Kemampuan pemain muda Tanah Air mendapat pujian dari empat legenda sepakbola dunia yakni Juan Sebastian Veron, Roberto Carlos, Eric Abidal, dan Giorgos Karagounis. Mereka sepakat Indonesia punya pesepakbola yang bertalenta.
Oleh karena itu, para pemain muda Indonesia jangan berpuas diri bermain di kompetisi dalam negeri saja. Mereka mesti berani terbang ke negara lain untuk mengembangkan kariernya.
"Mereka sangat bagus. Pemain muda Indonesia berbakat dan mereka telah membuktikannya. Pemain Indonesia jelas memiliki kualitas," ucap Karagounis usai menjadi pelatih tim dalam Fourfeo Mini Tournament di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Kamis (1/6).
Kapten Yunani saat mengalahkan Portugal tahun 2004 tersebut meyakini pemain muda Indonesia bisa menembus kompetisi Eropa. Hanya saja, mereka wajib mengasah kemampuannya.
"Mereka bisa bermain di Eropa jika mereka mampu membuktikan diri mereka. Jika kamu percaya pada dirimu, berani mencapai mimpi, dan jika federasi mampu memberikan dukungan kepada para pemain, tentu mereka bisa bermain di Eropa," ujarnya.
Pujian juga dilontarkan oleh mantan gelandang Manchester United dan Argentina, Veron. Bahkan ia menilai masa depan timnas Indonesia sangat cerah dengan pemain-pemain muda berbakat yang dilihatnya hari ini.
"Talenta muda yang dimiliki Indonesia cukup bagus. Saya melihat banyak talenta muda di seluruh dunia, termasuk di sini. Mereka mau bekerja keras, para pelatih juga bagus. Jadi timnas Indonesia punya masa depan yang baik," ucap Veron.
Veron dan Karagounis, bersama Carlos dan Abidal sama-sama mengikuti BRIMO Future Garuda hingga hari akhir, Kamis (1/6). Dalam Fourfeo Mini Tournament, keempatnya memimpin tim masing-masing yang diisi talenta muda pilihan berusia di bawah 16 tahun.
Selain itu, Veron, Carlos, Abidal, dan Karagounis juga satu lapangan bersama dengan direksi BRI serta pimpinan media. Veron bersama Carlos masuk tim putih yang diisi direksi BRI. Sementara Abidal dan Karagounis tergabung di tim rompi merah muda bersama pimpinan media. Hasilnya, tim rompi merah muda menang dengan skor 2-0. Salah satu golnya dicetak oleh Karagounis.
Sementara itu, pada berbagai kesempatan, ketua umum PSSI Erick Thohir mengatakan bahwa gemblengan dari para legenda dunia akan memupuk mental dan mimpi Garuda mendunia sejak dini.
"Kita ingin membangkitkan lagi semangat para atlet muda sepakbola Indonesia. Dari para legenda ini mereka belajar bahwa tidak ada yang tidak mungkin," kata Erick.
Erick menekankan, para legenda sepakbola dunia itu awalnya juga bukan siapa-siapa. Namun, mereka bisa menjadi legenda karena punya mimpi besar. "Dan mereka fight (berjuang keras) untuk mencapai mimpinya."
Sebagai contoh Erick menyebut Marco Materazzi mulai bermain sepakbola profesional pada usia 22 tahun. Meski tergolong telat, mantan bek Italia itu berhasil membawa negaranya menggondol Piala Dunia saat berumur 34 tahun.
Begitu pula Abidal. Walau divonis menderita kanker, mantan pemain timnas Prancis itu tidak menyerah bahkan membawa timnya menjadi juara.
Sementara Carlos serta Veron, kata Erick, berasal dari desa miskin di negaranya dan berhasil masuk ke klub besar dunia seperti Manchester United dan Real Madrid. Berkaca dari pengalaman itu, ia memotivasi pemain muda bahwa tidak ada yang tidak mungkin diraih.
“Indonesia selalu dibilang dengan negara sebesar ini underdog [tidak diunggulkan]. Inilah mentalitas yang kita harus bongkar di bangsa ini, terutama kalian timnas U-16, U-17 ke depan. Kalau kita punya mimpi, kita kerja keras, bisa," kata Erick.
Erick juga menyinggung bagaimana Yunani mengalahkan Portugal yang diperkuat Cristiano Ronaldo pada Piala Eropa 2004. "Artinya apa, kalau kalian serius bangun dari sekarang, kalian bisa [mengikuti jejak mereka]," tambah Erick kepada para pemain muda.
