Aaron Wan-Bissaka Crystal PalaceGetty

Bek Sayap Termahal Dunia, Mengapa Manchester United Rela Jorjoran Demi Aaron Wan-Bissaka?


OLEH   KRIS VOAKES  PENYUSUN  M. RHEZA PRADITA

Manchester United dikabarkan akan menyelesaikan transfer kedua mereka musim panas ini dalam beberapa hari ke depan. Bek kanan Crystal Palace Aaron Wan-Bissaka segera merapat ke Old Trafford dengan biaya £55 juta.

Dengan mahar sebesar itu, dia akan jadi bek sayap termahal sepanjang sejarah sepakbola, tetapi keyakinan United telah bulat bahwa Wan-Bissaka merupakan pemain yang dalam banyak hal sesuai dengan visi pelatih Ole Gunnar Solskjaer.

Manajer asal Norwegia itu telah berulang kali berbicara tentang keinginannya untuk membuat tim yang berani, bersemangat, dan berisikan pemain depan yang mau bertarung, tetapi pada musim 2018/19 penampilan United sangat jauh dari gambaran yang diinginkan sang bos.

Akibatnya, sorotan ditujukan kepada Red Devils dalam menyongsong musim depan, dan Solskjaer dituntut untuk memperbaiki performa timnya. Untuk langkah awal, dia harus menyingkirkan Ashley Young sebagai salah satu bentuk peremajaan tim.

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan ketika ingin meninjau aksi Young sepanjang musim lalu. Salah satunya adalah fakta bahwa dia baru saja bermain bersama Inggris di Piala Dunia 2018, dan tetap menjadi starter dalam 38 laga musim lalu, terbanyak sejak pindah ke United. Jangan lupakan pula kalau Young dipaksa bermain sebagai bek kanan darurat musim lalu.

Young sama sekali bukan solusi untuk bek kanan United, dan oleh karena itu mereka mendatangkan Wan-Bissaka. Dengan Matteo Darmian yang akan segera mengakhiri kariernya di Old Traddord, dan Diogo Dalot masih beradaptasi, Wan-Bissaka dipercaya mampu jadi solusi jangka panjang.

Pemain 21 tahun itu baru bermain 46 kali di level senior, dan baru-baru ini dikritik karena mencetak gol bunuh diri pada menit-menit akhir dalam laga melawan Prancis di Euro U-21.

“Ketika spekulasi bermunculan, itu pasti akan memalingkan kepala Anda,” ujar pelatih timnas U-21 Inggris Aidy Boothroyd, sebelum mengklaim bahwa Wan-Bissaka merupakan seorang pendiam, dan sulit membaca kepribadiannya.

Wan-Bissaka, England U21GettyMarcus Rashford Ole Gunnar Solskjaer Manchester United PSG Champions League 2019Getty Images

Tetapi ketika Anda menyadari bahwa Boothroyd merupakan pria yang juga mencadangkan pemain terbaik Inggris U-21 Phil Foden, meski Foden merupakan salah satu pemain yang cukup ‘beristirahat’ di skuad Manchester City musim ini, maka Anda mafhum Boothroyd hanya mencari kambing hitam atas kegagalannya sebagai pelatih.

Bermain untuk United, Wan-Bissaka harus membiasakan diri dengan kritik yang akan didapat pada setiap kesalahannya, dan akan menarik untuk melihat bagaimana dia merespons hal tersebut. Akan tetapi Solskjaer bukanlah tipe manajer yang senang menyalahkan anak asuhnya, dan itu akan memberi kesempatan bagi Wan-Bissaka untuk berkembang.

Dengan antisipasi bahaya, dan tekel yang baik, pemain kelahiran Croydon itu merupakan pemain yang sangat bisa diandalkan ketika bertahan. Musim lalu dia berhasil membuat 90 tekel, lebih banyak daripada semua pemain di Liga Primer Inggris, kecuali Wilfried Ndidi.

Di samping itu, dia juga memiliki kecepatan, kecerdasan, dan naluri menyerang yang baik untuk memberi ancaman di pertahanan lawan. Musim lalu, Wan-Bissaka masuk dalam sepuluh besar liga untuk dribel sukses, dengan jumlah 61 dribel, dan sebaliknya, dia hanya dilewati sepuluh kali sepanjang musim. Hal tersebut menunjukkan bahwa dia lebih efektif dalam menyerang ketimbang bertahan, dan ini menjadi angin segar bagi Solskjaer.

Dengan Wan-Bissaka, United akan lebih percaya diri untuk bermain melebar, sesuatu yang sudah lama tidak terlihat di Old Trafford sejak kepergian Alex Ferguson. Serangan dari sisi sayap merupakan salah satu hal kunci dalam filosofi penyerangan Solskjaer, dan musim lalu mereka kesulitan mengembangkannya ketika Antonio Valencia dan Young bermain sebagai bek kanan.

Aaron Wan-Bissaka Crystal PalaceAaron Wan-Bissaka Alexis Sanchez Crystal Palace Manchester UnitedGetty

Tidak mengherankan kalau Wan-Bissaka yang lebih diprioritaskan dibanding target lain, mengingat Solskjaer membutuhkan personel yang sudah siap bermain di Liga Primer. Anak muda satu ini sejak awal sudah menarik perhatian United, ketika berhasil memenangkan penghargaan pemain terbaik dalam laga melawan United pada Maret 2018, yang merupakan laga keduanya bersama tim senior Palace.

Faktor kunci dari kesuksesan United era Ferguson adalah keberanian mereka menghabiskan banyak uang di bursa transfer, untuk mendatangkan para pemain yang kualitasnya sudah terbukti di Liga Primer. Gary Pallister, Roy Keane, Andy Cole, Dwight Yorke, Rio Ferdinand, dan Dimitar Berbatov semuanya merupakan pemain yang memecahkan rekor klub ketika datang ke United.

Oleh karena itu, seharusnya tidak mengejutkan jika mereka siap memecahkan rekor dunia untuk seorang bek sayap. Bahkan ketika Luke Shaw didatangkan dari Southampton pada 2014, £30 juta merupakan rekor biaya transfer untuk seorang pemain remaja, dan jumlah itu sekarang tampak sepadan dengan kualitas sang bek kiri.

Wan-Bissaka merupakan pemain dengan potensi besar, dan meskipun tidak pernah ada jaminan kesuksesan, sudah jelas kenapa United percaya pemain asal London tersebut adalah penggawa yang akan langsung cocok dengan mereka.

Iklan
0