Matteo Darmian InterGetty Images

Matteo Darmian Usung Misi Balas Dendam Lawan AC Milan

Bek Inter Milan Matteo Darmian mengusung misi balas dendam saat berjumpa dengan AC Milan, Senin (6/2) dini hari WIB atas kegagalan Nerazzurri menjuara Serie A pada musim lalu.

Inter sempat merasakan posisi puncak klasemen sebelum akhirnya Milan menyalip mereka pada Februari 2022. Sedangkan di musim ini, Inter menempati peringkat kedua, dan mempunyai selisih dua poin dari Milan yang berada di posisi kelima.

Menjelang Derby della Madonnina, Inter mempunyai modal kemenangan 3-0 di Piala Super Italia. Kemenangan atas Milan bisa membuat Inter makin memperlebar selisih poin tersebut, sekaligus tetap menjaga jarak dengan pemuncak klasemen Napoli.

Darmian, yang tampil sebagai bintang kemenangan 1-0 yang diperoleh Inter atas Atalanta di perempat-final Coppa Italia, Rabu (1/2) dini hari WIB, mengatakan, laga nanti menjadi momen balas dendam bagi Inter.

“Itu sulit, kami tidak mampu mempertahankan keunggulan [di musim 2021/22], dan sekarang kami ingin membalas dendam. Tidak hanya untuk pertandingan itu, tapi juga untuk pertandingan di Girone D'Andata. Kami ingin menebusnya,” tegas Darmian dalam wawancaranya dengan DAZN.

“Derbi selalu menjadi pertandingan spesial, pertandingan yang berbeda. Ini adalah tipe 'THE GAME'. Dilihat dari sudut pandang suporter, suasananya berbeda dan unik selama hari-hari sebelum pertandingan.”

Di lain sisi, Darmian merupakan produk akademi Milan, meski ia selalu mendukung Inter sejak masih kanak-kanak. Walau begitu, Darmian mengakui keberhasilannya menjadi pemain seperti sekarang tidak lepas dari ilmu yang diberikan mantan bek Milan Alessandro Nesta.

“Saya biasa menonton Gabriel Batistuta dan Rui Costa, tetapi saya tetap terikat dengan warna Nerazzurri saat tumbuh dewasa. Bermain untuk klub yang saya dukung sejak kecil itu fantastis, dan memberi saya motivasi ekstra untuk melakukannya dengan baik,” tutur Darmian.

“Saya ingat sebelum uji coba pertama bersama Milan, saya diminta mengisi survei, dan salah satu pertanyaannya adalah tentang pemain favorit saya.”

“Saya menulis Clarence Seedorf yang merupakan pemain Inter saat itu. Saya memulainya sebagai gelandang, tapi kemudian dipindah ke pertahanan, dan saya bisa belajar dari legenda seperti Alessandro Nesta.”

Iklan
0