Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

Cabo Verde v Saudi Arabia: Group H - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

Diterjemahkan oleh

Luka tahun 2002 kembali terbuka... dan Arab Saudi kembali mengalami mimpi buruk

Kegagalan tim nasional Arab Saudi lolos dari Piala Dunia 2026 bukan sekadar akhir dari partisipasi yang mengecewakan, melainkan juga mengungkap salah satu edisi paling mengecewakan dalam sejarah “Al-Akhdar”. Setelah menaruh harapan besar untuk lolos ke babak gugur, tim nasional justru menduduki posisi terbawah di grupnya dengan hanya mengumpulkan dua poin, hanya mencetak satu gol, sementara gawang mereka kebobolan lima kali—hasil yang mencerminkan kehancuran secara teknis dan ofensif yang mengejutkan para penggemar.

Masalahnya bukan hanya pada hasil akhir, melainkan juga pada penampilan tim yang kurang memuaskan sepanjang babak penyisihan grup. “Al-Akhdar” kekurangan solusi serangan, gagal menciptakan peluang maupun memanfaatkannya, sehingga tampak tak mampu mengancam gawang lawan di sebagian besar pertandingan turnamen, seolah-olah lini serang sama sekali tidak ada.

Timnas Saudi hanya mampu mencetak satu gol sepanjang turnamen, yang dicetak oleh bek Abdul-Ilah Al-Omari dalam pertandingan pembuka melawan Uruguay—sebuah angka yang mengejutkan dan mencerminkan besarnya krisis serangan, menurut laporan surat kabar “Al-Sharq Al-Awsat”. Yang lebih menyedihkan lagi, para bek justru lebih efektif daripada para penyerang, sebuah gambaran yang merangkum penderitaan tim di depan gawang.

Hasil ini kembali mengingatkan pada Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang, ketika tim nasional Saudi tersingkir dari babak penyisihan grup tanpa mencetak satu gol pun, dan kebobolan 12 gol, Memang edisi kali ini tidak mengalami keruntuhan pertahanan sebesar itu, namun mengungkap krisis serangan yang tak kalah serius, serta kembali mengangkat isu penurunan performa penyerang Saudi dan ketidakmampuannya bersaing di level tertinggi.

Kegagalan ini terasa semakin pahit karena turnamen kali ini menawarkan peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk lolos, setelah jumlah tim ditingkatkan menjadi 48 tim, serta pemberian tiket tambahan bagi tim-tim yang menempati posisi ketiga. Meskipun demikian, “Al-Akhdar” gagal memanfaatkan peluang bersejarah ini, sehingga melanjutkan rentetan kegagalan lolos ke babak gugur untuk keenam kalinya berturut-turut di Piala Dunia, sebagaimana dilaporkan surat kabar “Al-Sharq Al-Awsat”.

Selama perjalanannya, tim nasional hanya mampu bermain imbang melawan Uruguay dan Cape Verde, sebelum menerima pukulan telak berupa kekalahan telak 4-0 dari Spanyol, sehingga mengakhiri turnamen tanpa satu pun kemenangan, dalam edisi di mana mereka kekurangan karakter, efektivitas, dan kemampuan bersaing.

Jika Piala Dunia Qatar 2022 menyaksikan kemenangan bersejarah atas Argentina dan memberikan harapan kepada para penggemar akan kemampuan tim nasional untuk bersaing dengan tim-tim besar, edisi 2026 justru menghancurkan citra tersebut sepenuhnya, setelah “Al-Akhdar” tampil dengan kualitas yang lebih rendah, karakter yang lebih lemah, dan ketidakmampuan yang lebih besar untuk menyaingi lawan-lawannya.

Pukulan terakhir terjadi saat menghadapi tim nasional Cape Verde, ketika tim nasional Saudi memiliki peluang emas untuk lolos ke babak 32 besar, karena hanya kemenangan yang cukup untuk memastikan tiket lolos. Namun, saat menghadapi tim yang menduduki peringkat ke-64 dalam klasemen FIFA—enam peringkat di bawah Arab Saudi—“Al-Akhdar” tampak tak mampu memanfaatkan peluang termudah sekalipun, sehingga harus tersingkir lebih awal dari Piala Dunia.

Iklan

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google