Berita Live Scores
Piala Presiden

Memori Indah Singgih Pitono Jumpa Persebaya Surabaya

11.27 WIB 12/04/19
Aji Santoso & Singgih Pitono & Joko Susilo - Arema FC
Ucapan Bejo Sugiantoro yang menilai Singgih telah menghalanginya mendapatkan Rp20 juta menjadi momen indah.


LIPUTAN  ABI YAZID  DARI MALANG    Ikuti di twitter


Duel antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Jumat (12/4) malam WIB, di pertandingan leg kedua final Piala Presiden 2019 mengembalikan memori mengesankan Singgih Pitono.

Pemilik rekor gol terbanyak sepanjang masa Arema yang kini menjadi asisten pelatih Singo Edan itu terkenang laga pada 29 Maret 1995 pada Liga Indonesia edisi perdana yang menggabungkan Perserikatan dengan Galatama.

Saat itu Persebaya menyandang status sebagai tim yang belum pernah terkalahkan dalam 12 pertandingan. Sayang, Keinginan Singgih untuk bermain terganjal masalah pada jari kakinya.

“Yang saya ingat saat itu adalah tekad kami yang sangat luar biasa untuk memenangkan pertandingan melawan mereka. Sayangnya, jempol saya mengalami cedera,” kenang Singgih dalam bincang-bincangnya dengan Goal Indonesia.

“Tukang pijat [di masa itu belum ada dokter yang dikontrak] menyatakan, saya tidak bisa bermain. Saya pun kecewa. Padahal ini adalah pertandingan yang saya tunggu, karena mereka belum pernah kalah.”

Walaupun cedera jari kaki, pelatih Gusnul Yakin tetap memasukkan nama Singgih ke daftar susunan pemain. Dari situ, cerita ala anime Captain Tsubasa yang memaksakan tampil saat cedera terjadi.

“Saat pertandingan ada dokter yang bertugas. Saya minta dia untuk menyuntik obat pemati rasa di bagian jempol. Memang saat itu pelatih juga gundah, karena di tribune teriakan nama 'Singgih, Singgih, Singgih' begitu kencang ketika Arema kesulitan mencetak gol,” urai Singgih.

“Setelah disuntik saya sama sekali tidak mengalami rasa nyeri. Di lapangan ada situasi dari tendangan bebas, dan langsung saya tembak. Tapi bola bisa diblok kiper Hengky Kurniawan. Bola rebound langsung disambar Joko Susilo. Kami menang 1-0, dan Bejo Sugiantoro bilang kepada saya 'Wah gara-gara sampean, kita gagal dapat bonus 20 juta'. Momen yang begitu indah.”

“Namun penderitaan saya belum berakhir. Ketika pemati rasanya sudah hilang, jempol saya ini rasanya mau putus saja. Sakitnya tidak karuan. Beruntung tidak sampai terjadi amputasi.”

Cerita Singgih itu kemudian menjadi inspirasi Ahmad Nur Hardianto menghadapi Persebaya di Kanjuruhan pada 26 Oktober tahun lalu. Hardianto sejak awal musim beberapa kali terbelit masalah cedera.

Pelatih lalu memberikan dia kepercayaan, termasuk Singgih yang berpesan kepada dia untuk memberikan perbedaan. Hasilnya, Hardianto menjadi pahlawan kemenangan dengan gol yang dia buat pada menit ke-70.

“Hanya berada di situasi yang pas saja. Coach bilang langsung ditembak untuk membuka gol. Memang gol dari saya, tapi itu semangat tim ketika melawan Persebaya,” kata Hardianto.

Duel Arema melawan Persebaya di Malang sudah terjadi sepuluh kali dengan dua diantaranya diakhiri dengan hasil imbang. Skor 2-2 yang terjadi di leg pertama, membuka besar peluang Arema mereguk manisnya juara.

“Di Malang kami harus lebih konsentrasi, karena kami main di kandang sendiri. Kami akan berusaha memperkecil kesalahan. Laga final adalah pertandingan terakhir, tidak ada kesempatan lagi, sehingga kami harus kerja keras,” sambung Dendi Santoso. (gk-48)

 

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI
1. Michael Essien Bicara Perbedaan Sepakbola Indonesia & Eropa
2. Kalah Lawan Tottenham, Man City Masih Tim Kecil
3. Jakmania Panjat Pagar, AFC Denda Persija
4. Van Dijk: Kalau Tak Yakin Juara, Sebaiknya Di Rumah Saja!
5. CEO Arema: Terima Kasih Persebaya!
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia