Joachim Low masih merupakan pelatih yang tepat untuk memimpin Jerman di masa-masa sulit ini meski baru kalah telak 6-0 lawan Spanyol, menurut federasi mereka.
Hanya membutuhkan satu poin untuk mengamankan tempat di semi-final UEFA Nations League, Jerman justru dipermalukan di Seville oleh La Roja, yang menang setengah lusin gol berkat hat-trick Ferran Torres lalu disusul Alvaro Morata, Rodri dan Mikel Oyarzabal.
Itu adalah kekalahan terbesar yang dialami juara Piala Dunia 2014 sejak terakhir mereka kalah dari Austria dengan skor yang sama pada 1931, lalu ada Manuel Neuer yang juga untuk pertama kalinya kebobolan enam gol dalam laga kompetitif.
Low mendeskripsikan kekalahan itu sebagai momen yang mengerikan, mengingat Jerman gagal melepaskan tembakan tepat sasaran dan hanya memiliki 30 persen penguasaan bola sepanjang pertandingan.
Keputusan Low untuk mencoret sejumlah pemain berpengalaman seperti erome Boateng, Mats Hummels dan Thomas Muller juga kini diperdebatkan dan mulai muncul suara agar sang pelatih 60 tahun berhenti dari tugas internasional.
Fritz Keller, presiden Federasi Sepakbola Jerman (DFB), mengakui memang selalu ada kemungkinan hadirnya momen-momen sulit karena Jerman melalui periode transisi menjelang Euro 2020.
Namun, ia tetap yakin Low dapat membalikkan situasi dan menciptakan tim yang mampu menjadi pesaing juara tahun depan, serta mendapatkan tiket ke Piala Dunia 2022 dan Euro di kandang sendiri empat tahun berselang.
"Kami mengalami malam yang kelam di Seville, yang menyakitkan kami," kata Keller melalui sebuah pernyataan. "Para penonton di rumah, saya, pelatih, para pemain."
"Saya berada di ruang ganti setelah peluit akhir dan saya merasakan kekecewaan yang luar biasa dari semua orang. Tapi juga ada keinginan untuk memperbaiki perasaan ini."
"Tim muda kami bisa bertumbuh dari kemunduran parah di mana pertandingan ini, tidak hanya hati dan semangat yang menghilang, dianalisis dengan cermat dan memunculkan kesimpulan yang tepat. Mereka memiliki potensi."
"Kami membuat keputusan untuk membawa perubahan dengan banyak pemain baru dan muda dengan prespektif tertentu. Seperti yang terlihat kemarin, jalur ini bisa menjadi lebih sulit dan juga mengarah pada kekalahan yang menyakitkan."
"Tapi bahkan jika kami semua ingin keluar dari kesulitan ini dan sampai saat itu, kesuksesan di kancah internasional, tantangan kami masih berupa membentuk tim yang kuat untuk tiga turnamen besar berikutnya: Euro tahun depan, Piala Dunia 2022 dan Euro di kandang sendiri pada 2024."
