Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali dinilai cocok menjabat wakil ketua umum PSSI periode 2023-2027. Hal itu tak lepas dari sepak terjangnya dalam membantu persepakbolaan Tanah Air.
PSSI bakal menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) untuk memilih pengurus baru pada 16 Februari mendatang. Sejauh ini belum ada yang mendaftarkan diri sebagai wakil ketua umum.
Semenjak dilantik Presiden RI Joko Widodo sebagai Menpora, Amali sudah menunjukkan kontribusi nyata untuk sepakbola Indonesia. Ia pun memegang peran penting kembali bergulirnya kompetisi di Tanah Air.
Sepakbola Indonesia sempat mati suri karena serangan pandemi virus corona pada 2020. Pemerintah melarang adanya pertandingan sehingga PSSI terpaksa menghentikan Liga 1 dan Liga 2.
Pada 2021 sepakbola nasional kembali bergeliat lewat hadirnya Piala Menpora. Ajang tersebut untuk menguji penerapan protokol kesehatan sebelum digelarnya Liga 1 dan Liga 2 di tengah pandemi virus corona.
"Sangat terlihat sepak terjang PSSI ketika Covid-19, namun akhirnya ada Zainudin Amali yang selalu muncul terdepan dalam melobi kepada kepolisian, Kemenkes, BNPB, dan Presiden Joko Widodo. Sehingga kompetisi dapat berjalan di era transisi pandemi Covid-19," kata Founder Football Institute, Budi Setiawan.
Bukan itu saja, Budi menyatakan Amali juga turut andil di belakang layar usai terjadinya tragedi Kanjuruhan. Ia menjalin komunikasi intensif dengan ketua Tim Gabungan Independen Pencari Fakta, Mahfud MD, hingga Kapolri.
"Melihat catatan kontribusi tersebut menurut Football Institute sudah lebih dari layak jika Zainudin Amali untuk menjadi waketum PSSI. Namun dengan catatan beliau memang bersedia," ucapnya.
"Jika pun seandainya beliau bersedia tentunya harus ada yang diantisipasi, misalnya nanti kan akan ada pertanyaan mengenai kepantasan, misalnya kok pak Zainudin Amali mau sih menurunkan kapasitasnya dari Menpora menjadi waketum PSSI. Menurut saya hal ini baru bisa terjawab jika memang beliau mengirimkan surat kesediaan tersebut." ia menambahkan.
Budi menyatakan saat ini sudah terjadi pergeseran paradigma di anggota PSSI. Turbulensi organisasi selama 10 tahun terakhir menunjukkan anggota federasi ingin kursi pimpinan, diisi pejabat eksekutif negara sekelas menteri yang merupakan orang-orang kepercayaan presiden.
"Menurut saya pergeseran paradigma ini bagus untuk organisasi PSSI ke depan agar lebih superior dan stabil ke depannya." ujarnya.
