Allegri Juventus Serie AGetty

Apa Yang Salah Dari Periode Kedua Massimiliano Allegri Di Juventus?

Juventus mengalami kekalahan terburuk dalam 17 tahun saat dikalahkan Chelsea empat gol tanpa balas di Liga Champions, tengah pekna lalu.

Imbas dari penampilan memalukan di London tersebut adalah rasa frustrasi yang berujung kekalahan kandang pertama Juve dari Atalanta dalam 32 tahun, empat hari berselang.

Kini, skuad arahan Max Allegri tercecer di urutan ketujuh klasemen sementara dengan koleksi 21 poin alias tujuh angka terpaut dari Atalanta di zona terakhir UCL.

Sebagian besar kesalahan dan pertanyaan tentu ditujukan kepada Allegri dan manajemen klub. Kualitas komposisi skuad memburuk selama lima tahun terakhir dan telah dibahas dalam banyak kesempatan.

Klub tampak kehilangan arah. Tidak hanya kebijakan di bursa transfer tapi juga dalam keputusan mereka seputar pemilihan staf pelatih.

Pemain yang didatangkan atau dijual, pelatih yang ditunjuk dan dipecat, semua tampak dilakukan tanpa pertimbangan atau rencana yang matang.

Tampak belum ada strategi untuk memperbaiki kesalahan. Semuanya ditangani secara sporadis. Persepsi dari luar adalah bahwa mereka yang memegang kendali tidak tahu harus mulai dari mana, mereka membiarkan masalah berjalan terlalu dalam.

Bahkan masalah datang lebih banyak pekan ini setelah presiden Andrea Agnelli telah diselidiki dengan direktur saat ini dan mantan direktur lainnya, termasuk Pavel Nedved dan Fabio Paratici, atas tuduhan skandal laporan keuangan palsu.

Setelah kekalahan melawan Atalanta, Allegri mengungkapkan bahwa Agnelli telah berbicara kepada tim di pagi hari dalam apa yang dia sebut sebagai 'pidato yang luar biasa.'

Agnelli telah melakukan keajaiban selama satu dekade terakhir, pengaruhnya telah menjadi faktor utama dalam kesuksesan Juve. Ia tidak pernah menyembunyikan ambisinya, dari stadion baru hingga perubahan logo dan dorongan besar dalam pemasaran global. Agnelli telah menjadi pembawa panji di balik gagasan menciptakan Liga Super Eropa, ia telah melakukan semua ini dengan Si Nyonya Tua di garis depan pemikirannya.

Cara berpikir Agnelli yang berani tidak terbatas pada masalah bisnis. Dia melakukan apa yang menurut banyak orang tidak mungkin. Ia mendatangkan Cristiano Ronaldo ke Serie A, ia menunjuk Allegri setelah legenda klub Antonio Conte meninggalkannya.

Kemudian dengan harapan untuk melanjutkan mimpinya membangun klub modern, ia menunjuk Maurizio Sarri dengan tujuan untuk mencocokkan tampilan baru Juve yang trendi di luar lapangan dengan gaya bermain yang ekspansif.

Setelah percobaan Sarri gagal, Agnelli menggantikannya dengan seorang debutan, Andrea Pirlo, yang membuat semua orang menggaruk-garuk kepala.

Andrea Pirlo Juventus Inter 15052021Getty

Mencoba untuk mengalihkan raksasa Turin dari tipe main pragmatis benar-benar tepat. Kita dapat mempertanyakan apakah presiden mempekerjakan ahli taktik yang tepat untuk memperkenalkan perubahan ini, tapi Agnelli sendiri tidak pernah memberikannya kesempatan.

Apakah Agnelli benar-benar mempercayai Pirlo? Pelatih tidak diberikan pemain untuk membuatnya bekerja. Pindah ke gaya main yang memiliki tekanan tinggi dan mengalir bebas akan membutuhkan waktu. Itu akan menjadi masalah dan kegagalan adalah bagian dari proses.

Setelah dua musim dan nyaris kehilangan spot Liga Champions, Agnelli panik dan menekan tombol ulang. Juventini sangat menyadari mengapa Mister Allegri dipanggil kembali dan sang pelatih mengonfirmasi dalam konferensi pers pralaga akhir pekan lalu.

“Presiden Agnelli meminta saya untuk kembali ke Juventus, untuk proses berkelanjutan, dan mendapatkan hasil. Kami akan mengerahkan semua upaya kami untuk mewujudkannya, tim perlu bekerja dan itu membutuhkan waktu dan kesabaran,” tutur Allegri.

Allegri juga mengomentari kekalahan telak timnya dari Chelsea, tengah pekan lalu.

“Juve tidak boleh kalah 4-0. Pertandingan yang harus kami menangkan adalah di Turin,” tambahnya.

Mentalitas itulah yang harus diubah, Allegri tidak pernah pergi ke Stamford Bridge dengan pikiran untuk menang.

Kekhawatiran dengan Allegri adalah bahwa ini bukan masalah satu kali atau baru-baru ini, itu membentang kembali ke akhir periode pertamanya. Tapi kali ini, ide-idenya kurang masuk akal. Penggunaan formasi 4-4-2 yang terus-menerus tidak sesuai dengan pemain yang ditempatkan di dalamnya.

Juventus Atalanta ToloiGetty

Bertahan dengan Adrien Rabiot di kiri dan kerap mencadangkan pemain terbaiknya di Federico Chiesa dan sering memplotnya sebagai penyerang. Ogah memarkir Alex Sandro meskipun pemain Brasil itu bermain sangat buruk selama tiga tahun.

Manuel Locatelli terbilang menjadi pemain lini tengah terbaik Juve, tapi dia sedang digantung oleh pendekatan Allegri. Logikanya tidak cocok, 4-3-3 (atau variasinya) terlihat pilihan yang lebih baik. Allegri menggunakannya melawan Atalanta, tapi hasilnya tidak berubah.

Bos Juve mengandalkan pemain seniornya, namun skuad ini tidak ditumpuk dengan pengalaman yang sama seperti yang dia miliki di masa jabatan sebelumnya. Pemain yang lebih muda telah diinvestasikan tetapi alih-alih merangkul apa yang tersedia, ia lebih memilih untuk membatasi dan menempatkan tanggung jawab di atas kepala yang lebih tua daripada membiarkan orang-orang seperti Matthijs de Ligt, Chiesa dan Locatelli menjadi protagonis.

Mereka lebih dari siap dan tentu saja mampu. Pikiran main aman dan menghindari risiko inilah yang membuat Agnelli lebih nyaman, itulah sebabnya dia bersedia untuk menaruh kepercayaannya pada Allegri lagi, itulah sebabnya mereka bekerja sama dengan baik.

Liga Italia telah berubah secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, Serie A telah meningkat dengan generasi baru pelatih dan pemain meluncurkan jenis sepakbola yang biasanya tidak pernah biasanya dikaitkan dengan kasta teratas ini. Jika Allegri gagal mengikuti tren, segalanya bisa lebih buruk alih-alih melihat peningkatan yang diharapkan.

Ketidakseimbangan dalam skuad tidak dapat diperbaiki di tahun depan, jadi itu tergantung pelatih untuk memaksimalkan kekuatan yang ada. Pekan lalu melawan Lazio ada momen-momen cerah dalam penguasaan bola tapi itu jarang terjadi dan masih harus dilihat apakah ini dapat direplikasi secara konsisten, tidak hanya selama 90 menit tapi setiap pekan.

Juventus menghadapi tantangan terbesar mereka sejak akhir 2000-an dan Max Allegri–terlepas dari kesuksesan sebelumnya di klub–terancam oleh pekerjaan yang dia hasilkan saat ini. Sepakbola sekarang lebih dari sebelumnya bergantung pada tim yang kohesif. Individu tidak cukup untuk menangkan laga dan Allegri perlu menjauhkan diri dari momen lama yang ia andalkan untuk hadirkan kembali kesuksesan.

Iklan