OLEH SANDY MARIATNAIkuti di Twitter
Dalam budaya barat, 31 Oktober selalu identik dengan perayaan Halloween, ketika orang-orang merayakan hari kematian tersebut dengan kostum-kostum yang menakutkan.
Di sepanjang kariernya, setiap kali Halloween tiba, Luis Suarez juga terlihat menyeramkan. Tentu bukan karena ia mengenakan kostum vampir atau serigala jadi-jadian, melainkan karena performa impresifnya di lapangan hijau.
Ya, sejak berkarier di Eropa, Suarez punya kebiasaan untuk selalu tancap gas sejak awal musim. Entah itu saat berkiprah di Groningen, Ajax Amsterdam, Liverpool, dan kini di Barcelona, penyerang Uruguay itu selalu rutin mencetak banyak gol sebelum musim memasuki November.
Namun Halloween tahun ini terasa ganjil bagi Suarez. Jika sebelumnya ia sukses mencetak banyak gol hingga penghujung Oktober di tiap musimnya, maka di musim ini ia baru mengemas tiga gol dari 13 laga. Jumlah ini menjadi yang paling kecil di sepanjang kariernya.
Kecuali di awal musim 2014/15, ketika ia menjalani suspensi karena menggigit Giorgio Chiellini di Piala Dunia 2014 sehingga baru bisa tampil sekali per 31 Oktober, Suarez minimal mencetak lima gol. Bahkan, saat ia diskors di awal musim 2013/14 karena menggigit Branislav Ivanovic, Suarez yang hanya tampil lima kali masih sanggup memborong enam gol bersama Liverpool.
Laga terbaru melawan Olympiakos di Liga Champions yang berakhir 0-0, Selasa (31/10), menjadi bukti terbaru bahwa Suarez sedang kehilangan ketajamannya. Berduet dengan Lionel Messi dalam formasi 4-4-2, Suarez sebetulnya tidak kesulitan menciptakan kans.
Tujuh percobaan tembakan berhasil dilepaskan, hanya saja penyelesaian akhirnya masih lemah. Banyak peluangnya yang bisa ditepis kiper, diblok bek, atau malah memberi umpan kepada Messi saat seharusnya menembak. Suarez terlihat tidak percaya diri di kotak penalti yang selama ini menjadi wilayah favoritnya.

Kemajalan Suarez di awal musim 2017/18 ini tentu menimbulkan pertanyaan karena tidak biasanya striker haus gol seperti dirinya tiba-tiba kepayahan menjebol gawang lawan. Analisis paling masuk akal adalah karena penempatan posisinya di musim ini yang sedikit melebar.
Seperti diketahui, alih-alih memasang Suarez, pelatih Ernesto Valverde lebih suka menempatkan Messi sebagai penyerang tengah. Suarez pun terpaksa mengalah ke sisi kiri atau kanan lapangan dan menjadi pelayan Messi. Sayang bagi Suarez, Messi sebagai penyerang tengah ternyata sangat produktif di musim ini. Sebagai predator murni yang biasa diplot sebagai ujung tombak, situasi ini tentu tidak ideal untuk Suarez.
Namun menurut Valverde, sang tertuduh dalam kemajalan Suarez di musim ini, tidak perlu ada yang dirisaukan terkait isu ini. “Makin sering Suarez membuang peluang, maka akan makin baik. Itu artinya, dia masih terus menciptakan peluang,” kata Valverde selepas laga di Yunani.
Sebagai catatan tambahan, Suarez juga belum membikin gol dari empat laga Liga Champions musim ini. Logikanya, dengan performa Suarez seperti sekarang ini, jangan harap Barca bisa menjadi juara Liga Champions. Valverde harus menemukan solusi untuk mengembalikan Suarez yang dulu.
