Komdis) PSSI yang mengharuskan Arema menjalankan laga kandang berjarak 120 kilometer dari Malang, Roca menyebutkan hal itu menjadi pukulan telak bagi pemain.
“Ada kejadian itu (tragedi Kanjuruhan) kami terpukul. Setelah itu ada sanksi, terpukul lagi. Artinya mereka hampir 1,5 putaran main di lapangan netral, dan tidak dengan penonton sendiri,” ucap Roca.
“Semoga pengalaman itu, yang kemarin kami nilai buruk, tahun ini bisa menjadi pengalaman yang berharga. Semoga tidak terlalu sulit, dan tidak terlalu kaget.”
Roca menambahkan, dalam latihan perdana ini pascatragedi, pemain belum sepenuhnya mengikuti dengan baik. Beberapa di antara mereka masih diliputi kesedihan, sehingga tidak fokus.
Pada latihan pascatragedi, penggawa Arema didampingi psikolog agar mereka bisa melalui masa sulit. Pendampingan psikolog ini diharapkan bisa membuat pemain kembali beraktivitas secara normal.
“Tim kami memberikan stabilisasi emosi dengan tujuan agar mereka tetap bisa dapat beraktivitas, melakukan aktivitas rutin, dan menjalani latihan. Ini dilakukan selama dua minggu, dan akan berlanjut sesuai dengan kebutuhan,” jelas salah satu psikolog tim, Dian Wisnuwardhani.


