OLEH YUDHA DANUJATMIKAIkuti di twitter
Tak terasa, sudah hampir satu tahun berlalu sejak ‘nestapa Januari’ dialami oleh Liverpool. Pada momen tersebut, The Reds untuk pertama kalinya dalam musim 2016/17 harus bermain tanpa Sadio Mane karena sang winger harus membela negaranya di Piala Afrika. Siapa sangka, absennya satu pemain bisa mengubah nasib sebuah tim secara drastis, Liverpool langsung menjalani periode tanpa kemenangan selama Januari.
Jurgen Klopp berusaha mengantisipasi pengalaman buruk itu agar tidak terulang dan beberapa langkah telah diambil. Salah satu cara yang paling terlihat adalah memboyong Mohamed Salah dari AS Roma. Sebagai sesama winger , Mane dan Salah memiliki kecepatan lari yang luar biasa dan kiranya bisa diandalkan dalam skema gegenpressing yang menekankan pentingnya serangan balik cepat. Apalagi Salah punya rekor mentereng di Italia, mencetak 19 gol dan 14 assist.
Namun tak semuanya berjalan lancar untuk Jurgen Klopp. Terlepas dari performa buruk di awal musim, Liverpool ternyata masih merana tanpa Mane. Bintang asal Senegal itu masih sangat krusial dalam skema permainan heavy metal dan Salah sebagai pemain baru masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan cepat serta kerasnya sepakbola Inggris.
Masih Merana Tanpa Mane
Sebagai pembuka, kiranya perlu untuk dipaparkan statistik mengenai perbandingan situasi Liverpool dengan dan tanpa Mane. Jika melihat rata-rata, tentu perbedaan kedua statistik tidak terlalu mentereng, tapi mempertimbangkan bahwa perbandingan itu didasarkan pada 32 laga (dengan Mane) dan 14 laga (tanpa Mane), statistik tersebut akan bicara dengan sendirinya.
|
Dengan Mane |
Tanpa Mane | |
|
Main |
32 |
14 |
|
Gol per Laga |
2,2 |
1,5 |
|
Poin per Laga |
2,1 |
1,6 |
|
Menang (%) |
59 |
42 |
|
Kalah (%) |
13 |
23 |
Signifikansi Mane masih terasa betul bagi Liverpool. Tak hanya rerata gol yang menurun setiap kali Mane absen, bahkan pencapaian poin per laga dan kemenangan ikut menurun. Khusus untuk musim ini saja, pengaruh Mane masih terasa besar – Liverpool memenangkan 50 persen laga setiap kali Mane bermain (dengan catatan dikurangi laga kontra Man City, di mana sang pemain mendapat kartu merah dini), dengan rerata gol 1,8 per laga. Tanpa Mane, The Reds hanya mampu mencetak rata-rata satu gol per pertandingan.
GettyHal tersebut mendapat penegasan dalam laga kontra Manchester United akhir pekan lalu. Memang, United memiliki lini belakang rapat dan mereka bermain dengan garis pertahanan yang sangat rendah. Adapun mereka tetap tak luput dari kelengahan sehingga beberapa kali The Reds mampu melancarkan serangan balik. Sayang, tanpa Mane, tak ada serangan balik efektif yang bisa dilancarkan oleh Jurgen Klopp dkk.
Salah memang punya kecepatan yang tak kalah dengan Mane, tapi nalurinya berbeda dengan sang winger Senegal. Sementara Mane punya kecenderungan untuk mendribel bola langsung ke tengah gawang, Salah justru menyiapkan diri untuk duel satu lawan satu setiap kali menerima bola. Hal ini secara langsung memperlambat jalannya serangan balik Liverpool, apalagi jika tertekan, Salah jadi terburu-buru ingin lewat sehingga berlari melebar jadi solusi – dan gerak ini memperlebar jarak dengan pemain lain plus jarak ke gawang.
Angin segar sedikit berembus ketika Alex Oxlade-Chamberlain diperkenalkan. Bintang Inggris itu memang mendapat banyak kritik sejak pindah dari Arsenal, namun ada secercah pencerahan mengapa Klopp memboyongnya dengan harga mahal. Ox memberikan perubahan kecepatan serangan balik yang drastis dan di menit akhir, United kelimpungan menghadapinya. Satu-satunya hal yang payah dari eks pemain Southampton itu adalah finishing -nya.
Jadi Winger, Coutinho Malah Mampet
Sementara itu, untuk menutup absennya Mane, Philippe Coutinho diplot jadi pemain sayap kiri. Musim lalu, gelandang Brasil itu memang cemerlang di posisi tersebut dan gerakan plus gol cantik dengan gerakan reverse dari template Arjen Robben sering tercipta darinya. Namun jelang akhir musim, terungkap bahwa Coutinho bisa bermain lebih bebas ketika ditempatkan sebagai gelandang tengah.
Kreativitas Coutinho lebih tersalurkan jika ia memiliki ruang gerak ke kanan dan ke kiri. Dalam laga kontra Man United, pemain berusia 25 tahun itu kembali ditempatkan di sayap dan performanya sangat terbatas. Coutinho hanya mampu beroperasi di sektor kiri dan tengah, dan setiap kali menjemput bola, sayap kanan yang sejatinya strategis untuk menjadi titik tolak serangan balik, malah dibiarkan kosong.
Getty ImagesCoutinho mencatatkan nol peluang dalam laga kontra United.
Statistik Coutinho di sayap kiri bahkan lebih mengenaskan. Kendati diklaim sebagai salah satu gelandang terbaik dunia, Cou tak mampu menciptakan satu pun peluang di Anfield. Nol besar. Akurasi umpannya bahkan berada di bawah rata-rata, hanya mencapai 72 persen. Memainkan Coutinho di sayap kiri mungkin bukan solusi yang tepat untuk menggantikan Mane. Masalahnya adalah, siapa lagi yang bisa?
Inefisiensi Salah
Sebagai winger, Salah punya kemampuan mumpuni untuk merobek pertahanan lawan. Hanya saja dengan tempo sepakbola Inggris yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Italia, Salah selain terburu-buru mengambil keputusan. Hal ini berujung pada inefisiensi Salah di depan gawang, ia sering tertukar antara mengoper atau menembak, dan seandainya keputusan menembak, sepakannya seringkali hanya lewat di depan gawang.
Salah sudah mencatatkan 27 tembakan musim ini, angka yang cukup tinggi dibandingkan dengan pemain Liverpool lainnya. Walau begitu, sang bintang baru mencetak empat gol di Liga Primer Inggris. Pemain Mesir itu bahkan menyianyiakan dua kesempatan emas ketika menghadapi Man United. Peluang pertama tercipta ketika menyambut bola muntah Joel Matip, sementara peluang kedua menyambut sundulan Roberto Firmino.
Meski rekornya di Serie A begitu mentereng, Salah tetaplah manusia biasa yang butuh beradaptasi dengan lingkungan baru. Sudah lama dirinya tidak bermain di Inggris dan sepakbola dengan pendekatan fisik sudah lama tak ia rasakan. Apalagi gegenpressing sangat mengutamakan akurasi pressing dan bagaimana konstruksi serangan cepat yang tepat. Secara tidak langsung, Salah harus beradaptasi dengan dua iklim permainan yang benar-benar berbeda dari Roma musim lalu.
Getty ImagesStatistik recover bola Mohamed Salah masih terpaut jauh dari pemain Liverpool lain.
Lebarnya jurang antara pemain yang sudah fasih bermain gegenpressing dengan yang belum, bisa dilihat satu aspeknya dari efektivitas permainannya. Terutama dalam pressing dan bagaimana pemain merebut bola dari kaki lawan, Salah tampak masih kaku. Walau 27 tembakan sudah dilancarkan, Salah jarang berperan dalam merebut bola lawan. Ia hanya melancarkan satu tekel sukses dari total delapan pertandingan yang dilakoninya, bandingkan dengan Mane yang mencatatkan enam hanya dari empat pertandingan.
Sebenarnya tidak ada resep yang pas untuk mengakhiri permasalah Liverpool ini selain sabar. Salah adalah pemain baru dan dirinya butuh waktu untuk beradaptasi. Jika sudah mampu mencair dengan skema Klopp dan sepakbola Inggris, niscaya sang winger mampu jadi sama efisien dengan Mane.
Kesabaran yang kedua adalah menunggu Mane. Mencari pemain sekelas Mane, terutama yang sudah paham cara beroperasinya gegenpressing, memang sangat sulit. Namun jika megabintang Senegal itu sudah kembali dari cedera, dilengkapi dengan satu striker yang tajam, Liverpool akan menjadi klub dengan daya gedor yang tak terkalahkan.
Mau nonton pertandingan tim kesayangan kalian? Pastikan kalian memiliki kuota data VideoMAX SuperSoccer TV -- saluran streaming sepakbola paling lengkap! Nikmati keseruan aksi para bintang sepakbola dunia dengan cara mengaktifkannya melalui aplikasi MyTelkomsel atau menu akses *363*465#

