Moise Kean, Luka Jovic, Inggris & Para Pecundang Euro U-21 2019

Komentar()
Getty/Goal
Euro U-21 telah menampilkan banyak gol dan laga seru, tapi tak dapat disangkal bahwa terdapat tim, pelatih, dan pemain yang tampil mengecewakan.

OLEH  MARK DOYLE   PENYUSUN  M. RHEZA PRADITA

Euro U-21 2019 telah menjadi turnamen yang menyenangkan untuk ditonton. Mulai dari 80.000 lebih orang yang menyaksikan tuan rumah Italia beraksi, hingga legenda Rumania Gheorghe Hagi yang memimpin parade 5.000 penggemar Tricolorii dari pusat kota Cesena ke Stadio Dino Manuzzi.

Adapun dari dalam lapangan, sudah ada 64 gol yang tercipta hanya dalam 18 pertandingan sejauh ini, dengan rata-rata 3,6 gol per pertandingan. Ini benar-benar menjadi perayaan dari ‘The Beautiful Game’. Tak diragukan lagi, Euro U-21 telah memberi banyak momen menarik.

Namun, gelaran kali ini tetap tidak lepas dari kekecewaan dan kontroversi. Seiring berakhirnya penyisihan grup, Goal memilih sejumlah kekecewaan terbesar dari turnamen ini.
 


MOISE KEAN


Moise Kean Italy Spain Under 21

Hanya beberapa jam sebelum pertandingan yang harus dimenangkan Italia melawan Belgia di Reggio Emilia, Moise Kean mengunggah video di Instagram menyanyikan lirik lagu "Dove e Quando" karya Benji & Fede:

“Katakan di mana dan kapan, malam ini saya tidak akan datang terlambat, dan saya tidak punya alasan bodoh lagi, bahkan lalu lintas tidak jadi masalah.”

Unggahan tersebut dengan cepat dihapus setelah Kean, dan teman sekamarnya, Nicolo Zaniolo, datang terlambat dalam rapat timnas Italia.

Pelatih Luigi Di Biagio merespons insiden tersebut dengan mencadangkan Kean dan mencoret Zaniolo dari skuad. Padahal, 24 jam sebelumnya dalam jumpa pers, Kean menggambarkan bahwa duel kontra Belgia tersebut sebagai salah satu pertandingan terbesar dalam kariernya.

Kean tidak bermain satu menit pun. Tanpa dirinya, Italia berusaha mati-matian untuk menambah margin gol kemenangan hingga akhir pertandingan, demi meningkatkan peluang lolos ke semi-final sebagai runner-up terbaik.

Jangan salah paham, Kean seharusnya memang menjadi salah satu bintang di turnamen ini. Dia berada dalam performa terbaik, mencetak tujuh gol bagi Juventus musim lalu, dan berada dalam kondisi bugar, setelah hanya bermain 664 menit di klub. 

Namun, dia hanya bertahan 60 menit di lapangan saat Italia menang 3-1 atas Spanyol, dan tidak dapat memberi pengaruh besar saat turun dari bangku cadangan dalam kekalahan krusial 1-0 melawan Polandia.

Ulah Kean di luar lapangan sungguh mengecewakan. Di Biagio, yang sakit hati, menyatakan dalam konferensi pers seusai laga kontra Belgia bahwa pelanggaran peraturan pada hari itu bukan yang pertama bagi Kean.

Dia masih sangat muda, dan diharapkan bisa mengambil banyak pelajaran dari turnamen ini. Dia akan memiliki banyak waktu untuk merenungkan sikap disiplinnya yang buruk, karena Roberto Mancini siap mengikuti langkah Di Biagio untuk mencoret Kean dari skuad untuk kualifikasi Euro 2020.

Di mana, dan kapan kita akan melihat Kean kembali mengenakan jersey Italia sejauh ini belum jelas.
 


INGGRIS


england u21 foden maddison

Banyak kesalahan yang sekarang ditujukan pada Aidy Boothroyd setelah Inggris besutannya tersingkir pada putaran pertama secara memalukan di Italia. Akan tetapi, jangan ragukan soal kejujurannya. Dia secara mengagumkan bersikap terbuka dan jujur kepada wartawan, dan tidak pernah kehilangan muka meski terus mendapat tekanan.

Namun, mungkin Boothroyd telah berbohong mengenai beberapa hal.

Beberapa awak media Inggris yang sinis tidak percaya ketika sang pelatih menjelaskan Phil Foden menderita cedera ringan, setelah secara mengejutkan memutuskan untuk mencadangkan pemain terbaiknya itu dalam laga yang harus dimenangkan melawan Rumania.

Dalam pembelaannya, Boothroyd mengklaim dirinya perlu mengatur menit bermain pemain berusia 19 tahun itu, yang hanya bermain 11 kali bagi Manchester City musim. Ia pun dicerca secara terbuka oleh pers.

Ada juga ketidakpercayaan lain ketika Boothroyd menyebut bahwa Aaron Wan-Bissaka, pencetak gol bunuh diri melawan Prancis, dicadangkan karena tidak bisa fokus akibat rumor kepindahan ke Manchester United. Wan-Bissaka tampaknya memang sudah disingkirkan olehnya.

Selain karena gagal menemukan formula terbaik di lini pertahanan -- Inggris kebobolan sembilan dalam tiga pertandingan -- Boothroyd juga dikritik karena memasukkan dua penyerang konvensional pada saat Inggris bermain dengan sepuluh pemain melawan Prancis. Padahal, saat itu Inggris butuh pemain yang bisa menguasai bola di lini tengah.

Meski begitu, Boothroyd masih berada dalam posisi yang kuat, karena baru saja menandatangani kontrak baru dua tahun sebelum Euro U-21. Dia juga menolak untuk disalahkan, dan merasa banyak pemain yang tampil tidak sesuai kapasitasnya.

“Ketika Anda melihat para pemain dengan kaliber seperti mereka membuat kesalahan, maka itu tidak masuk akal,” keluhnya setelah ditahan imbang 3-3 oleh Kroasia.

Namun, kini orang-orang bertanya apakah masuk akal untuk mempertahankan seorang pelatih yang telah membuat sejumlah keputusan membingungkan dan gagal mengatasi rasa percaya diri berlebihan yang tampak jelas pada para pemainnya.
 


LUKA JOVIC


Luka Jovic Serbia

Sebelum bergabung dengan Real Madrid pada awal Juni lalu, Luka Jovic memiliki sekitar 470 ribu pengikut di Instagram. Pada saat artikel ini ditulis, dia memiliki hampir empat kali lipat dari jumlah tersebut (1,7 juta). Penggemar Madrid sekarang memperhatikan setiap gerak-geriknya, tapi yang dia dapat selama Euro U-21 hanyalah kekecewaan.

Serbia menjadi salah tim yang paling buruk di turnamen itu. Legenda Rade Bogdanovic bahkan meminta setiap anggota skuad dipaksa melakukan satu tahun wajib militer untuk belajar disiplin, setelah hanya mencetak satu gol, dan kalah di semua laga fase grup.

Sebagai tambahan, perlu diingat bahwa mereka tidak akan bisa melaju sejauh ini tanpa Jovic, yang mencetak tujuh gol selama kualifikasi. 

“Saya tidak bermain sebaik yang saya bisa,” aku Jovic. “Namun sejumlah pertandingan di sini tidak akan menghapus begitu saja semua yang telah saya tampilkan di musim lalu.”

Apa yang dikatakannya benar, tetapi Jovic membuat Madridista menjadi ragu terhadap banderol €70 juta yang ditebus Los Blancos dari Eintracht Frankfurt di musim panas ini.

Dalam dua penampilan di Italia, dia tidak mencatatkan satu pun gol atau assist. Jovic gagal menyelesaikan satu pun dribel dan hanya berhasil membuat satu tembakan ke gawang dari lima percobaan. Dari sudut pandang mana pun, dia seperti tidak pantas untuk merebut posisi nomor sembilan dari Karim Benzema.

Tentu saja, orang-orang dapat beralasan bahwa Jovic merasakan ketegangan secara fisik dan mental. Dia menandatangani kontrak dengan salah satu klub terbesar di dunia dan baru saja menjalani musim gemilang lewat torehan 27 gol dalam 48 penampilan di semua kompetisi.

Dalam konteks tersebut, kelelahan adalah alasan yang benar-benar valid. Keliru jika menilai kemampuan seorang pemain berdasarkan satu turnamen yang buruk.

Namun, Euro U-21 dipastikan akan memadamkan sedikit antusiasme terhadap Jovic setelah membuat kesan pertama yang buruk terhadap banyak pengikut barunya.
 


LUIGI DI BIAGIO


Luigi Di Biagio Italy U21 Austria U21 friendly match

Dalam pengunduran dirinya sebagai pelatih Italia U-21 setelah enam tahun bertugas, Luigi Di Biagio menegaskan bahwa kegagalan timnya lolos dari fase grup Euro U-21 bukanlah faktor yang membuatnya mundur.

“Saya tetap akan pergi,” katanya kepada wartawan. “Saya tidak lagi merasa 100 persen termotivasi untuk melanjutkan. Mungkin ada peluang kecil untuk bertahan, tapi hanya sampai Olimpiade."

“Sebelumnya, klub-klub dari Serie A dan Serie B telah menawari saya pekerjaan. Namun saya selalu mengatakan tidak untuk menghormati FIGC. Kini, setelah berkembang di tempat ini selama bertahun-tahun, saya merasa siap untuk tantangan baru.”

Masalahnya, reputasi Di Biagio kini telah dirusak oleh penampilan mengecewakan bersama Azzurini. Para fans Italia pun melihat kepergiannya dengan senang hati.

Kegagalan tersebut sedikit banyak dipicu oleh kekalahan mengejutkan 1-0 dari Polandia, yang pada akhirnya membuat Italia kehilangan tempat di semi-final. Padahal sebelumnya mereka berhasil menang meyakinkan atas Spanyol di laga pembuka, menggambarkan bahwa mereka merupakan salah satu favorit di turnamen ini.

Apalagi Di Biagio diizinkan untuk membawa bintang-bintang senior seperti Moise Kean, Nicolo Zaniolo, Nicolo Barella, dan Federico Chiesa oleh pelatih Roberto Mancini. Di Biagio layak dipuji atas cara dia menangani Kean dan Zaniolo yang tidak disiplin, sementara Chiesa menjadi salah satu pemain terbaik selama fase grup.

Namun, kenangan yang akan selalu membekas dari turnamen ini bukanlah penampilan gemilang Chiesa, tetapi kesalahan yang dibuat Di Biagio dalam laga melawan Polandia. Malam itu di Bologna, taktiknya salah besar. Italia melakukan banyak umpan silang ke area penalti yang dipenuhi pemain-pemain jangkung Polandia.

Pendekatan naif semacam itu merugikan timnya, dan itu juga bisa membuat dirinya tak lagi dilirik oleh klub-klub Serie A – atau bahkan Serie B.
 


FORMAT KOMPETISI


European Championship U21

Ada dugaan Euro U-21 telah disisipi biscotto, istilah sepakbola Italia untuk menggambarkan dua tim yang "main mata" demi meraih hasil yang saling menguntungkan.

Rumania dan Prancis benar-benar melakukan hal itu. Kedua tim gagal melakukan satu tembakan pun ke gawang selama pertandingan, lantaran tahu bahwa keduanya hanya membutuhkan satu poin untuk lolos ke semi-final. Korbannya adalah tuan rumah Italia.

Italia pada akhirnya memang hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena harus bergantung pada hasil di tempat lain. Meski begitu, selalu ada peluang terjadinya biscotto di turnamen internasional.

Semua berawal dari kemenangan 1-0 Jerman Barat atas Austria pada Piala Dunia 1982 di Spanyol, yang dikenal sebagai "Aib Gijon" karena hasil tersebut membuat keduanya sama-sama lolos. Sejak itu, aturan diubah di mana dua pertandingan terakhir dalam grup wajib digelar pada saat yang sama.

Di satu sisi, aturan tersebut justru menjadi mimpi buruk bagi turnamen dengan format seperti Euro U-21, ketika hasil dari satu grup dapat mempengaruhi kelolosan tim dari grup lain.

Normalnya, hanya juara dan runner-up grup yang lolos ke babak berikutnya. Oleh karena itu, akan terasa seperti sebuah lelucon ketika ada turnamen yang menerapkan format peringkat ketiga terbaik dalam grup yang berisi empat tim. Copa America dan Piala Dunia Wanita musim panas ini telah membuktikannya.

Namun, ini bukan hal yang baru. Kesuksesan Portugal di Euro 2016 setelah gagal meraih satu kemenangan pun di fase grup adalah lelucon buruk. Format ini seperti memberi penghargaan kepada tim-tim medioker, hanya bertujuan memperpanjang durasi turnamen, dan pada akhirnya mengurangi kualitas sepakbola.

Akan tetapi, Euro U-21 malah menawarkan format yang lebih buruk. Turnamen ini diikuti 12 tim, dibagi menjadi tiga grup, dan hanya juara grup dan satu runner-up terbaik yang berhak lolos ke fase gugur.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Italia dan Denmark pun harus rela tersingkir meski keduanya finis di posisi kedua grup setelah memenangkan dua dari tiga pertandingan. Sudah seharusnya turnamen semacam ini memiliki jumlah peserta 4, 8, 16, atau 32 tim.

Untungnya, Euro U-21 berikutnya yang digelar di Hungaria dan Slovenia pada 2021 mendatang akan diikuti 16 tim. Kabar baik buat Italia dan Denmark.

 

Tutup