Kalau saja Ed Woodward dapat kesempatan kedua menjadi wakil kepala eksekutif lagi, sepertinya dia bakal mengubah beberapa keputusannya.
Bagaimana tidak? Manchester United tak sekalipun mendapatkan gelar Liga Primer Inggris selama delapan setengah tahun ia menjabat dan, kalau boleh jujur, tak pernah benar-benar nyaris juara.
Man united memang mendapatkan beberapa trofi di bawah Woodward, seperti Liga Europa, sebiji Piala FA, dan sebiji Piala Liga. Tetapi itu cuma trofi-trofi semenjana. Mereka tak sekalipun bisa bersaing menjadi kampiun Liga Primer, dan cuma menjadi tim hiburan saja di Liga Champions Eropa.
Tak mengejutkan jika saat ia membereskan perlengkapannya di kantor Mayfair akhir bulan ini, ia akan melakukannya sambil diselimuti rasanya menyesal; ia gagal meraih apa yang seharusnya bisa ia raih saat ditunjuk 2013 lalu.
Jika dilihat lekat-lekat, Woodward sepertinya tidak pernah benar-benar 'pulih' dari bursa transfer musim panas pertamanya.
Waktu itu, David Gill baru saja melepas jabatannya dan Woodward setuju untuk mengisi kekosongan tersebut. Tetapi, tanpa sepengetahuannya, sang manajer legendaris, Sir Alex Ferguson, juga berencana untuk pergi.
Woodward merasa kepergian tiba-tiba pria Skotlandia itu membuat awal masa jabatannya amat berat dan ia kecewa bukan main tak kebagian bisa bekerja bersama pria yang ia sebut "jenius".
Kalau saja ada Ferguson, bulan-bulan pertamanya di United, di mana saat itu ia sudah tak dipercaya fans, nasibnya bisa sangat berbeda.
Getty/GOALSaat ia pamit dari tur Australia United demi merampungkan "urusan transfer urgen" menjelang dimulainya musim 2013/14, para pendukung mengira setidaknya satu nama besar bakal datang ke Old Trafford.
Ternyata, cuma Marouane Fellaini yang hadir pada hari tenggat transfer. Sungguh sebuah kesepakatan medioker, dan citra medioker itu melekat kuat di sepanjang masa jabatan Woodward.
Memang, mengingat ia merupakan ahli investasi perbankan alih-alih sepakbola, Woodward sering (mungkin selalu) menjadi kambing hitam setiap transfer mengecewakan di United, dan jumlahnya tidak sedikit.
Pria 50 tahun itu berkata secara privat bahwa masa jabatannya bakal dikenang sebagai sebuah kegagalan gara-gara ketidakmampuan Setan Merah memenangi trofi besar dan ia percaya semua itu disebabkan satu hal: rekrutmen yang jelek.
Ia gagal mendatangkan manajer yang tepat di saat yang tepat, dan ia gagal mendatangkan pemain yang tepat di saat yang tepat pula.
Ingat: rekrutmen terakhirnya adalah bos interim yang sebelumnya bekerja sebagai kepala pengembangan olahraga di Lokomotiv Moscow. Fakta itu saja bisa jadi gambaran naas rencana suksesi di Man United.
Pihak klub bersikeras bahwa Ralf Rangnick selalu merupakan pilihan pertama untuk menjadi penerus Ole Gunnar Solskjaer sampai akhir musim ini, tetapi kalau saja sebelumnya mereka mengambil keputusan yang lebih baik, mungkin United tak perlu berada di situasi penuh keputusasaan ini: mencari solusi instan untuk masalah jangka panjang.
Getty/GOALWoodward, secara privat, mengakui jika saja United tidak salah pilih manajer, mungkin mereka bisa memenangkan gelar liga ke-21 yang tak kunjung tiba itu.
Ia sangat mengagumi Pep Guardiola dan Jurgen Klopp, nama terakhir bahkan sempat menganggur saat Woodward menjadi CEO.
Narasumber dari pihak klub menggambarkan "sliding doors moments" atau momen-momen yang terlihat tidak penting tetapi ternyata sangat memengaruhi nasib United. Seringkali, keadaan tidak mendukung pelatih-pelatih top ini tiba di Old Trafford. Tapi harus diingat bahwa mereka tidak berusaha merekrut Antonio Conte, sebagai salah satu contoh.
Ia memang pantas disalahkan karena gagal merekrut manajer yang tepat, tetapi rekrutmen pemain United bukan sepenuhnya salah Woodward.
Ketika Ferguson pergi, perubahan harus terjadi. Ferguson dan Gill adalah lem yang mempertahankan keutuhan klub. Merekalah duo super kompeten yang menjadi inti kedigdayaan klub, sehingga ketika mereka cabut di saat yang sama, United rontok.
Beberapa narasumber klub sejak awal sudah merasa mustahil David Moyes bisa sukses, karena ia tidak punya struktur yang bisa menopangnya dengan mumpuni.
Lalu ada Louis van Gaal. Woodward mengaku bahwa manajer asal Belanda itu diberi otonomi terlalu besar soal membeli pemain.
Van Gaal bertanggung jawab mendatangkan flop-flop paling memalukan era pasca-Ferguson: Angel Di Maria (£67,5m), Marcos Rojo (£16m), Memphis Depay (£30,6m), Morgan Schneiderlin (£31,5m) hingga Anthony Martial (£54m).
Soal transfer, Woodward sempat berharap bisa 70 persen sukses, tetapi ia mengaku bahwa sepanjang era Moyes dan Van Gaal, cuma tiga dari setiap 10 transfer yang dinilai berhasil.
GettyUnited juga jor-joran di bawah Mourinho, membeli pemain-pemain yang akhirnya kurang sukses seperti Romelu Lukaku (£76m), Paul Pogba (£89m), Fred (£47m), dan Henrikh Mkhitaryan (£30m).
Inti masalah dari kebanyakan nama-nama yang dibeli sebelum era Solskjaer adalah ketiadaan metode. Mereka belanja dengan sembrono, ngawur, bin kebablasan.
Sejak saat itu United memang mencoba berinvestasi dengan merekrut pemain muda Inggris menjanjikan, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa Woodward sudah menghabiskan lebih dari £1 miliar tetapi justru semakin tertinggal dari Manchester City dan Liverpool.
Kini, Woodward angkat tangan dan mengaku kalau United bakal dipaksa membayar akibat dari transfer-transfer sembrono itu hingga bertahun-tahun lamanya.
Mereka kesulitan melego pemain bergaji selangit dengan kemampuan kroco, sehingga terjebak dengan skuad membengkak yang tidak cukup bagus untuk bersaing memperebutkan gelar-gelar penting.
Namun, Woodward dimengerti ingin memperjelas bahwa ia bukan satu-satunya orang yang bertanggung jawab merekrut pemain buat United, dengan keyakinan itu bisa mengurangi kritikan pedas yang ditunjukan kepadanya dan sanak keluarganya selama beberapa tahun terakhir.
Sampai-sampai calon CEO baru Richard Arnold disebut akan menggunakan pendekatan yang lebih lepas tangan soal urusan sepakbola.
Namun soal keterlibatan United dengan huru-hara Super League, yang berujung pada keputusan Woodward untuk mundur, ia cuma bisa menyalahkan dirinya sendiri.
Ia adalah salah satu pilar pelopor kompetisi breakaway tersebut, bersama dengan presiden Juventus Andrea Agnelli.
Woodward sudah terlibat pembicaraan seputar kompetisi tertutup buat klub elite Eropa selama dua tahun tetapi ketika megaproyek itu gagal total dalam sekejap, ia berkata ia tidak setuju dengan format akhir kompetisinya dan "tak punya pilihan" selain menarik dukungannya.
Getty/GoalRibut-ribut Super League jadi akhir dari kesabaran fans. Selama bertahun-tahun, mereka mempertanyakan pengetahuan sepakbola Woodward, sehingga peran pentingnya dalam megaproyek tersebut menjawab kecurigaan terbesar mereka.
Woodward mengaku ia sudah banyak bikin kesalahan, tetapi ia meyakini mengantarkan beberapa kisah sukses.
Fokusnya ke kesepakatan komersial, yang bikin jengkel suporter-suporter yang datang ke stadion, menghasilkan dana yang cukup besar bagi United untuk bisa membeli pemain tanpa dukungan finansial pemilik klub, tetapi pendekatan seperti itu boleh dibilang cuma bikin untung keluarga Glazer saja.
Woodward menyesali pernyataan kontroversialnya bahwa "penampilan di lapangan tidak punya pengaruh berarti terhadap apa yang bisa kami capai secara komersial". Namun, mengingat pihak dewan mesti berjuang mati-matian untuk setiap pound sterling yang masuk, ia boleh pergi dengan bangga setelah meningkatkan pendapatan klub.
Langkah-langkah yang diambil Man United cukup mengesanakan, mereka membekukan harga tiket dan meningkatkan keterlibatan fans. Itu juga menjadi salah dua hal yang Woodward nilai sebagai pencapaian apiknya di Old Trafford.
Namun, tak peduli betapa jeniusnya kesepakatan komersial yang ia dapatkan, atau peningkatan apa saja yang telah terjadi di proses rekrutmen, masa jabatannya hanya akan dihakimi lewat satu cara.
Setelah delapan setengah tahun, lima manajer berbeda, satu miliar pound sterling, dan tanpa trofi besar, era Man United-nya Woodward adalah sebuah kegagalan besar, dan ia sendiri bakal mengakuinya. Dengan enggan.


