Thomas Tuchel Romelu Lukaku ChelseaGetty Images

Imbangi Liverpool Dengan 10 Pemain, Bukti Mental Juara Chelsea

Adagium "Attack wins you games. Defence wins you titles" sudah menjadi dogma yang kerap digaungkan oleh penggemar sepakbola.

Cara bermain Chelsea memang tidak cantik-cantik amat, tetapi Thomas Tuchel telah menyulap The Blues menjadi tim alot yang difavoritkan sebagai juara Liga Primer Inggris.

Lagi-lagi hal itu terbukti saat ia memimpin pasukannya mementahkan kengerian Anfield Sabtu (28/8) malam, yakni ketika mereka menahan serangan bertubi-tubi Liverpool hanya dengan 10 pemain selama 45 menit, dan berhak membawa pulang satu poin krusial.

Saat Reece James menghalau bola dengan lengannya di kotak penalti, ia tahu ia dalam masalah. Namun, masalah itu lebih ngeri dari yang ia bayangkan, ia diusir keluar lapangan setelah wasit Anthony Taylor melihat tayangan ulang VAR.

Mohamed Salah mengeksekusi penalti dengan sempurna, dan dua pemain Chelsea mendapat kartu kuning karena memprotes keputusan wasit. Cesar Azpilicueta cs harus menutup paruh pertama dengan kacau balau, disertai emosi yang tinggi.

Bagai sudah jatuh tertimpa tangga, N'Golo Kante terpaksa ditarik lantaran cedera. Ia ditukar dengan Mateo Kovacic begitu babak kedua dimulai, dengan Kai Havertz dikorbankan demi Thiago Silva untuk melapisi pertahanan. 

Meski kalah jumlah dan tersulut emosi di akhir 45 menit pertama, Chelsea berhasil tetap tenang dan menyuguhkan defensive masterclass di babak kedua. Mereka saling jaga, berkoordinasi dengan baik di lapangan, dan meredupkan kilap trisula Diogo Jota, Salah, dan Sadio Mane.

Rancangan Jurgen Klopp tak sekalipun mampu menciptakan peluang emas di hadapan pertahanan si juara Eropa, anak asuhnya cuma bisa melepaskan tembakan-tembakan jarak jauh tak bertaji yang tak mampu menguji Edouard Mendy.

Andreas Christensen dinobatkan sebagai pemain terbaik laga tersebut dan dikabarkan akan segera memperpanjang kontraknya, Tuchel pasti tak sabar untuk segera mengamankan masa depan salah satu pilar utama pertahanannya itu.

Reece James red card GFXGetty Images

"Andreas sudah sangat kuat sejak awal. Ia bermain di posisi sentral dan bergeser ke kanan karena kami memasukkan Thiago demi menjaga skema lima bek," ujar Tuchel.

"Ia sangat kuat. Sungguh bertalenta. Ia mencintai Chelsea, ia anak Chelsea dari akademi. Ini memiliki dampak besar. Saya rasa saat ini ia merasakan kepercayaannya. Ia tahu ia sangat bisa membantu."

"Ia bek top dan pria top. Saya merasa ia akan terus bertumbuh setiap pekan, baik rasa percaya diri maupun kepribadiannya, dan itu bagus. Kinerjanya fantastis sejak hari pertama dan semakin baik."

Kehadiran Silva menginspirasi, dan Antonio Rudiger menggunakan keagresifannya dengan cerdik setelah dikartu kuning.

Marcos Alonso belari hingga 11,55km dan menjadi tumpuan serangan balik, sementara Romelu Lukaku adalah No. 9 sempurna untuk situasi seperti ini. Memang tak ada gol yang ia lesakkan, tetapi Tuchel harus kagum karena striker mahalnya itu mau berkorban untuk tim.

Mason Mount nyaris mengunci laga ini di babak pertama saat tendangannya melebar, tetapi energinya tak tergantikan dalam trio gelandang bersama Kovacic dan Jorginho. Jorginho sendiri juga berlari hingga 11km, Pemain Pria Terbaik UEFA itu sampai mendapatkan aplaus meriah saat ditarik keluar.

Kai Havertz Antonio Rudiger Chelsea GFXGetty Images

Chelsea menggengam erat-erat nilainya dan merebut satu poin di situasi yang tak menguntungkan, terlebih di stadion yang terkenal angker di Inggris. Pun ini bukan hanya soal kerja keras; filosofi Tuchel yang tak bisa ditawar terlihat menonjol malam itu.

Beberapa kali menyaksikan Tammy Abraham dan Callum Hudson-Odoi ditarik karena kurang bertanggung jawab saat pressing musim lalu, para pemain The Blues sadar betul atas konsekuensi jika tidak disiplin.

Nilai ini yang selalu menjadi pegangan Chelsea bertahun-tahun, mereka memenangkan berbagai trofi dengan menjadi kuat fisik, penuh pemain energik, dan mengandalkan serangan balik.

Mematuhi arahan taktik Tuchel dengan loyal memungkinkan Chelsea mengangkat trofi Liga Champions Eropa musim lalu. Kini dengan skuad yang sepenuhnya percaya, dan telah menikmati hasilnya, mereka pantas mengincar gelar liga.

Memenangkan liga bisa dibilang sama beratnya dengan menjuarai Liga Champions; bayangkan menjaga konsistensi selama 38 partai, beruntung saja tidak cukup.

Ini memang pekan hiruk pikuk Cristiano Ronaldo, namun Chelsea dengan diam-diam dan sangkil menunjukkan kualitas dan mental sang juara. Jelas cara mereka tidak indah, tetapi jika ada trofi, siapa yang butuh keindahan?

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0