Seorang wanita berusia 34 tahun dan berprofesi sebagai jurnalis lalu menjadi pelatih sepakbola di kasta tertinggi? Bukan hal yang biasa kita dengar.
Mariana Cabral baru satu bulan setelah 12 tahun bekerja untuk Expresso, surat kabar terbesar di Portugal, ketika ia membuat keputusan yang telah dia pikirkan selama beberapa waktu.
Pada Juni lalu, Cabral diumumkan sebagai pelatih baru tim wanita Sporting Lisbon. Dua bulan berselang, tim asuhannya sukses mengalahkan juara bertahan Benfica untuk memenangkan Piala Super.
Ketika liga kembali dimulai pada Desember mendatang, mereka akan memulai dengan tren tidak tidak terkalahkan.
Berbicara kepada GOAL, Cabral menggambarkan pekerjaan itu sebagai "mimpi yang menjadi kenyataan", mimpi itu telah dimulai sejak lama, bahkan sebelum ia mulai bekerja dalam tim junior di Sporting pada 2016, ketika tim wanitanya dibentuk kembali.
Cabral pernah menjabat berbagai peran kepelatihan di Portugal setelah gantung sepatu di usia pertengahan 20-an, setelah mewakili mantan juara Portugal, Dezembro, di Liga Champions Wanita.
Menyelesaikan pekerjaan setiap hari saat menjadi jurnalis tentu saja menuntut Cabral, tapi itu memiliki manfaat yang sangat besar bagi kelanjutan kariernya.
“Saya harus mewawancarai ratusan pelatih hebat dari seluruh dunia,” ucap Cabral.
Isabel Silva“Saya mencoba belajar dari mereka semua. Wawancara paling berkesan yang saya miliki, dan perasaan yang saya miliki, adalah ketika tim nasional wanita Amerika Serikat datang ke sini untuk Piala Algarve dan terkadang kami bisa menonton sesi latihan mereka atau berbicara dengan para pemain. Itu seperti di dunia lain.”
“Intensitas yang mereka bawa dalam sesi latihan, mereka sangat menyukainya. Mereka sangat kompetitif. Mereka memiliki dorongan untuk menang yang spektakuler.”
"Itu selalu sangat dekat di hati saya karena saya memiliki banyak keluarga di AS, jadi bahkan sebelum saya tahu bahwa sepakbola wanita ada di Portugal, saya tahu bahwa sepakbola wanita ada di Amerika, karena saya dulu pergi ke sana ketika saya masih kecil.”
“Itu berpengaruh bagi saya juga saat saya mewawancarai [pelatih kepala baru Inggris] Sarina Wiegman. Dia mengatakan sesuatu yang sangat saya setujui: sepakbola wanita masih dalam tahap awal perkembangan, dan dia lebih memilih untuk menang 4-2, 4-3, atau 5-3 daripada bermain untuk kemenangan 1-0.”
“Kita harus mengadakan pertunjukan. Kami harus membuat orang menikmati tim ini karena, jika tidak, mengapa mereka melihat kami? Kami masih berkembang.”
“Saya pikir itu sangat penting untuk berjuang demi permainan yang indah. Saya pikir itu semacam filosofi kami di sini [di Sporting] juga karena kami ingin menang. Kami ingin memberikan hiburan yang bagus kepada para suporter dan kepada orang-orang pada umumnya untuk mencoba membuat sepakbola wanita lebih besar lagi.”
Isabel Silva/GoalKarier Cabral di jurnalistik membantunya mendapat pengalaman yang tidak ternilai, mencoba menyeimbangkan kariernya yang juga sebagai pelatih nyatanya "sangat sulit" dan, akhirnya, dia memilih salah satunya.
“Ketika saya benar-benar memikirkannya, apa keinginan saya? Keinginan saya adalah untuk berlatih, bersama para pemain, memikirkan permainan kami, menonton pertandingan kami, menganalisisnya,” tutur Cabral.
“Bagaimana kami bisa menjadi lebih baik. Bagaimana pemain ini bisa menjadi lebih baik. Apa yang perlu kami kembangkan. Apa yang pemain butuhkan. Apa yang kami butuhkan secara umum untuk menjadi lebih baik. Apa yang dibutuhkan tim muda kami untuk menjadi lebih baik.”
"Saya akan mengatakan bahwa 90 persen hari-hari saya memikirkan hal-hal itu, jadi saya kira itu adalah pilihan yang cukup jelas bahwa pada tahap tertentu, itu tumbuh, tumbuh, dan tumbuh. Saya harus melakukannya.”
“Pada tahun lalu, saya benar-benar memikirkan hal itu dan saya telah memutuskan bahwa saya akan menjadi pelatih. Bahkan jika tawaran ini [dari Sporting] tidak datang, saya ingin melakukannya dengan cara tertentu. Saya punya tawaran lain, tapi Sporting adalah pilihan sempurna.”
Perlahan-lahan, Cabral membuka percakapan dan meyakinkan ibunya tentang peralihan pekerjaannya ini.
“Saya sudah tahu bahwa dia akan merasa seperti: 'Ya Tuhan, tidak, itu konyol. Anda memiliki pekerjaan tetap. Anda memiliki pekerjaan yang bagus di surat kabar terbaik. Jangan lakukan itu. Anda tidak pernah tahu, sepakbola itu gila. Anda bisa dipecat!' Tapi begitu dia mulai berbicara dengan orang-orang di sekitarnya, ide itu tumbuh dalam dirinya," kenang Cabral.
Isabel Silva“Ayah saya penggemar berat sepakbola, dia mendukung saya. Sebenarnya, semua keluarga saya mendukung saya. Senang mendapat dukungan mereka karena saya di Lisbon. Mereka semua [di rumah, di Azores]. Itu jarak yang menempuh dua jam perjalanan udara. Saya tidak punya keluarga di sini, jadi tentu saja, sangat penting bagi saya untuk merasakan dukungan mereka,” tambahnya.
Cabral juga mendapat dukungan besar dari pihak Sporting. Tim 'tiga besar' Portugal tersebut berinvestasi dalam sepakbola wanita, mereka ingin merebut kembali gelar liga dari Benfica tahun ini, setelah melihat Braga menjuarai liga dua tahun lalu.
Perubahan dari fokus pada pengembangan pemain muda–yang menjadi tetap penting bagi klub yang menghasilkan Cristiano Ronaldo dan Luis Figo–menjadi tuntutan berbasis hasil adalah perbedaan terbesar dari pengalaman masa lalu Cabral dalam jajaran pemain muda.
Tapi, menilik hasil yang diperoleh, Cabral mampu meniti langkahnya sejauh ini.
“Seberapa besar Anda membenci kekalahan itulah yang membuat Anda menang lebih banyak, atau lebih sedikit,” kata Cabral.
“Itulah yang kami coba kembangkan di sini,” pungkasnya.
