Hal yang ditakutkan pendukung Liverpool akhirnya terjadi pada Minggu (7/2) lalu.
Berminggu-minggu lamanya terlihat baik-baik saja tanpa kehadiran sosok protagonis di lini belakang, The Reds akhirnya kolaps yang berpuncak pada kekalahan brutal 4-1 dari Manchester City di Anfield.
Terlepas dari Alisson menjelma jadi Loris Karius di laga tersebut, kekalahan Liverpool dari City itu memang tak terelakkan. Selama hampir dua bulan terakhir, juara bertahan Liga Primer Inggris itu memasuki fase jeblok.
Kemenangan 7-0 di Selhurst Park pada 19 Desember lalu seperti sudah terasa jauh sekali. Sebab dalam 11 laga berikutnya, Jurgen Klopp dan pasukannya menelan lima kekalahan dan cuma tiga kali menang.
Kekalahan itu meliputi eliminasi di Piala FA oleh Manchester United, lalu takluk melawan tim-tim yang di hari biasa mereka libas: Southampton, Burnley, Brighton. Tiap kekalahan, tingkat kesakitannya terus bertambah.
Akhir pekan lalu, giliran Man City yang bukan hanya menambah garam pada luka Liverpool, tapi juga menghadirkan pukulan telak di wajah. Menghadapi City yang sedang berapi-api di semua lini, perlawanan Liverpool seperti minim arti.
Getty ImagesMelihat angka dan statistik, situasinya semakin pelik. Untuk pertama kalinya sejak 1963, Liverpool menelan tiga kekalahan beruntun di Anfield. Selain itu, Liverpool memiliki 27 poin lebih sedikit dari yang mereka koleksi di musim lalu setelah 23 pertandingan EPL.
Tak kalah brutalnya dari kekalahan itu adalah komentar Roy Keane. "Buat saya, mereka adalah bad champions," kata legenda Man United itu, yang kini menjadi pundit Sky Sports. "Anda adalah Liverpool FC. Terus saja tampil seperti itu dan Anda akan butuh 30 tahun lagi untuk memenangi titel lainnya."
Istilah bad champions atau juara yang buruk mungkin terasa berlebihan. Barangkali Keane memang suka meledek, sebuah hal yang lumrah dilakukannya, dengan mantan klubnya justru lebih sering jadi korban lidah tajamnya.
Yang jelas, penurunan performa Liverpool ini terjadi di saat yang salah. Mereka semakin tertinggal dari City dalam persaingan juara EPL dan kini tinggal tersisa harapan yang masih harus diperjuangkan: empat besar. "Ya, itulah target utama kami. Jelas," kata Klopp pascalaga.
Getty ImagesMelihat klasemen, Man United dan Leicester City bakal jadi pesaing utama, sementara sejumlah tim di bawah mereka terus menggedor pintu empat besar, di antaranya Chelsea yang tampak amat menjanjikan bersama bos baru Thomas Tuchel.
Dalam situasi seperti ini, Liverpool tentu saja tidak akan mendepak Klopp karena, well, mereka bukan Chelsea. Klopp-lah yang memberikan fondasi permainan Liverpool selama lima tahun terakhir. Tak ada manajer Liverpool lain di era EPL yang punya dampak lebih besar ketimbang pria nyentrik asal Jerman ini.
Oleh karena itu, lebih mudah untuk membayangkan Liverpool bangkit ketimbang terus terpuruk. Dua laga berikut bukan hanya menjadi ajang pembuktian bagi Klopp untuk mengembalikan tim ke jalur yang benar, tapi juga memiliki nilai yang krusial.
Ya, Liverpool akan bertandang ke Leicester pada Sabtu (13/2) besok. Tiga hari berselang, berlanjut dengan partai leg pertama babak 16 besar Liga Champions melawan tuan rumah RB Leipzig, yang bakal dialihkan ke Budapest, Hongaria karena aturan ketat Covid-19 di Jerman.
Goal IndonesiaAdalah tugas Klopp untuk menemukan jawaban dari tantangan ini. Tugas yang tidak sulit, tapi juga tidak mudah sebagaimana yang telah dilakukannya berkali-kali selama berkarya di Anfield.
Merevisi lini belakang jadi prioritas. Rekrutan Januari, Ozan Kabak dari Schalke dan Ben Davies dari Preston, memang tidak selevel Virgil van Dijk -- yang baru pulih April -- tapi keduanya layak dijajal.
Selanjutnya, memodifikasi lini tengah yang terlihat tidak beroperasi normal sejak kehadiran Thiago Alcantara. Terakhir, mengembalikan kepercayaan diri tim yang belakangan ini tercabik-cabik.
Masih ada 15 pertandingan tersisa di EPL dan kampanye fase gugur Liga Champions untuk dimainkan oleh Mohamed Salah dkk.
Jalan untuk mempertahankan gelar EPL mungkin telah pupus, tapi Liverpool masih punya cukup waktu untuk menyelamatkan musim mereka dan, tentu saja, membungkam mulut para pengkritik.
