Louis Van Gaal Netherlands World Cup 2022Getty Images

Louis Van Gaal Ibaratkan Duel Lawan Qatar Seperti Main Catur

Pelatih Belanda Louis van Gaal tidak akan mengubah sistem permainan ketika menghadapi laga penentuan melawan Qatar pada matchday pamungkas Grup A Piala Dunia 2022, Selasa (29/11) malam WIB.

Belanda membutuhkan kemenangan di pertandingan ini setelah mereka hanya bermain imbang 1-1 melawan Ekuador. Kemenangan bisa mengantarkan Belanda lolos ke 16 sambil berharap duel antara Ekuador dan Senegal berakhir dengan hasil imbang, atau salah satu tim menelan kekalahan.

Hasil imbang dari Ekuador membuat Van Gaal mendapat kritikan dari publik sepakbola Belanda. Mereka mempertanyakan skema permainan 5-3-2 yang dikembangkan Van Gaal tidak efektif.

Van Gaal tidak terlalu peduli dengan kritikan yang ditujukan kepada dirinya, mengingat hasil yang diraih Belanda di bawah asuhannya dianggap positif, yakni 17 laga tanpa kekalahan.

“Setiap pertandingan di Piala Dunia sulit. Anda bisa melihat itu di hasil akhir, dan di semua undian. Anda melihat kemenangan kecil, dengan pengecualian,” ujar Van Gaal dikutip laman Voetbal International.

“Qatar juga bermain dalam sistem 5-3-2, kemudian Anda mendapatkan sistem satu sama lain, dan itu akan menjadi pertandingan catur. Itu tidak selalu enak buat ditonton, tetapi ini adalah cara untuk bergerak maju.”

“Saya sudah memikirkan ini (skema 5-3-2) selama satu setengah tahun. Saya mungkin mengubahnya di beberapa titik, tetapi saya tidak melihat kebutuhan untuk itu saat ini.”

Kesamaan skema ini membuat duel lebih sering terjadi di sektor sayap. Van Gaal mengakui peran kedua sayap di dua laga sebelumnya belum berjalan dengan baik, terutama saat melawan Ekuador. Namun ia meyakini sektor itu akan lebih agresif di laga nanti.

“Itu juga ada kaitannya dengan solusi penguasaan bola yang harus kami buat sebagai sebuah tim. Tapi mereka tidak cukup baik. Ini juga berkaitan dengan fakta kami bermain melawan sistem yang dapat melawan bek sayap dengan baik,” beber Van Gaal.

“Kami harus bisa melakukannya di setiap pertandingan, dan para pemain juga bisa melakukannya. Saya tidak berpikir itu bisa menjadi masalah. Dari sudut pandang saya, Ekuador adalah pengecualian.”

Iklan
0