Ketika peluit panjang berbunyi di Stamford Bridge pada Minggu (2/1), dan Chelsea dipaksa berjuang keras untuk bisa mengamankan satu poin lawan Liverpool, ada sedikit optimisme di beberapa kalangan fans Manchester United.
Jika tim mereka bisa memenangkan tiga pertandingan Liga Primer Inggris yang belum dimainkan, maka mereka bisa cuma tertinggal dua poin di belakang Liverpool dan tiga di belakang Chelsea dalam perebutan tiket ke Liga Champions musim depan.
Tapi itu seolah-olah hanya sekadar 'jika'. United sendiri telah menjadi tim yang sulit ditebak selama beberapa musim terakhir. Tidak ada yang benar-benar yakin seperti apa mereka bermain dan apa hasilnya.
Salah satunya seperti saat Wolverhampton Wanderers mengalahkan United di Old Trafford untuk pertama kalinya di liga sejak Februari 1980, hasil performa buruk mereka. Tidak ada kecepatan, tidak ada urgensi dan tidak ada arah; sebaliknya, yang ada salah oper, pengambilan keputusan yang buruk, dan kurangnya struktur permainan.
Ralf Rangnick tahu akan butuh waktu untuk menunjukkan otoritasnya di skuad United ini, tetapi, sebulan setelah masa jabatannya, tidak ada kesan bahwa pekerjaannya memiliki dampak pada tim ini.
Sistem permainannya yang mengedepankan gegenpressing atau pressing dengan intensitas tinggi cuma terlihat selama 25 menit pertama dalam laga perdananya menangani United, melawan Crystal Palace, dan tidak terlihat lagi setelahnya, dan sistemnya seperti tidak cocok hingga para pemain tidak mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.
Rekor tak terkalahkannya sebagai manajer United berakhir pada Selasa (4/1) dini hari WIB, namun, pada kenyataannya, rekor positifnya itu tidak pecah lebih awal. Mereka terbuai dengan narasi-narasi potensi kehebatan yang bisa mereka tampilkan sejak ditangani oleh juru taktik asal Jerman tersebut.
Mereka sekarang tak ubahnya seperti tim medioker, jauh di belakang level para kandidat juara seperti Liverpool dan Chelsea, alih-alih Manchester City yang begitu superior dalam beberapa tahun terakhir.
Jadi, seperti apa ke depannya United di bawah Rangnick?
Getty Images"Saya tahu itu akan menjadi pekerjaan yang sulit, itulah alasan mereka menghubungi saya, jadi saya tahu sejak awal itu tidak akan menjadi pekerjaan yang mudah untuk menemukan keseimbangan terbaik dalam menyerang dan bertahan," kata Rangnick.
"Kami menunjukkan saat melawan tim yang bagus kami kewalahan dan harus ada beberapa yang dibenahi."
Jadi, apa langkah selanjutnya?
Fokus ke dasar akan menjadi langkah awal, mengingat jumlah salah oper yang mereka catatkan dalam beberapa laga terakhir. Kembalinya "hairdryer treatment" yang termahsyur di era Sir Alex Ferguson mungkin bisa jadi solusi, jika mendengar apa yang dikatakan oleh Luke Shaw selepas kalah dari Wolves.
"Tak cukup bagus, kami benar-benar kesulitan, kami tidak bisa menguasai bola dan ketika kami tidak menguasai bola, kami tidak cukup agresif. Kami tidak membuat tim lawan berada di bawah tekanan apa pun," katanya kepada BBC Sport.
"Itu mungkin terlihat seperti pertandingan yang mudah bagi mereka. Performa dan hasil ini mengecewakan. Kami tidak memiliki banyak pilihan saat menguasai bola dan kami tidak bermain dengan baik."
"Kami harusnya memberi lebih banyak tekanan pada mereka, kami harus memiliki intensitas. Kami para pemain, kami sudah lama di sini, mungkin malam ini kami menemui kesulitan, saya tidak berpikir kami semua berjuang bersama-sama di lapangan."
"Ketika Anda melihat para pemain yang kami miliki, kami sejatinya memiliki kualitas yang luar biasa tetapi terkadang kualitas saja tidak cukup."
"Kami perlu bermain dengan intensitas dan lebih banyak motivasi. Di dalam ruang ganti, kami tahu apa yang kami inginkan, tetapi di luar lapangan kami harus mengerahkan 100 persen. Untuk memenangkan pertandingan seperti ini, kami semua harus berkomitmen 100 persen. Ini sulit dan mengecewakan."
Getty ImagesSejumlah pemain tim utama ingin meninggalkan klub bulan ini. Anthony Martial tidak dimasukkan dalam skuad sejak memberitahu ingin hengkang dan, dari mereka yang tidak ingin pergi, ada beberapa yang tidak cukup bagus untuk membawa United kembali ke level mereka seharusnya berada.
Duo gelandang, Nemanja Matic dan Scott McTominay kalah bagus dari Joao Moutinho dan Ruben Neves milik Wolves. Sudah jelas sejak lama bahwa United membutuhkan peningkatan di lini tengah dan selama mereka belum memperbaikinya, mereka akan terus kewalahan untuk mengontrol permainan.
Mantan manajer Ole Gunnar Solskjaer dikambinghitamkan oleh beberapa orang di ruang ganti karena tidak mampu memaksimalkan kualitas para pemainnya dan, meski pun sudah digantikan, masalah yang sama masih ada.
Rangnick dan staf pelatihnya perlu memperbaiki mentalitas dan sikap tim sebelum fokus membenahi kualitas teknis dan taktis guna meningkatkan performa pasukannya yang di bawah standar.
Wolves asuhan Bruno Lage bahkan terlihat jauh lebih bagus, agresif, unggul secara taktis dan ulet. Mereka sangat padu sebagai sebuah tim, sesuatu yang tidak terlihat di skuad United sekarang ini.
Sudah lama mereka hanya mengandalkan bakat-bakat individu saja, bergantung pada kemampuan mereka untuk bersinar dan memenangkan pertandingan. Mereka tidak mampu tampil solid sebagai sebuah tim yang kompak.
Mereka, para pemain, staf kepelatihan, manajemen dan juga suporter seharusnya sadar bahwa segala sesuatunya di skuad Setan Merah tidak berjalan dengan baik.
Rangnick mengakui dirinya perlu mengetahui apakah "mentalitas dan fisik" skuadnya tepat sebelum menerapkan filosofi gegenpressing-nya secara penuh.
Berdasarkan dari apa yang kita lihat dari kekalahan lawan Wolves, belum ada tanda-tanda United mengarah ke situasi positif. Mereka sekarang berpacu dengan waktu apabila karena jika tidak maka akan semakin terpuruk.


