Alejandro 'Papu' Gomez mengklaim dirinya meninggalkan Atalanta pada Januari lalu karena pelatih Gian Piero Gasperini mencoba untuk menyerangnya secara fisik di ruang ganti saat jeda laga Liga Champions lawan Midtjylland.
Tuduhan itu, yang belum pernah dilontarkan sebelumnya, menjadi penjelasan terkini mengapa pemain Argentina itu secara tiba-tiba pergi dari Atalanta, klub yang terang-terangan dicintainya.
Gomez mengatakan ia memohon kepada presiden klub Antonio Percassi untuk melepasnya ketika Gasperini menolak untuk meminta maaf kepadanya. Ia juga mengklaim Percassi tidak mengizinkannya untuk pindah ke klub Serie A lainnya, meski sebenarnya masih ingin bermain di Italia.
"Saya tidak mematuhinya dalam indikasi taktis," kata Gomez kepada surat kabar La Nacion tentang bagaimana kontroversi itu dimulai.
"Masih ada 10 menit tersisa sampai babak pertama selesai dan ia meminta saya bermain di kanan, sementara saya bermain sangat baik di kiri. Dan saya bilang tidak mau."
"Setelah melakukan itu di tengah permainan, di hadapan kamera ... tidak mengapa ia benar-benar marah. Saya sudah tahu bahwa di babak pertama ia akan mengeluarkan saya, dan memang dilakukannya."
"Tapi di ruang ganti saat turun minum, ia melampaui batas dan mencoba menyerang saya secara fisik [memukul]."
Gomez melanjutkan: "Ketika ada serangan fisik, itu sudah tidak bisa ditoleransi. Jadi saya meminta pertemuan dengan presiden klub, Antonio Percassi, dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak memiliki masalah untuk terus di klub, menerima bahwa saya salah: sebagai seorang kapten saya tidak berperilaku baik, saya telah menjadi contoh buruk karena tidak mematuhi pelatih."
"Tapi saya mengatakan kepada presiden bahwa saya membutuhkan permintaan maaf dari Gasperini."
Permintaan maaf itu tidak pernah datang, yang terjadi malah hubungan Gomez dengan klub harus berakhir.
"Keesokan harinya ada pertemuan seluruh anggota tim," katanya. "Saya meminta maaf kepada pelatih dan rekan-rekan setim saya atas apa yang terjadi. Dan saya tidak menerima permintaan maaf apa pun dari pelatih."
"Setelah beberapa hari saya berkomunikasi dengan presiden bahwa saya tidak ingin berada di Atalanta bekerja dengan Gasperini. Presiden mengatakan kepada saya bahwa tidak akan membiarkan saya pergi, tidak mau melepaskan saya. Tarik ulur dimulai dan akibatnya mereka memisahkan saya dari skuad dan kemudian hanya berlatih dengan tim cadangan."
"Itu buruk, setelah tujuh tahun mereka meninggalkan saya dalam situasi tidak jelas, setelah semua yang saya berikan kepada klub. Mereka berperilaku buruk. Presiden tidak punya nyali meminta pelatih untuk sekadar meminta maaf kepada saya. Itu adalah akhir dari segalanya."




