Salah satu aspek paling kejam dari dampak pandemi pada sepakbola adalah fans tidak bisa menyemangati para pemain secara langsung, terutama mereka yang mencapai tahap akhir dalam karier.
Beruntung bagi fans Real Madrid. Meski Luka Modric kini sudah berusia 36 tahun, usia di mana sebagian besar pemain gantung sepatu, dia tidak menunjukkan tanda-tanda melambat - begitu pula Los Blancos.
Sang maestro lini tengah asal Kroasia itu mendapat tepuk tangan yang meriah ketika dia ditarik keluar jelang akhir pertandingan dalam kemenangan derby 2-0 atas Atletico Madrid di santiago Bernabeu akhir pekan lalu.
Tingkat kerja, kualitas pada bola, dan sentuhan berkelas terus membuat fans Madrid mengelu-elukan dirinya. Pelatih Carlo Ancelotti bahkan memberi pelukan gembira di akhir pertandingan.
"Modric, Modric, Modric," ujar Ancelotti ketika ditanya apa yang dia sukai dari pertandingan tersebut.
"Modric luar biasa, apa lagi yang bisa saya katakan? Saya memeluknya dan mengucapkan selamat kepadanya karena permainannya yang luar biasa."
Getty ImagesKarim Benzema dan Marco Asensio mencetak gol untuk kemenangan ini, dengan Vinicius Junior yang mengkreasi peluang untuk keduanya, namun nama Modric pantas mendapat pujian besar karena ia justru yang mendominasi permainan tim.
Real Madrid kini sudah memenangkan sepuluh pertandingan secara berturut-turut dan mereka semakin kuat. Mereka telah mengalahkan tujuh tim yang tepat berada di bawah mereka, termasuk Barcelona.
Saat ini, Real Madrid berada di puncak klasemen sementara La Liga dengan mengumpulkan 42 poin dari 17 pertandingan, unggul lima angka atas Sevilla dan sembilan angka atas Real Betis dengan jumlah laga yang sama.
Real Madrid akan menghadapi menjamu Cadiz di Bernabeu, Senin (20/12) dini hari WIB. Jika menang di pertandingan ini, posisi tim asal ibukota Spanyol itu akan semakin sulit dikejar.
Modric telah menjadi yang terbaik meski usianya tidak muda lagi, sementara rekan-rekan setimnya di lini tengah, Toni Kroos dan Casemiro, yang menjadi menjadi sekutu sempurnanya. Jangan pikirkan Fede Valverde dan Eduardo Camavinga, dua gelandang yang sangat menjanjikan tapi mereka tidak mampu menggulingkan trio petahana.
Di depan, Vinicius dan Benzema membentuk kemitraan menyerang yang tidak tertandingi di Spanyol, sementara mungkin yang paling mengesankan, pertahanan telah mendapatkan stabilitas.
Getty ImagesSetelah Sergio Ramos dan Raphael Varane pergi, Madrid tampak lemah di lini belakang. Namun, David Alaba bisa menunjukkan dengan performa yang sangat bagus, dan ia bisa menyerang sama efektifnya dengan para pendahulunya.
Eder Militao juga mengambil langkah yang maju dan menjadi pelapis yang bagus untuk Alaba.
Di belakang mereka, Thibaut Courtois sedang dalam performa terbaiknya di Madrid. Kiper asal Belgia itu menikmati perannya sejak bergabung dari Chelsea pada 2018.
Courtois tidak terkalahkan di Bernabeu lawan Atletico, terutama ia menggagalkan upaya dari Antoine Griezmann dan Joao Felix.
Soliditas itu, yang belum bisa dicapai Atletico maupun Barcelona, berarti El Real adalah favorit kuat untuk merebut kembali gelar La Liga dari Los Rojiblancos berutan Diego Simeone.
Atletico memulai babak pertama lebih bagus dari Madrid, namun tendangan voli Benzema membawa tuan rumah unggul. Cerita seperti terulang di babak kedua, dengan Felix mengancam beberapa kali sebelum Asensio mencetak gol kedua.
Madrid besutan Ancelotti mengetahui bagaimana menyerap tekanan dan melakukan serangan balik yang mematikan. Mereka melakukannya di El Clasico lawan Barcelona, dengan Alaba mencetak gol yang bagus, dan lagi lawan Atletico.
"Mereka bermain sangat meyakinkan," ujar Simeone. "Ini adalah sepakbola yang saya suka, dengan blok rendah dan kecepatan di depan. Mereka menjalani musim yang sangat bagus."
Performa Modric terlihat sangat krusial di pertandingan lawan Atletico, dan dia menunjukkan hal itu di depan fans.
"Pfffff," ujar Vinicius, nyengir setelah mendengar nama rekan setimnya itu. "Modric luar biasa. Sepertinya dia berusia 22 tahun. Tidak diragukan lagi dia adalah yang terbaik."




