Berita Live Scores
Zlatan Ibrahimović

Menanti Rivalitas Sengit Giorgio Chiellini Vs Zlatan Ibrahimovic

10.48 WIB 17/06/16
Giorgio Chiellini Zlatan Ibrahimovic
Bentrok Italia kontra Swedia di Euro 2016 mungkin akan jadi akhir dari rivalitas sengit jawara kedua kubu, yakni Giorgio Chiellini dan Zlatan Ibrahimovic.

Segalanya bermula nyaris sedekade silam, ketika para petinggi Juventus mengumpulkan seluruh penggawanya yang tergabung dalam skuat utama musim 2005/06 di satu ruangan. Nuansa dalam ruangan tersebut sungguh negatif, penuh ketegangan, penuh teka-teki. Hal itu terjadi karena topik pembahasan kali ini tak seperti biasanya, yang membicarakan target masif musim depan.

Sebaliknya, pertemuan kali ini adalah momen krusial bagi klub untuk mengetahui siapa saja pemain yang ingin jadi loyalis atau justru ‘pengkhianat’. Maklum, saat itu Juve dipastikan akan berkompetisi di Serie B Italia pada musim berikutnya, menyusul vonis kasus calciopoli yang menempatkan mereka sebagai klub tersangka utama.

Satu per satu pemain maju guna memutuskan untuk bertahan atau pergi. Kelompok pemain loyalis dan yang tidak mulai terbagi. Salah satu sorotan utama kemudian terletak pada dua sosok bintang masa depan, yakni Giorgio Chiellini yang ketika itu berusia 21 tahun dan Zlatan Ibrahimovic yang tiga tahun lebih tua, karena masuk dalam kloter terakhir.

Chiellini secara mengejutkan memilih untuk bertahan karena merasa sudah jadi Juventino sejati, meski baru semusim bergabung. Sementara Ibra yang dalam dua musim terakhir menjelma jadi pujaan baru Juventini, berkeputusan sebaliknya. Alasannya sederhana dan sangat realistis bagi pemain seusianya; “saya butuh bermain di level tertinggi sepakbola!” ujarnya singkat kala itu.

Menyakitkan memang, tapi keputusan itu bisa sangat dimaklumi. Permasalahannya adalah beberapa hari usai membuat keputusan tersebut, Ibra memilih FC Internazionale sebagai pelabuhan barunya. Ya, rival abadi yang dianggap Juve sebagai biangkerok calciopoli sesungguhnya.

Segala amarah memuncak kala itu. Meski bintang lain macam Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, Gianluca Zambrotta, hingga Patrice Vieira (yang juga bergabung ke Inter) juga memutuskan pergi, Ibra dicap sebagai pengkhianat utama.

Fakta bahwa Juve sejatinya mengajukan kontrak baru yang bernilai jauh lebih besar pada Ibra, plus sang pemain yang memilih bermain playstation ketimbang menuruti perintah pelatih anyar, Didier Deschamps, untuk berlatih dan bermain di laga uji coba, benar-benar membuat murka Juventini.

Pengkhianatan macam itu jelas tak bisa dilupakan dalam waktu singkat. Juve hanya butuh semusim untuk promosi ke Serie A dan momen penghakiman pun tiba pada 4 November 2007, saat kali pertama Ibra kembali ke Turin dengan jersey Inter.

Tidak, Juventini tak menghukumnya dengan cara yang tak layak. Mereka menghukum sang mantan pujaan lewat jawara anyarnya yang punya jiwa Juventino sejati, siapa lagi jika bukan mantan rekan setim Ibra sendiri, yakni Chiellini.

Sepanjang 90 menit pertandingan, duel individual Ibra dan Chiello jadi pemandangan yang bahkan lebih menarik dari laga bertajuk Derby d’Italia itu.

Ibra sungguh dibuat frustrasi,  Chiello menekelnya dengan keras, menyikutnya secara telak, dan terus memprovokasinya. Ibrakadabra bahkan urung mementaskan sihirnya, karena tak sekalipun sanggup melepas tembakan tepat sasaran dalam laga yang berakhir imbang 1-1 tersebut.

“Chiello terus mencoba memprovokasi saya bahkan menekel saya dari belakang. Itu adalah hal yang dilakukan pengecut, ‘menusuk’ dari belakang. Rasanya sangat sakit, saya benar-benar kesakitan,” kenang Ibra, dalam buku otobiografinya “I Am Zlatan”.

Ibra begitu murka dan melancarkan balas dendam setelah laga berakhir. “Saya mendatanginya dan kemudian menyeret kepalanya selayaknya anj*ng yang tak patuh. Chiello ketakutan, saya bisa melihat wajahnya. ‘Kamu ingin bertarung dengan saya Chiello? Jadi mengapa kamu mengotori dirimu sendiri dengan hajatmu’. Saya murka, tapi saya langsung menuju ruang ganti,” kisahnya.

Sejak saat itu, rivalitas sengit di antara keduanya tak pernah gagal hadirkan drama, sekalipun Ibra berganti kostum AC Milan. Total, Chiellini dan Ibra sudah saling berhadapan di 10 pertandingan. Rekornya seimbang, dengan tiga kali menang dan empat kali seri. Namun satu catatan penting adalah sejak keduanya jadi musuh usai calciopoli, Chiellini tak pernah membiarkan Ibra mencetak satu gol pun!

Seiring berjalannya waktu, situasi pun jadi berbeda, sebagaimana kini keduanya justru saling mengagumi. Dalam buku otobiografinya “The Defender #SocialBiography", Chiellini menyebut Ibra sebagai pemain no. 9 terbaik yang pernah jadi rekan dan lawannya. “Ibrahimovic luar biasa. Jika saya bisa membeli tiga pemain untuk Juve, salah satunya pastilah Ibra,” tambahnya.

Beberapa tahun lalu Ibra pun mengungkap kekagumannya pada Chiellini. “Bagi saya Chiello adalah bek terkuat, paling kasar, dan pengawal terbaik yang pernah saya hadapi. Tapi saya suka Chiello. Dia loyal, dia kesatria sejati. Kami selalu menghadirkan duel yang indah,” ungkapnya.

Kini setelah duel Chiellini-Ibra absen hampir empat tahun lamanya, kita akhirnya bisa kembali menyaksikan betapa ketat dan sengitnya pertarungan mereka.  Ya, dengan panji negaranya masing-masing, Chiellini akan mewakili Italia hadapi Swedia yang dikapteni Ibra di Stadium Municipal Toulouse, pada matchday kedua Grup E Euro 2016.

Dipenuhi hasrat masing-masing, keduanya tentu siap hadirkan kembali peperangan klasik yang penuh drama layaknya di masa silam. Sekali lagi kita akan disuguhi salah satu rivaltas terbaik dalam sepakbola, yang mungkin bakal jadi suguhan pamungkas Chiellini dan Ibra menilik usia mereka yang tak lagi muda.