Setelah hangat dispekulasikan oleh media sepanjang pramusim Liga Malaysia 2021, sepakbola nusantara Malaysia-Indonesia menerima kabar besar tentang hijrahnya Makan Konate, salah satu bintang terhebat di sepakbola Indonesia, ke Terengganu FC, Malaysia.
“Saya bila mahu lock?” (“Kapan Anda akan merekrut saya?”)
Tanya Konate dalam sebuah video pengenalan yang cukup menarik dan kreatif, merujuk pada teka-teki statusnya yang saat itu masih belum terjawab — apakah ia akan meninggalkan Persebaya Surabaya.




Video (yang digambarkan seperti lelang virtual di Malaysia) menunjukkan bahwa Konate adalah salah satu komoditi panas yang banyak disukai, dan menjadi rebutan klub-klub yang berminat kepadanya, tetapi akhirnya bisa dimiliki / di”lock” oleh Terengganu.
Kini, dengan musim di Liga Malaysia yang hampir usai, fokus terhadap situasi Makan Konate kembali menjadi perhatian. Dengan Liga Indonesia yang akan kembali membuka pendaftaran pemain Desember mendatang, maka tim mana yang akan memiliki Konate pada 2022 nanti?
Yang jelas, rumor transfer yang melibatkan seorang Konate akan jauh berbeda dibanding musim-musim sebelumnya. Karena pada 2021 saja, nilai pasar dari Makan Konate naik secara mendadak karena beberapa faktor.
Ketika berseragam Terengganu, Konate tidak menghabiskan waktu banyak untuk membuktikan mengapa kedatangannya ke Malaysia disambut dengan gegap gempita, seperti video pengenalannya. Ia terus mengumumkan eksistensinya dengan assist demi assist, serta gol cantik yang membantu kualitas Terengganu dalam permainan, dan juga klasemen.
Seperti mimpi menjadi kenyataan.
Puncak kejayaan Konate sebagai pesepakbola hadir pada Mei lalu. Detik bersejarah diukir karena untuk pertama kalinya dirinya dipanggil skuad timnas Mali untuk laga persahabatan melawan Aljazair, Republik Kongo, dan Tunisia. Ini merupakan catatan luar biasa dan manis karena Konate menjadi satu-satunya pemain dalam tim besutan Mohamed Magassouba yang berkompetisi di Asia.
Mengingat momen tersebut, Konate mengatakan:
“Saya menerima cap pertama saya bersama Mali sewaktu melawan Republik Kongo, sebagai pemain pengganti pada 10 menit terakhir. Melawan Tunisia, saya awalnya di bangku cadangan tetapi telah diberi isyarat bahwa saya akan dimainkan sebagai pemain pengganti. Namun, segalanya berubah ketika El Bilal Toure, penyerang tim menerima kartu merah pada menit ke-32. Ini memaksa pelatih mengubah strateginya dan menyimpan saya di bangku cadangan hingga laga berakhir,” ucapnya.
Meski hanya pernah bermain di Malaysia dan Indonesia sepanjang kariernya, ternyata Konate bukan pemain yang asing, dengan pemain-pemain bintang Mali sudah ada yang mengenalinya. Tidak hanya mendapat kesempatan latihan bersama pemain Southampton, Moussa Djenepo, ia juga menerima pujian dari Yves Bissouma — salah satu aset panas Liga Primer Inggris, dan bermain untuk Brighton & Hove Albion.
Goal Indonesia
Goal IndonesiaKisah perjalanan hidup dan karier Makan Konate bagaikan kisah dongeng, yang jarang terjadi dan tidak dibuat-buat.
Makan Konate, seorang superstar sepakbola ciptaan Asia Tenggara ditemui oleh Mundari Karya secara kebetulan di Lapangan Senayan, sepuluh tahun lalu. Gigih berlatih setiap sore demi mencari klub yang sanggup memberinya peluang tampil pada usianya yang masih sangat mentah 20 tahun saat itu.
Makan Konate, seorang pemain yang tidak pernah menerima didikan atau asuhan akademi sepakbola ternama di Eropa.
Kisah bintang sepakbola bernama Makan Konate ini sebenarnya bermula dari lorong-lorong kecil Kota Bamako, Mali, puluhan tahun lalu.
Berdasarkan kisah sosok yang bangkit dari belenggu kemiskinan ini, tidak heran mengapa di Malaysia dan Indonesia ramai mendambakan sosoknya. Bukan saja melihat bagaimana aksinya di lapangan, tapi juga kharisma serta aura luar biasa yang ia pancarkan di luar lapangan.
Goal IndonesiaRahmad Darmawan, pelatih yang pertama membawanya ke Kuala Terengganu, Malaysia, pada 2016 bersama T-Team mengungkapkan kesannya terhadap sang pemain: “Saya telah memperhatikan Konate sejak dia bermain di Indonesia, dan bagi saya, secara individu, Konate jelas menonjol dengan memperlihatkan kelebihan dan keistimewaaannya yang tersendiri di setiap klub yang ia bela.”
Kenangan bersama Konate juga turut menjadi nostalgia bagi Djadjang Nurdjaman, pelatih Konate ketika di Persib Bandung pada 2014, yang merupakan aktor protagonis penting untuk tim.
“Saya melihat ada potensi untuk Konate menjadi bagus ke depannya, maka saya mengambil dia untuk bergabung ke Persib. Konate tidak mengecewakan saya karena dia membuktikan bisa berprestasi di Persib, dan mengalahkan bintang-bintang lain yang sudah punya nama.”
Dengan pencapaian dan banjir pujian yang diterima Konate bersama Terengganu, maka persoalan yang ada adalah, bukankah hal tersebut harus bisa menjadi justifikasi mengapa situasi Konate harus tetap status quo?
Menilai pada kondisi saat ini, Konate masih memiliki beberapa tugas yang belum selesai di Malaysia.
Laju Terengganu di Piala Malaysia 2021 yang sedang berlangsung menggambarkan bahwa kedudukan Konate selaku nadi utama tim di bagian tengah, seolah-olah terganggu karena saingan berat dari pemain seperti Dechi Marcel dan Habib Haroon. Merujuk pada data analisis dan statistik, kedua pemain tersebut memiliki pencapaian angka yang lebih baik. Meski bagaimana pun, formula sepakbola yang diterapkan oleh pelatih muda Terengganu, Nafuzi Zain, yang disebut Nafuziball terlihat bisa menonjolkan kekuatan membaca permainan dan kemampuan serba bisa Konate sebagai pemain tengah. Hal ini turut menjadi perhatian Rahmad Darmawan:
“Di Indonesia, Makan Konate lebih sering digunakan sebagai pemain nomor 10. Tetapi di Malaysia, Terengganu memainkan dia sedikit ke belakang seperti pemain box-to-box. Apapun itu, Konate tetap Konate. Dia menjalankan tugasnya untuk menyerang dan bertahan menurut skema yang telah ditetapkan. Pencapaian Nafuzi bersama Terengganu juga cukup membanggakan, dan Konate ternyata mempunyai peranan yang penting di dalam timnya.”
Falsafah sepakbola modern yang diterapkan Nafuzi Zain di Terengganu telah sukses mengubah kemampuan teknik dari Konate, yang sebelum ini, dinilai sebagai pesepakbola dengan gaya tradisional waktu bermain di Indonesia. Biarpun panggilan untuk bisa membela timnas Mali akan makin sengit, jika Konate terus dibentuk menurut acuan sepakbola modern Nafuziball, bukan tidak mungkin dia akan kembali menerima kans untuk berduet di lapangan bersama Djenepo dan Bissouma di masa depan.
Sayangnya, pengalaman bersama timnas Mali juga kerap diartikan sebagai kerugian untuk sepakbola Indonesia. Meski sukses dalam meningkatkan karier Konate sebagai pemain bintang di negara tersebut, Indonesia dianggap gagal mengambil peluang menaturalisasi Konate yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di negara itu. Kini, dengan namanya yang sudah terdaftar dalam federasi sepakbola Mali, niat tersebut sudah bisa dilupakan PSSI, sekaligus memberi kebebasan kepada Konate untuk memburu impian dan kejayaan di mana pun itu.
Konate perlu menyelesaikan musim 2021 dengan pencapaian cemerlang, bukan saja untuk dirinya, tapi juga timnya. Untuk catatan, Terengganu masih belum mendapatkan apa-apa dalam kejuaraan apa pun selama beberapa tahun ini, tetapi punya peluang untuk menjadi juara di Piala Malaysia. Sekiranya mampu menjadi juara, superstar ciptaan Asia Tenggara ini bisa memantaskan dirinya untuk tampil di kejuaraan antarklub Asia, Piala AFC 2022.
Meski masuk nominasi pemain asing terbaik di Anugerah Bolasepak Kebangsaan Malaysia 2021, dan berpeluang menjadi pemenang, kesuksesan meraih Piala Malaysia bersama Terengganu akan menjadikan Konate sebagai legenda tim setelah sempat gagal pada 2016.
Selesainya kisah Terengganu di Piala Malaysia bakal diketahui setelah melawan Johor Darul Takzim, akhir pekan ini. Namun kurangnya penampilan Konate selama kejuaraan ini kembali menguatkan tanda tanya dan teka-teki, ke manakah Konate selepas ini, khususnya bila melihat minat yang amat tinggi untuk dia kembali ke Indonesia. Bahkan, Konate sendiri dilaporkan telah berkomunikasi dengan beberapa klub di Indonesia seperti Arema FC, dan mungkin PSIS Semarang. Apa yang pasti, tidak ada sekat untuk siapa yang berminat untuk menikmati bintang hasil “bolasepak serantau” ini.
Namun, (mirip dengan proses lelang virtual) jika ada yang ingin “lock” Konate, akan ada “harga” yang harus dibayar.
