Presiden Olympique Lyon, Jean-Michel Aulas kembali mengkritik keputusan pembatalan Ligue 1 Prancis musim ini, menyebutnya sebagai langkah bodoh.
Sisa kampanye Ligue 1 musim 2019/20 dianulir pada bulan lalu karena pandemi virus corona yang tak menunjukkan tanda-tanda mereda waktu itu.
Prancis menjadi satu-satunya negara asal lima liga top Eropa yang menghentikan musim secara dini, dengan Bundesliga Jerman telah kembali digelar dan La Liga mendapat lampu hijau dari pemerintah Spanyol untuk melanjutkan kompetisi mulai 8 Juni.
Sementara itu, optimisme juga dimiliki oleh Serie A Italia dan Liga Primer Inggris untuk bisa kembali menggulirkan kompetisi pada pertengahan bulan depan.
Aulas menyebut keputusan pembatalan Ligue 1 musim ini sebagai langkah yang terburu-buru.
"Pada kenyataannya, apa mereka katakan pada pertemuan dengan UEFA adalah kesabaran," ujar Aulas kepada L'Equipe, Sabtu (23/5) kemarin.
"Ketika kita melihat bahwa para pemimpin kita hadir di sana, menarik kesimpulan yang berbeda, bisa dikatakan kita bena-benar bodoh, maafkan saya atas bahasa itu."
Aulas lantas mendesak agar keputusan pembatalan dipertimbangkan kembali dan mengambil contoh Spanyol, negara yang lebih parah terkena dampak COVID-19, bisa segera melanjutkan kompetisi sementara Prancis sebaliknya.
"Akan tetapi sangat paradoksal bahwa negara seperti Spanyol, yang terkena dampak lebih parah akibat pandemi ketimbang Prancis, mampu berpikir dan menemukan jawaban," imbuhnya.
Spanyol memiliki lebih dari 282.000 kasus positif COVID-19 dan angka kemetian melewati 28.600, sementara Prancis 182.000 positif dan kematian mencapai 28.300.
Pembatalan Ligue 1 musim ini membuat Lyon harus finis ketujuh dan gagal mentas di Eropa untuk pertama kalinya dalam 23 tahun terakhir. Sementara Paris Saint-Germain dinobatkan sebagai juara.


