Persija JuaraMedia Persija

Mengingat Masa-Masa Sulit Persija Jakarta

Persija Jakarta merupakan satu di antara klub Indonesia yang memiliki nama besar, dan didukung dengan suporter fanatik. Sejumlah gelar bergengsi sudah didapatkan mereka sejak berdiri pada 1928.

Bila merunut jauh ke belakang, total Persija sudah meraih 11 gelar di kompetisi Tanah Air, pada tiga era yang berbeda. Saat masa Hindia-Belanda, klub yang identik berwarna merah tersebut empat kali menjadi juara. 

Kemudian, saat kompetisi perserikatan dihelat, Persija lima kali juara. Lalu yang terakhir, klub asal ibu kota tersebut mampu mendapatkan dua gelar ketika kompetisi profesional berformat Liga Indonesia.

Persija JuaraMedia Persija

Catatan tersebut membuktikan bahwa Persija memiliki DNA juara. Namun, siapa yang sangka dengan torehan mentereng ini, mereka sempat beberapa kali melewati sulit, dan hampir terdegradasi.

Awan hitam pertama kali menyelimuti pada kompetisi perserikatan 1985/86. Ketika itu, Persija sangat terseok-seok sehingga harus berjuang keras agar tidak turun kasta.

Bahkan, Persija sampai memainkan babak play-off promosi-degradasi, di Stadion Bima Cirebon. Beruntung, mereka mampu menuai kemenangan sehingga tetap bertahan di strata teratas kompetisi. 

Sedekade setelahnya, atau tepatnya pada Liga Indonesia 1994/95, Persija kembali berkutat di papan bawah. Hingga akhirnya mereka menutup musim tersebut di posisi 13.

Musim itu semakin buruk akibat Persija mendapat hukuman pengurangan tiga poin. Sanksi tersebut dijatuhkan karena melakukan walk out saat pertandingan melawan Bandung Raya.

Semusim kemudian, Persija masih belum dapat menjauhi zona degradasi. Kekalahan demi kekalahan didapatkan setiap kali berhadapan dengan lawannya ketika laga tandang atau kandang.

Tapinya Persija tetap mampu mengorbit di level kompetisi teratas. Setelah pada akhir musim menduduki peringkat 14 atau hanya satu tingkat dari zona degradasi.

Kegelapan masih belum mau pergi dari Persija, musim 1996/97. Pada masa itu klub yang memiliki lambang Monas tersebut hanya mampu meraih empat kali kemenangan dari 20 pertandingan.

Persija menutup musim tersebut di posisi sepuluh, atau lagi-lagi satu strip dari zona degradasi. Sekadar informasi, kompetisi tersebut terbagi dalam tiga wilayah, yakni barat, tengah, dan timur.

Semenjak itu, Persija tidak lagi berkutat di papan bawah klasemen. Perbaikan dilakukan manajemen dengan mendatangkan para pemain baru dengan kualitas mumpuni agar mampu bersaing.

The JakmaniaGoal / Abi Yazid

Hanya saja, Persija tak mampu lama mempertahankan permainan stabilnya. Zona merah kembali menghantui Ismed Sofyan dan kawan-kawan pada kompetisi musim 2013, akibat adanya berbagai masalah.

Para pendukung Persija sempat risau karena pada putaran pertama tim kesayangannya menempati juru kunci klasemen. Untungnya, kesebelasan yang kala itu dilatih Benny Dolo mampu mengakhiri musim di posisi 11. 

Enam tahun berselang, performa Persija terjun bebas. Padahal semusim sebelumnya mereka mendapatkan tiga gelar bergengsi mulai dari Boost Sport Super Fix Cup, Piala Presiden, dan Liga 1.

Akan tetapi, Persija malah berkutat di papan bawah klasemen pada Liga 1 2019. Menghindari agar tidak degradasi, manajemen sampai harus bergonta-ganti pelatih sebanyak tiga kali.

Berawal dari Ivan Kolev, kemudian dilanjutkan Julio Banuelos, serta Edson Tavares. Nama terakhir yang akhirnya menyelamatkan Persija dari degradasi, dengan menutup musim di posisi sepuluh klasemen.

Iklan
0