Davy Pröpper, PSV, 07222017PROSHOTS

Masih Berusia 30 Tahun, Davy Pröpper Pilih Pensiun Dari Sepakbola

Jika sudah tidak merasa nyaman atau bahagia, maka untuk apa bertahan? Alasan ini lah yang menjadi dasar Davy Propper memilih pensiun dari sepakbola, meski usianya masih 30 tahun dan sedang dalam kondisi bebas dari cedera -- hal yang biasa jadi alasan pesepakbola gantung sepatu lebih awal.

Pada Selasa, 4 Januari, gelandang milik PSV Eindhoven itu mengumumkan keputusan dirinya untuk pensiun, dan PSV menghormati keputusan pria asal Arnhem ini. Secara karier, Propper bukan pesepakbola yang biasa saja, karena timnas Belanda pun pernah memberinya kesempatan, dengan catatan 19 caps internasional.

Kontrak yang tersisa dengan PSV masih berdurasi satu setengah tahun, tapi alasan Propper untuk mengakhirinya lebih awal bisa diterima klub dengan lapang dada. Pemain yang pernah membela Vitesse Arnhem ini menuturkan, dirinya "perlahan kehilangan kesenangan di sepakbola".

Rasa jenuh dan tak nyaman mulai dirasakan Propper ketika berkarier di Liga Primer Inggris bersama Brighton & Hove Albion. Kesenangan akan sepakbola terus menyusut dalam empat tahun kariernya di sana, sebelum pada musim panas lalu pulang ke negara asalnya, untuk membela PSV.

“Selama saya berkarier di luar negeri, saya menyadari bahwa saya perlahan-lahan kehilangan kegembiraan di sepakbola,” kata Propper. “Saya merasa sangat sulit untuk menguatkan rasa disiplin yang diperlukan untuk tampil optimal, dan membiarkan hidup saya sepenuhnya ditentukan oleh jadwal sepakbola yang sibuk. Masa corona dan kurangnya kunjungan dari keluarga dan teman-teman juga tidak baik bagi saya saat itu," urainya.

Tentunya ketika memutuskan pulang kampung ke Belanda, Propper berharap keputusannya bisa mengembalikan kembali hasrat dirinya akan sepakbola. Namun rupanya, rindu kampung halaman bukan jadi sebab utama dirinya benar-benar jenuh akan olahraga paling populer di dunia ini.

"Saya sangat berterima kasih kepada klub yang telah membawa saya di musim panas ini.. Saya berharap dengan kembalinya saya ke Belanda, kesenangan dalam sepakbola akan kembali. Sayangnya, ternyata tidak semudah itu, sebagian karena saya tidak merasa nyaman dengan budaya sepakbola. Namun, saya telah beradaptasi dengannya untuk waktu yang lama, dan terkadang menutupnya. Saya tidak menginginkan itu [budaya sepakbola] lagi, dan itulah mengapa saya selesai dengan itu sekarang."

Iklan
0