Massimiliano Allegri kembali mendiskusikan gaya kepelatihannya bersama Juventus, di tengah derasnya kritikan yang menhampiri belakangan ini.
Gaya kepelatihan Allegri yang cenderung pragmatis mulai mendapat sorotan, dengan Bianconeri gagal memenuhi ambisi besar mereka dan jsutru tersingkir di perempat-final Liga Champions musim ini.
Dua laga terakhir di Serie A Italia berakhir dengan hasil imbang 1-1 lawan Inter Milan dan Torino. Beruntung kedua situasi itu tidak mengubah posisi mereka yang sudah menyegel Scudetto musim 2018/19.
Kepada Sky Sport Italia, setelah pekan lalu terlibat adu argumen dengan pandit Lele Adani, sang juru taktik berusia 51 tahun menekankan bahwa sepakbola itu mementingkan hasil ketimbang gaya permainan.
"Saya kecewa dengan apa yang terjadi pada Sabtu pekan lalu, tapi saya di sini untuk berbicara tentang apa yang terjadi di lapangan dan saya menekankan tidak semuanya harus disingkirkan," tegas Allegri.
"Orang-orang telah berbicara bertahun-tahun mengenai evolusi sepakbola, tapi saya tidak berpikir kami harus melempar bayi dengan air mandi dan melupakan segalanya yang telah diajarkan para pelatih di masa muda kami."
"Mempertahankan pekerjaan sebagai pelatih itu sulit, kami harus memahami berbagai momen dalam satu musim, bagaimana perasaan tim dan apa yang harus dilakukan. Jika tidak, maka akan mudah bagi siapa pun untuk bisa menjadi pelatih."
"Sepakbola bukanlah ilmu pasti. Jika tidak, Anda bisa menjelaskan mengapa kami punya 38 persen penguasaan bola lawan Real Madrid dan menang 3-1, tapi kami mendominasi lawan Ajax dan kalah. Saya tidak ingin para pelatih baru berkembang dan berpikir bisa membangun tim berdasarkan statistik, karena itu tidak selamanya membantu."
"Memang benar bahwa ada opini dan saya bisa dikritik, tapi saya masih percaya kami seharusnya menyatukan semua apa yang telah diajarkan di masa lalu dan semua yang menanti di masa depan. Para pemain adalah bintang, mereka memainkan pertandingan, dan kami para pelatih hanya bisa menaruh mereka dalam kondisi tepat untuk memberikan yang terbaik."
"Orang-orang mungkin mengkritik gaya sepakbola saya, tapi pekerjaan sebagai seorang pelatih adalah membawa pulang hasil bagi klubnya," tukasnya.



