Pelatih Persib Bandung Luis Milla meyarankan agar Barcelona melupakan adanya keajaiban di Liga Champions, dan sepenuhnya fokus mengejar juara La Liga musim 2022/23.
Milla merupakan sosok yang tidak asing dengan Barcelona dan Real Madrid, serta sudah merasakan El Clasico sebanyak 17 kali. Milla merasakan itu sebanyak 12 kali bersama Madrid, dan lima kali dengan Barcelona.
Dibandingkan musim lalu, start Barcelona di kompetisi domestik lebih baik pada tahun ini. Mereka kini berselisih tiga poin setelah ditumbangkan Madrid 3-1 akhir pekan kemarin.
Sedangkan di Liga Champions, Barcelona kini hanya menunggu keajaiban untuk lolos ke 16 Besar. Mereka sekarang berada di peringkat ketiga dengan empat poin, tertinggal delapan angka dari Bayern Munich. Barcelona pun berselisih empat poin dengan Inter Milan.
“Situasi Barca rumit, itu jelas. Tetapi mereka harus mulai lebih fokus pada La Liga dengan mengorbankan [kemungkinan adanya] keajaiban di Liga Champions,” ujar Milla dalam wawancaranya dengan AS.
Milla menyebutkan, kegagalan di Liga Champions tentunya akan menjadi pukulan telak bagi Xavi Hernandez. Sebagai pelatih, Xavi tentunya akan menjadi sasaran tembak fans Blaugrana.
“Ya itu akan menyakiti dia. Dia adalah pelatih yang dipercaya [Joan] Laporta, dia tahu kondisi klub, dan ruang ganti, karena dia sudah berada di sana selama bertahun-tahun. Dia memiliki masa depan yang hebat,” ucap Milla.
“Namun tuntutan di Barcelona sangat maksimal, Ketika ada hasil buruk, seperti kasus lainnya, mereka akan menembak dengan cepat ke arah pelatih, dan lebih banyak lagi [hal] seperti itu di klub besar.”
Mantan pelatih timnas Indonesia ini pun memberikan analisa tentang pengelolaan klub antara Barcelona dan Madrid. Menurut Milla, Madrid lebih baik dibandingkan Barcelona.
“Terlepas dari kenyataan Barca telah mendatangkan pemain top, dalam hal kesinambungan dan siklus perubahan manajemen, Madrid yang tidak banyak mendatangkan pemain, sangat baik, dan berada di atasnya,” papar Milla.
“Madrid telah bekerja dengan cara yang sangat baik dalam beberapa tahun terakhir. Sementara Barca, dengan direksi sebelumnya, belum dapat mendaur ulang diri sendiri, dan baru memulai tahun lalu.”
“Laporta, serta tim manajemen olahraga dan ekonomi telah melakukan pekerjaan dengan baik. Sekarang terserah Xavi dan para pemain untuk menerapkannya. sementara Madrid memiliki mentalitas yang sangat kuat setelah menjuarai Liga Champions dan La Liga. Mereka adalah tim yang sangat solid.”
