Manchester City menjadi klub Liga Primer Inggris pertama yang menegaskan bahwa karyawan mereka tidak akan dirumahkan setelah manajemen Liverpool menuai kebijakan atas cara mereka menangani situasi akibat krisis virus corona.
Sejumlah staf non-pemain Liverpool dirumahkan, seperti yang diumumkan pada Sabtu (4/4) kemarin, yang membuat mereka bebas mengklaim bantuan pemerintah sebesar 80 persen dari anggaran gaji mereka sesuai amanat undang-undang ketenagakerjaan Inggris, khusus dalam kondisi darurat. Sementara sisa 20 persen akan dipenuhi pihak Liverpool.
Tottenham Hotspur, Newcastle United, Norwich City dan Bournemouth juga mengambil langkah serupa dengan memanfaatkan skema 'cuti karyawan' dari pemerintah, dengan keputusan itu memicu kecaman luas dari publik.
Eks gelandang Liverpool, Danny Murphy termasuk di antara mereka yang melempar kecaman, menggambarkan tindakan mantan klubnya sebagai langkah aneh.
City mengambil langkah yang berbeda pada Minggu (5/4), dengan juru bicara klub mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Kami dapat mengonfirmasi, setelah keputusan yang dibuat oleh pimpinan dan manajemen klub pekan lalu, bahwa Manchester City tidak akan memanfaatkan Skema Retensi Pekerjaan Coronavirus Pemerintah Inggris (pembayaran upah yang didanai oleh pemerintah)."
"Kami tetap bertekad untuk melindungi para karyawan kami, pekerjaan mereka dan bisnis kami, sementara pada saat yang sama melakukan apa yang kami bisa untuk mendukung komunitas kami yang lebih luas dalam situasi yang sulit ini bagi semua orang."
City berada di posisi kedua dalam klasmen Liga Primer musim ini, tertinggal 25 poin di belakang Liverpool, dan liga mengumumkan pekan lalu bahwa kompetisi tidak akan digelar kembali pada awal Mei seperti yang telah direncanakan.
Klub-klub Liga Primer menggelar pertemuan pada Jumat (3/4) lalu guna membahas prospek menuntaskan musim ini dan juga wacana pemotongan gaji para pemain sebesar 30 persen.




