Sabtu pekan ini akan menjadi momen dua tahun kedatangan Dean Smith di Villa Park, hal itu akan menjadi peringatan bersejarah mengingat kemajuan yang diberikannya untuk Aston Villa.
Smith menggantikan Steve Bruce di saat Aston Villa berada di urutan ke-15 Liga Championship Inggris dan klub tersebut sedang dihantui kehancuran finansial pada musim panas itu.
Mengalami kemajuan drastis ketika ditangani Smith, Villa kini duduk di urutan kedua Liga Primer Inggris dengan melibas kemenangan di tiga laganya, kemenangan terakhir mereka cukup membuat publik terkejut karena mengalahkan Liverpool 7-2 seiring Ollie Watkins, Ross Barkley, Emiliano Martinez dan Matty Cash menjadi protagonis.
Selain momen hebat di atas lapangan, Smith juga sukses mempertahankan pemain andalan klub yaitu Jack Grealish dengan mengikatnya melalui kontrak selama lima tahun, meskipun Manchester United merayu sang pemain untuk dibawa ke Old Trafford.
Tidak heran jika Ole Gunnar Solskjaer menginginkan jasa Grealish mengingat bakatnya yang luar biasa dengan kontrol bola, visi permainan dan karismanya di atas lapangan membuat sang pemain layak disebut sebagai pesepakbola termasyhur era ini.
Dia adalah pemain yang pasti diinginkan untuk berada di klub, seperti yang diakui oleh Smith setelah penandatanganan kontrak Grealish dan barangkali Gareth Southgate segera menyadari juga setelah pemberian label man of the match terhadap pemain berusia 25 itu melawan Wales.
Itulah alasan mengapa mempertahankan masa depannya di Aston Villa merupakan pencapaian penting karena akan memuluskan jalan klub menjadi raksasa Eropa sekali lagi.
Villa telah menghabiskan dana £200 juta untuk membeli pemain dalam dua tahun terakhir – bukti keseriusan dari pemilik klub, Nassef Sawiris - dan setelah keberhasilannya merekrut pemain musim panas ini, Grealish berulang kali menyebut komitmennya bersama klub.
“Klub ini adalah rumah saya, akan ada banyak hal menyenangkan nanti dan saya gembira menjadi bagian itu,” katanya setelah menyelesaikan kesepakatan.
GettyPendukung Villa wajib optimistis jika tempat mereka dulu di 10 besar Liga Primer, akan kembali berada dalam genggaman.
Grelish tetap menjadi fokus serangan tim namun tidak seperti musim lalu, dia bukan lagi satusatunya ancaman.
John McGinn yang menuai banyak pujian di awal musim lalu sebelum dihantam cedera serius - telah menemukan lagi performa terbaiknya dan tidak lama lagi bakal menjadi gelandang paling berharga di luar tim 'Enam Besar', sementara itu Douglas Luiz terus berkembang pesat seperti yang pernah diharapkan oleh Manchester City dan Pep Guardiola.
Barkley akan melengkapi tiga gelandang tengah Villa, sementara Watkins akan memberikan klub banyak gol dengan penyelesaian akhir yang mumpuni – yang tidak dimiliki Villa pada musim lalu.
Hebatnya, Aston Villa berhasil menciptakan peluang terbanyak keenam di Liga Primer di musim 2019/20 berkat kecemerlangan Grealish.
Adanya Watkins sebagai ujung tombak tim akan mampu memanfaatkan peluang yang diberikan, apalagi dengan kehadiran pemain seperti Barkley, McGinn dan Cash bisa memberikan aneka kesempatan selain dari Grealish.
Tetapi akan menjadi naif jika menganggap Villa akan melaju mulus musim ini. Smith masih harus berhadapan dengan tantangan melebur kekuatan serangan baru dengan kehebatan pertahanan yang menyelamatkan mereka dari jurang degradasi musim lalu.
Naluri dan fisolofi taktiknya mengarah pada gaya penguasaan bola yang progresif, tetapi dia pada akhirnya menyadari - hampir terlambat di 2019/20 – sistem itu sulit diterapkan bagi sebuah tim kandidat degradasi Liga Primer
Pada 11 Juli, Villa berada di urutan ke-19 klasemen, tujuh poin dari zona aman dengan empat pertandingan tersisa. Para penggemar mengambil langkah pesimistis untuk menerima nasib namun Smith menolak menyerah.
Getty/Goal compositeDia dan John Terry menghabiskan musim dengan membenahi sektor pertahanan, mereka meninggalkan sepakbola menyerang dan fokus pada serangan balik.
Ini landasan baru yang dipimpin oleh Ezri Konsa, sehingga Villa berhasil meraup delapan poin dari empat laga terakhir, termasuk menang tipis 1-0 atas Arsenal meskipun hanya mencatat 31 persen penguasaan bola.
Namun Villa yang sekarang berbeda, mereka lebih aktif menyerang. Tidak akan terjadi tujuh gol melawan Liverpool jika Anda bermain dengan naluri bertahan meskipun mereka mencatatkan penguasaan bola 30 persen.
Smith harus mencari cara bagaimana mereka membangun visi menyerang tanpa mengorbankan area pertahanan. Ini adalah teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan.
Tapi, visi menyerang yang dibawa Smith – dengan semangat mengembalikan sepakbola gemilang masa lalu klub – ini yang membuat Grealish bertahan.
Grealish menggambarkan Smith sebagai sosok Ayah dan tidak diragukan jika sang manajer pasti telah menceritakan keharuman nama Aston Villa di masa lalu.
Smith dan Grealish belum mencapai prestasi masa lalu klub. Tetapi dengan pemilik ambisius, pemain yang berbakat dan optimisme setelah kemenangan melawan Liverpool, mudah untuk melihat mengapa Grealish yakin jika Villa Park adalah tempatnya.




