Berita Live Scores
Internazionale

Romelu Lukaku Jadi Korban Rasisme, Ultras Inter Milan Malah Dukung Cagliari

15.20 WIB 04/09/19
Romelu Lukaku Inter
Tifosi fanatik Nerazzurri tersebut mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan terkait aksi rasisme yang dialami Lukaku.

Ultras Inter Milan yang tergabung dalam Curva Nord mengklaim bahwa tuduhan pelecehan yang dilakukan tifosi Cagliari kepada Romelu Lukaku bukanlah aksi rasisme melainkan bentuk "penghormatan".

Lukaku, yang memecahkan rekor transfer Inter ketika direkrut dai Manchester United bulan lalu, dilaporkan menjadi sasaran cemoohan dengan suara-suara monyet dari suporter Cagliari ketika mencetak gol penalti yang membawa Nerazzurri menang 2-1 di Sardegna Arena, Senin (2/9) dini hari kemarin.

Sang penyerang internasional Belgia kemudian meminta para pemain untuk bersatu demi melawan segala bentu diskriminasi, dengan fans Cagliari memang terkenal sering melancarkan aksi rasisme terhadap banyak pesepakbola berkulit gelap, di antaranya Sulley Muntari, Blaise Matuidi dan Moise Kean.

Namun, Curva Nord, yang biasa mendiami tribune utara Giuseppe Meazza dan sering vokal terhadap kebijakan Inter, merespons komentar Lukaku dengan sebuah surat terbuka dan yang mengejutkan justru cenderung mengatakan aksi tifosi Cagliari bukan merupakan masalah besar di Italia.

"Hai Romelu. Kami menulis kepada Anda atas nama Curva Nord; ya, orang-orang yang menyambut kedatangan Anda di Milan," tulis mereka melalui laman Facebook.

"Kami benar-benar menyesal Anda berpikir bahwa apa yang terjadi di Cagliari adalah rasisme. Anda harus memahami bahwa Italia tidak seperti kebanyakan negara Eropa utara lainnya, di mana rasisme merupakan masalah yang nyata."

"Kami mengerti bahwa itu mungkin terdengar seperti rasisme bagi Anda, tapi tidak seperti itu. Di Italia kami menggunakan beberapa 'cara' hanya untuk 'membantu tim' dan mencoba membuat lawan kami gugup, ini bukan rasisme tetapi untuk mengacaukan konsentrasi lawan."

Curva Nord malah menganggap tindakan fans Cagliari sebagai bentuk dukungan terhadap tim kesayangan mereka dan Lukaku diminta untuk bangga karena menerima bentuk teror semacam itu dan menilainya sebagai bentuk pengakuan akan kualitas sebagai pemain.

"Kami tidak rasialis, begitu juga dengan fans Cagliari," lanjut mereka. "Anda harus memahami bahwa di semua stadion Italia orang bersorak tak hanya untuk tim mereka tetapi juga untuk lawan. Ini bukan untuk rasisme tetapi untuk 'membantu' tim."

"Mohon anggap sikap penggemar Italia ini sebagai bentuk penghormatan terhadap fakta bahwa mereka takut kepada kemampuan mencetak gol Anda, bukan karena mereka membenci Anda atau bersikap rasisme."