Andre Villas-Boas Marseille 2020-21Getty/Twitter

Marseille Kalah Terus, Suporter Mengamuk Bakar Fasilitas Klub!

Marseille telah menjadi klub yang mendekati titik didih selama beberapa pekan terakhir. Sabtu (30/1) kemarin menjadi puncaknya dengan emosi yang ditunjukkan para suporter mereka.

Hanya beberapa jam sebelum para pemain dijadwalkan turun ke lapangan untuk pertandingan vital Ligue 1 melawan Rennes, sekitar 100 atau lebih suporter berkumpul di luar tempat latihan mereka di La Commanderie untuk memprotes kepemilikan klub, serta juga mempertanyakan komitmen skuad dan juga kekecewaan atas performa buruk belakangan ini.

Yang terjadi selanjutnya masih belum jelas, namun fakta yang menonjol adalah bahwa sejumlah besar pendukung menerobos masuk ke kompleks latihan klub dan menyebabkan kerusakan signifikan.

"Pecahnya kekerasan yang tidak dapat dibenarkan membahayakan nyawa orang-orang yang berada di lokasi," kata Marseille dalam sebuah pernyataan.

"Pencurian dilakukan dan juga perusakan kendaraan. Lima pohon dibakar dengan satu keinginan untuk menghancurkan. Kerusakan di dalam gedung mencapai kerugian beberapa ratus euro."

Pelatih tim, Andre Villas-Boas terkena lemparan botol minum dan bek tengah Alvaro Gonzalez - pemain yang tentu tidak pantas mendapat kritikan karena kurangnya upaya atau komitmen - terkena proyektil. Laporan awal menyebutkan bahwa sang pemain sekarang cedera karena ulah suporter timnya sendiri, meski pun kemudian dianggap sebagai luka ringan.

Karena Marseille tidak dapat menjamin keamanan para pemain mereka, maka pertandingan mereka melawan Rennes, Senin (1/2) dini hari WIB, di Velodrome ditunda.

"Saya telah menjadi pemain Marseille selama 13 tahun," kata kapten Steve Mandanda dalam sebuah pernyataan. "aya tahu segalanya tentang klub ini, saya tahu cinta dan frustrasi yang ditimbulkannya, tetapi kejadian hari ini membuat saya sedih dan tidak dapat diterima."

Pemikiran sang kapten juga digaungkan di media sosial oleh para penggawa Marseille lainnya.

Bagaimana bisa jadi seperti ini? Ini tak lepas dari performa buruk klub sepanjang musim 2020/21. Meskipun OM mampu mempertahankan performa Ligue 1 yang luar biasa bagus yang mereka tunjukkan musim lalu untuk lolos ke Liga Champions, kampanye mereka di Eropa berakhir dengan catatan mengenaskan setelah menutup rekor 13 kekalahan beruntun yang belum pernah terjadi sebelumnya di kompetisi dengan kemenangan tak berarti 2-1 atas Olympiakos di laga final fase grup.

Kemudian segalanya memburuk di liga. Ketika Dimitri Payet, yang membawa Marseille gemilang secara ofensif musim lalu, kehilangan performanya, kurangnya komitmen pada klub menjadi isu bagi media dan skuad.

Dilaporkan telah terjadi perselisihan dengan Florian Thauvin, bintang OM lainnya, sementara ada desas-desus bahwa Payet mendesak anggota skuad untuk menyetujui pemotongan gaji sebelum menegosiasikan persyaratan yang lebih menguntungkan untuk kesepakatannya sendiri.

Selain itu, kemarahan fans juga dipicu oleh keberadaan presiden klub, Jacques-Henri Eyraud, yang dianggap sebagai penyusup dari Paris. Seperti diketahui Marseille dan Paris Saint-Germain terlibat dalam rivalitas panjang menyangkut sejarah sepakbola Prancis.

Marseille masih tertatih-tatih saat memasuki putaran kedua Ligue 1 musim ini dengan tertahan di papan tengah klasemen sementara tepatnya di posisi kesembilan.

Iklan
0