Menebak Arah Real Madrid Bersama Santiago Solari

Footer Banner La Liga

Real Madrid akhirnya membuat keputusan berani dengan mempermanenkan Santiago Solari sebagai pelatih kepala. Mantan gelandang Madrid di era 2000-an awal ini resmi diikat kontrak berdurasi tiga tahun.

Empat kemenangan beruntun yang diraihnya dalam kapasitas sebagai pelatih interim sudah cukup untuk meyakinkan Florentino Perez dan direksi klub bahwa Solari-lah sang pengganti Julen Lopetegui, bukan Antonio Conte yang sempat santer diisukan bakal menduduki kursi panas Santiago Bernabeu.

Penunjukan Solari mau tak mau membawa kita kembali ke Januari 2015 ketika Madrid memecat Rafa Benitez dan menunjuk sosok legendaris tapi minim pengalaman melatih, Zinedine Zidane.

Kemiripan Solari dan Zidane tidak hanya sebatas pada fakta bahwa keduanya adalah mantan pemain yang membesut Madrid Castilla sebelum naik pangkat ke tim senior. Lebih dari itu, keduanya punya karisma yang jarang dimiliki pelatih lain.

Dalam sejumlah kesempatan, Solari sedikit banyak menunjukkan bahwa dirinya memiliki aura dan wibawa seperti Zidane. Gaya bicaranya lugas dan lurus, tak beda jauh dari Zidane. Ketika membahas pemain yang dipinggirkannya, seperti Keylor Navas dan Isco, ia tidak sungkan untuk memujinya secara terbuka.

Tidak seperti Lopetegui, Solari juga banyak tersenyum dalam jumpa pers maupun saat timnya berlatih dan bertanding. Ia tampak sangat yakin dengan dirinya sendiri. Sebagai sosok yang memenangi Liga Champions 2002 bersama Zidane, ia pun dengan mudah mendapat respek dari pemain.

Santiago Solari Real Madrid 2018-19

Kapten Sergio Ramos beberapa waktu lalu pernah berujar, "Anda tentu sudah tahu seperti apa tipe-tipe pelatih pemenang di klub ini. Manajemen di ruang ganti jauh lebih penting ketimbang pengetahuan taktik."

Apa yang dideskripsikan Ramos di atas sayangnya tidak dimiliki Benitez dan Lopetegui, dua pelatih yang punya otak sepakbola cemerlang. Benitez hanya bertahan setengah musim di Madrid, sementara Lopetegui bahkan cuma 14 pertandingan.

Solari sendiri memang belum teruji sepenuhnya. Mendengar namanya saja, kita bisa langsung menghakimi bahwa ia belum layak untuk melatih tim sebesar Madrid. Namun, buang jauh pemikiran seperti itu. Sejumlah revolusi kecil diam-diam sudah dihadirkan oleh pria Argentina ini.

Vinicius Junior yang tak pernah dipakai Lopetegui, mulai mencuat ke permukaan. Karim Benzema kembali dibuat produktif lewat empat gol yang dicetaknya sejak Solari datang. Lini belakang Los Blancos perlahan kembali kukuh seiring terciptanya tiga clean sheet dalam empat laga. Solari juga berani menyingkirkan sementara Isco, pemain kesayangan Lopetegui.

Karim Benzema Viktoria Plzen Real Madrid Champions League 07112018

Betul bahwa dalam empat pertandingan tersebut Solari cuma menghadapi lawan-lawan medioker. Namun awalan yang bagus ini setidaknya menjadi pertanda baik bahwa moral para pemain Madrid sudah pulih. Dan ketika keyakinan dan kepercayaan diri itu muncul, apa pun bisa terjadi. Siapa yang menduga Madrid mampu merajai Eropa tiga musim terakhir?

"Tidak ada yang mustahil dalam sepakbola, terlebih jika Anda berada di Real Madrid," kata Luka Modric selepas dinobatkan menjadi pemenang Goal 50 2018.

Satu hal yang mungkin akan mengganjal Solari adalah belum bisanya Madrid menambal lubang yang ditinggalkan Cristiano Ronaldo. Zidane beruntung punya Ronaldo di kantongnya sehingga ia bisa menciptakan sebuah era yang singkat tapi dikenang selamanya.

Walau demikian, dengan fondasi skuat yang relatif stabil dalam beberapa musim terakhir, kehilangan Ronaldo seharusnya bisa diatasi dengan menjaga kolektivitas tim. Itulah tugas utama Solari.

Tes pertama telah dilewati. Krisis di awal musim telah selesai. Kini, Solari harus siap memimpin Madrid mengarungi ujian-ujian berikutnya yang lebih berat dan menantang.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Goal Indonesia (@goalcomindonesia) on

Footer Banner La Liga