UEFA bisa berada dalam tekanan hebat dari publik untuk meninjau regulasi Financial Fair Play (FFP) mereka setelah Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) membatalkan sanksi larangan dua tahun berlaga di Eropa milik Manchester City, menurut pengacara olahraga Rob Jones.
Sanksi awal, termasuk denda €30 juta, diumumkan UEFA pada Februari lalu setelah City dinyatakan bersalah atas pelanggaran FFP antara 2012 dan 2016.
UEFA meluncurkan investigasi waktu itu hanya berdasarkan serangkaian artikel yang dirilis oleh Der Spiegel pada November 2018, yang menuding klub Liga Primer Inggris memanipulasi laporan finansial mereka.
City yang tak terima kemudian naik banding ke CAS, yang akhirnya mengeluarkan keputusan memihak mereka pada Senin (13/7) kemarin. Selain membatalkan sanksi, denda kepada City juga dikurangi hanya menjadi sebesar €10 juta karena dinilai gagal kooperatif dengan UEFA.
Selain meyakini akan adanya tuntutan publik untuk reformasi aturan, Jones mengatakan bahwa nantinya regulasi FFP tidak sepenuhnya mengikat karena masih bergantung pada keputusan CAS.
Ditanya oleh Stats Perform News seberapa signifikan keputusan tersebut, Jones mengatakan: "Jika dirinci dalam keputusan final bahwa ada penyimpangan prosedural dan perilaku yang bertanggung jawab atas UEFA yang memiliki dampak berarti pada keputusan yang dibuat oleh CAS, maka UEFA akan berada di bawah tekanan hebat untuk melakukan reformasi prosedurnya."
"Saya tidak berpikir, melihat rilis media, bahwa ada prinsip-prinsip dasar yang mendasar yang telah diputuskan melanggar hukum dan memengaruhi prosedur perselisihan olahraga lainnya."
"Namun keputusan akhir mungkin mencerminkan beberapa masalah prosedural yang mungkin perlu diatasi UEFA. Dan jika itu yang terjadi maka mereka akan berada di bawah tekanan hebat - dan bukannya mereka tidak di bawah tekanan hebat pula pada saat ini - untuk mereformasi peraturan FFP."
"Tampaknya bagi masyarakat umum ada penilaian bahwa aturan ini tidak memiliki taring... FFP saat ini tidak sesuai dengan tujuan awal dan mereka akan mendapat tekanan hebat untuk mengevaluasinya."


