Berita Live Scores
Milan

'Tuhan Tulis Jalan Hidup Saya' - Kisah Junior Messias Si 'Kurir Paket' AC Milan

14.31 WIB 28/11/21
Junior Messias AC Milan 2021-22
Mukjizat tidak cuma datang kepada mereka yang punya iman, tapi juga yang mau bekerja keras, seperti inilah jalan hidup Messias.

Junior Messias selalu mengangkat tangan dan kepalanya ke langit setelah mencetak gol.

Iman, seperti yang dikatakan pemain Brasil itu sebelumnya, selalu menjadi pegangan penting dalam hidupnya.

Rabu dini hari adalah kisahnya. Setelah mencetak gol sundulan yang menjaga harapan AC Milan untuk melangkah jauh di Liga Champions tetap hidup, namanya ramai diperbincangkan karena latar belakang dirinya yang inspiratif.

Bagaimana lagi cara menjelaskan sebuah cerita tentang seorang mantan kurir yang menapaki karier dari bermain sepakbola semi-profesional di Serie D menjadi pahlawan kemenangan Milan atas Atletico Madrid di Wanda Metropolitano hanya dalam waktu tiga tahun? Anugerah yang luar biasa tentunya.

Ternyata banyak doa yang terkabul adalah suatu realitas. Bagaimana pun, ibu Messias adalah seorang penginjil yang taat dan selalu percaya bahwa Tuhan memiliki rencana untuk putranya, bahkan setelah Messias dilepas oleh Cruzeiro pada 2011.

"Saya pikir Tuhan mengubah rencana-Nya dan saya perlu melakukan sesuatu yang lain," kata Messias kepada Milan TV. "Pada usia 18 tahun, Anda biasanya sudah memiliki peta jalan untuk menjadi pesepakbola."

"Tapi ibu saya mengatakan kepada saya meski pun saya sudah tidak lagi percaya, saya akan menjadi pesepakbola di Eropa. Jadi, ibu saya sangat senang, karena Anda menyadari bahwa Tuhan itu ada."

Namun, cerita luar biasa Messias bukanlah sekadar keajaiban semata, tapi melainkan kisah inspiratif gabungan antara anugerah dan kesabaran, ketekunan serta kerja keras.

Saat ibunya tetap memiliki iman yang besar, ayahnya juga mengajarinya bahwa tidak ada yang memberinya apa pun secara cuma-cuma dalam hidup, segalanya harus diperjuangkan.

"Ayah saya tidak pernah meletakkan apa pun di tangan saya," jelasnya. "Ia biasa mengatakan kepada saya: 'Jika Anda menginginkan sesuatu, kejarlah'. Ia mengajari saya cara hidup, saya memperhatikannya, jadi saya belajar bekerja dengannya."

"Saya bisa sedikit melakukan segalanya. Saya bisa menyusun batu bata, saya bisa meningstalasi listrik, beberapa hal semacam itu."

Keterampilan inilah yang membantu Messias memenuhi kebutuhan hidupnya ketika ia pindah ke Italia pada 2011, saat berusia 20 tahun. Ia menerima pekerjaan sampingan apa pun yang ia bisa lakukan.

Ia tidak pernah berhenti bermain sepakbola namun, selama hari-hari awalnya di Piedmont, sepakbola hanya sebatas hobi yang ia mainkan selama akhir pekan.

Meski begitu, bakatnya tidak luput dari perhatian. Ia diundang untuk bermain bersama Sport Warique, sebuah tim yang dibentuk oleh imigran Peru.

Messias menjelaskan bahwa ia tidak bisa menerima tawaran itu karena takut akan mengganggu jam kerjanya, termasuk menjadi kuli bangunan waktu itu, tapi salah satu calon rekan satu timnya memberinya pekerjaan kurir barang untuk toko peralatan listrik.

Itu adalah momen penting dalam hidup Messias, karena saat bermain untuk Sport Warique, talentanya menarik perhatian mantan bek Torino, Ezio Rossi.

"Saya pergi menemuinya atas desakan pelatih saat saya membantu mereka saat itu," kata pelatih asal Italia itu kepada gianlucadimarzio.com.

"Saya langsung masuk ke lapangan di akhir pertandingan. Saya mengatakan kepadanya bahwa seseorang sepertinya tidak bisa cuma bermain di sini."

Jadi, ia mencarikannya sebuah klub, mengantarkan Messias untuk mendapat kontrak €1.500 sebulan dari Casale yang bermain di kasta kelima sepakbola Italia, yang memungkinkan pemain asal Brasil itu untuk kembali fokus meniti karier sebagai pesepakbola.

"Saya dulu selalu membawanya naik mobil ke pertandingan dari Torino dan ia mendominasi musim tersebut," kenang Rossi. "Ia mencetak lebih dari 20 gol dan ia menjadi penentu dalam kemenangan gelar liga mereka."

Performa bagus Messias membuatnya pindah ke tim lain di Piedmont, Chieri, di mana ia terus mencetak gol, sebelum direkrut oleh rival mereka di Serie D, Gozzano.

Catatan golnya mulai mengering pada saat itu, namun kualitas penampilannya tidaklah menurun, sehingga membukanya jalan pindah ke Crotone di Serie B pada 2019.

Sering ditempatkan sebagai penyerang sayap, Messias mencetak enam gol saat tim asal Calabria itu promosi ke kasta tertinggi di Italia musim berikutnya.

Hebatnya, ia bernasib lebih baik di Serie A, dengan torehan sembilan gol dalam 36 penampilan untuk tim yang pada akhirnya terdegradasi.

Meski begitu, tidak banyak yang menyangka bahwa ia bisa mewujudkan transfer ke San Siro pada musim panas kemarin.

Crotone ternyata juga tidak keberatan untuk melepasnya karena dua faktor.

Pertama, kesepakatan pinjaman €2,4 juta dengan opsi pembelian €5,6 juta, dirasa menguntungkan bagi Crotone. Kemudian, ada fakta bahwa presiden Crotone juga merupakan penggemar Milan.

Kendati begitu, negosiasi tidak lantas mulus dan berlangsung hingga tenggat bursa transfer.

"Saya tidak tidur, saya menunggu kabar," ungkap Messias. "Pukul dua pagi agen saya menelepon, lalu saya berbicara dengan presiden Crotone, [Paolo] Maldini dan [Frederic] Massara."

"Saya sangat senang ketika berita itu tiba."

Tiba-tiba, Messias, pada usia 30 tahun, mendapati dirinya berbagi ruang ganti dengan superstar seperti Zlatan Ibrahimovic.

Sayangnya, kiprah di Milan terhambat oleh cedera dan tidak bisa melakoni debutnya hingga Oktober, saat melawan Atalanta.

Kemudian, setelah lima menit tampil di Bergamo, ia mengalami cedera otot kedua yang membuatnya absen selama enam pekan lebih lama.

Messias mendapat waktu bermain lebih dari setengah jam sebagai pengganti saat melawan Fiorentina akhir pekan lalu, sebelum dimasukkan pada menit ke-65 dalam duel versus Atletico, ketika Milan sangat membutuhkan gol agar terhindar dari eliminasi di Eropa.

Messias muncul sebagai pahlawan saat laga menyisakan tiga menit, dengan tenang menanduk umpan silang Franck Kessie yang luar biasa untuk menandai debutnya di Liga Champions dengan gol kemenangan yang berharga.

"Saya merasa ingin menangis," katanya kepada awak media sesudah momen heroik tersebut. "Semua yang saya alami terlintas dalam pikiran saya. Itu adalah emosi murni."

Dan kisahnya indah untuk disimak. Tidak banyak cerita seperti Messias di panggung sepakbola modern sekarang ini.

Tapi lihat saja reaksi Ibrahimovic terhadap gol kemenangan Messias di Madrid. Pemain asal Swedia itu telah melihat dan melakukan semuanya dalam sepakbola, namun ia bahkan tidak bisa menahan senyumnya saat ia menyadari bahwa pemain berusia 30 tahun di Milan yang relatif tidak dikenal baru saja menyelamatkan harapan mereka di Liga Champions.

Itu adalah momen yang mengingatkan semua orang bahwa terkadang hal-hal baik datang kepada mereka yang tidak hanya menunggu, tapi juga mau bekerja keras.

"Ia anak yang baik dan jujur," kata Rossi. "Ia memiliki spiritual yang kuar: ia mengangkat tangannya ke langit ketika mencetak gol untuk berterima kasih kepada Yesus."

Dan, bahagianya, malam itu sepertinya bukan terakhir kalinya kita menyaksikan kisah hebat Messias karena mungkin masih banyak yang akan datang darinya dengan seragam Milan musim ini.

Seperti yang dikatakannya di Madrid, "Kisah hidup saya telah ditulis oleh Tuhan." Dan memang, masih akan ada babak berikutnya dalam hidupnya yang bisa menjadi inspirasi banyak orang.