Hasil imbang 2-2 Liverpool dengan Manchester City, Minggu (3/10) WIB, terasa seperti nostalgia; kembalinya intensitas tinggi di Liga Primer, dan dua bulan telah berjalan untuk musim 2021/22 dengan situasi normal.
Liga Inggris kembali ke pertunjukan terbaiknya.
Itu menjadi pelajaran utama dari permainan dengan kualitas teknis dan taktis seperti itu, permainan yang membawa penonton kembali ke masa puncak persaingan Jurgen Klopp vs Pep Guardiola, dan menegaskan bahwa bayang-bayang sepakbola Inggris adalah masalah dari masa lalu.
Tujuh matchday telah berlalu, dan kita memasuki jeda internasional kedua, yang diharapkan akan segera berakhir agar kita bisa menikmati kompetisi domestik - di mana itu akan menjadi salah satu yang terbaik yang pernah ada.
Chelsea, Liverpool dan City duduk di peringkat tiga besar, dan menilai dari penampilan luar biasa mereka sejauh ini, kita mungkin akan mendapatkan tiga calon juara yang sudah mutlak.
Tentu saja ketiga klub mampu mencapai lebih dari 90 poin, dan meskipun City memiliki sedikit keunggulan sejauh ini, itu tidak mempengaruhi betapa panasnya persaingan mereka.
Lebih menarik lagi, setiap klub memiliki kekuatan dan kekurangan yang unik.
Anfield jadi penyemangat Liverpool - tapi lini pertahanan jadi masalah
Kita semua tahu bahwa strategi Klopp cukup taktis sekarang. Itu benar-benar tidak banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir, satu-satunya perbedaan adalah kembalinya dua bek andalan mereka dari cedera.
Kemudian, kedua faktor ini memberi Liverpool keunggulan lagi.
Getty ImagesKlopp membutuhkan Fabinho di lini tengah untuk menahan serangan balik lawan dan mendorong bola ke depan, memungkinkan The Reds untuk mempertahankan garis pertahanan mereka cukup tinggi dan menekan dengan agresif sambil mendorong lawan kebelakang. Dari sini, dapat dilihat bahwa Liverpool akan menggiling musuh hingga - apalagi jika di Anfield - mereka menyerah.
Pulihnya Virgil van Dijk telah memungkinkan Fabinho kembali ke peran favoritnya dan itu jelas berefek positif.
Liverpool juga membutuhkan motivasi baru menyusul kosongnya stadion di musim lalu setelah mereka memenangkan gelar, dan tentu saja kesempatan untuk mengangkat mahkota di depan pendukung harus tertunda.
Penampilan Sadio Mane dan Mohamed Salah membuat klub berada di puncak untuk urusan tembakan per pertandingan (21) dan gaya serangan mereka tetap sama, dengan tiga lini depan yang sempit membuat lawan memberi ruang kepada Trent Alexander-Arnold dan Andy Robertson melakukan penetrasi.
Gegenpress menghancurkan musuh-musuh mereka, membuat para penyerang menjauh, sementara Diogo Jota menambah daya tembak sejak menggeser posisi Roberto Firmino dari tempat utama.
Tapi Liverpool telah kebobolan enam gol dalam tiga pertandingan terakhir di semua kompetisi, dan kebobolan 10,7 tembakan per pertandingan di Liga Primer, lebih banyak 8,7 per pertandingan dari musim 2020/21 yang mengecewakan.
Sementara daya tekan mereka terlihat lebih efektif - PPDA (operan di pertahanan) turun dari 10,01 menjadi 9,03 - segalanya mulai berantakan begitu lawan mampu menembus pertahanan.
Ada ruang di sayap, seperti yang mampu dimanfaatkan Brentford danThe Citizen, padahal Liverpool juga tidak bermain buruk.
Penampilan James Milner menggantikan Alexander-Arnlod jelas sangat kurang, dengan dia dia sangat kesulitan menghalau serangan-serangan yang dibangun Jack Grealish cs hari Minggu lalu. Cedera dan pertahanan yang lowong mungkin masih bisa menghancurkan tim asuhan Klopp.
Chelsea memiliki kedalaman skuad - tapi Tuchel tak mampu menunjukkan fleksibilitas taktiknya
Jawara Eropa Chelsea membuat awal yang menegaskan bahwa Thomas Tuchel adalah orang yang tepat untuk tim London.
3-4-2-1-nya dapat bermain melebar dan kedalaman yang luar biasa; penyerang bayangan mereka membantu peran di lini tengah. Bek sayap dapat melakukan overlap, seperti yang ditunjukkan Reece James saat melawan Arsenal dan gelandang elegan mereka mampu mengubah permainan lebih baik dari pada siapa pun di liga.
Getty ImagesTapi sejauh ini Chelsea belum terlalu lancar dalam menguasai bola. Selain bek sayap mereka yang menekan Arsenal dan serangan balik yang tajam melalui Romelu Lukaku saat menghancurkan Aston Villa, The Blues tidak pernah terlihat menguasai pertandingan seperti yang mereka inginkan.
Faktanya, 3-4-2-1 mulai terlihat sedikit basi. Chelsea mungkin bisa melakukannya dengan penyerang tambahan di lapangan. The Blues berada di tempat keenam untuk urusan tembakan ke gawang dan memiliki 76 sentuhan lebih sedikit di area penalti daripada City.
Sebelum tiba di Chelsea, Tuchel terkenal dengan sering melakukan perubahan formasi dan perubahan taktik yang tak henti-hentinya, tetapi kami belum melihat semua itu di Stamford Bridge - dan upaya yang dia lakukan tidak selalu membuahkan hasil.
Kekalahan 1-0 dari City sangat mengkhawatirkan karena Tuchel salah taktik, menggunakan 3-5-2 dengan dua striker sebagai tulang punggung serangan yang berfungsi memutus lini tengah dan lini serang, memungkinkan pasukan Guardiola untuk berbalik mengurung mereka.
Sisi baiknya adalah bahwa Chelsea dapat memenangkan pertandingan bahkan ketika tidak bermain sangat bagus, mengalahkan Southampton, pekan lalu, di mana City juga kehilangan poin.
itu adalah pertandingan yang menyoroti kekuatan luar biasa Chelsea dan uniknya, di antara ketiga pesaing tersebut adalah variasi gaya menyerang dalam skuad mereka.
Melawan The Saints, Mason Mount masuk menggantikan Callum Hudson-Odoi untuk memainkan peran penyerangan di sisi kiri, namun sulit membayangkan dua pemain yang jelas berbeda posisi favoritnya.
Perombakan ini, bersama dengan masuknya Ross Barkley menggantikan Ruben Loftus-Cheek, mengganggu pola permainan lawan dan membawa Chelsea menang.
Dengan Lukaku yang belum juga kembali mencetak gol, Kai Havertz harus menyesuaikan diri, dan Christian Pulisic juga akan segera kembali dari cedera. Cheslea hanya akan menjadi lebih baik jika Tuchel bisa menjadi lebih fleksibel dalam urusan taktik.
Pekan impresif City menjawab pertanyaan tentang pasifnya lini tengah mereka
Untuk sesaat, sepertinya versi terburuk dari City asuhan Guardiola telah kembali.
Pada bulan November tahun lalu, ketika City duduk di urutan kedelapan klasemen dengan 20 poin dari 12 pertandingan, tampaknya skuad mereka yang menua semakin lelah dengan metode intens sang manajer.
Getty ImagesLini tengah City terlihat pasif, tidak mampu menekan dan cukup berusaha keras untuk mencegah lawan menerobos ke tengah dan masuk ke pertahanan. Mereka juga berjuang untuk membangun serangan, menghadang serangan dari tengah dan mengurangi aksi individu pemain menjadi operan pendek dengan U-Shape ke sayap.
Itu mulai terjadi lagi musim ini dan hal tersebut bisa menjadi kesalahan fatal.
Tottenham Hotspur dan Soton mampu memanfaatkan celah itu, dan akan menjadi sangat sulit bagi The Citizen untuk membuat Jack Grealish seperti di Aston Villa, di mana dia bisa menghasilkan sesuatu yang istimewa dari sisi kiri.
Tim lainnya pasti akan memanfaatkan kekurangan City, dan banyak tim yang akan menerima keuntungan dari tidak adanya pemain nomor sembilan di Etihad Stadium.
Tapi kemudian The Citizen berhasil mengalahkan Chelsea dengan meyakinkan dan bermain imbang di Anfield dalam pertandingan yang terlihat tidak seru di babak pertama. Tapi tiba-tiba mereka terlihat tak terbendung lagi, padu dan rapi saat menjaga ritme permainan baik dengan atau tanpa bola.
Hasil tersebut bisa menjadi faktor penting untuk musim depan, meskipun pada akhirnya perburuan gelar lebih mungkin ditentukan oleh poin yang hilang melawan tim yang berada di posisi bawah dibandingkan dengan enam poin di atas.
Kualitas ketiga klub itu sangat luar biasa. Masing-masing rentan dengan urusan mereka sendiri, tetapi dalah hal menindas liga, dan karena menjadi yang paling kecil kemungkinannya untuk tiba-tiba jatuh saat melawan tim papan tengah, Liverpool memiliki sedikit keunggulan.
Bagaimana pun persaingan itu berakhir, ketiga klub itu pasti akan menjadi yang teratas.
