Berita Pertandingan
Liga Primer

Pembungkam Liverpool, Pembenci Judi: Siapa Sih Bos Baru Brighton Roberto De Zerbi?

14.38 WIB 04/10/22
Roberto De Zerbi Brighton
Brighton disebut mengambil risiko besar merekrut pelatih yang "tak kenal" Liga Primer Inggris, tetapi ia langsung sukses membungkam Anfield

Roberto De Zerbi memiliki sebuah ritual pasca-laga yang sangat spesifik saat masih menangani Foggia.

Menang, kalah, atau imbang, ia bakal menonton ulang pertandingan sehari setelahnya, dari detik pertama sampai terakhir, membuat catatan-catatan terperinci di tiap-tiap momen permainan.

Atensi terhadap detail yang sedemikian rupa mungkin sudah biasa di zaman sekarang, tapi itu cuma di level tertinggi. Foggia merupakan tim Serie C saat masih ditangani De Zerbi 2016 lalu.

De Zerbi rajin belajar dan menganut pendekatan yang liar, dua hal yang sangat berlawanan dari sebuah liga yang berstandar rendah dan memiliki nilai-nilai tradisional, yang lebih dikenal dengan brutalitas fisik alih-alih taktik-taktik kekinian.

Konsensus umumnya adalah bahwa tim-tim Serie C harus menjadi tim yang paling garang – alih-alih piawai bersepakbola – demi naik kasta.

Namun tim asuhan De Zerbi memainkan sepakbola yang proper. Mereka ulung dalam penguasaan bola, membangun serangan dari belakang, dan selalu ingin menyerang.

Enam tahun berselang, De Zerbi tak berubah banyak. Justru sebaliknya, pengalaman melatihnya di Palermo, Benevento, Sassuolo, dan Shakhtar Donetsk seamkin mengasah keyakinannya terhadap filosofi sepakbola yang ia imani.

De Zerbi sudah belajar dan semakin dewasa, tetapi tetap yakin sepenuhnya bahwa cara bermain sepakbola paling paling tepat adalah caranya. Dan kini dia bisa menguji metodologinya di Liga Primer Inggris.

He was named Graham Potter's successor at Brighton just before the international break and will only take charge of his new team for the first time on Saturday, at Anfield.

Dia ditunjuk sebagai suksesor Graham Potter di Brighton sebelum jeda internasional kemarin dan langsung diharuskan membawa timnya menyambangi Liverpool di Anfield, Sabtu (1/10) kemarin.

Tapi penunjukkannya sudah dikritik, terutama oleh Graeme Souness.

"Menurut saya ini berisiko," ucap legenda Liverpool itu kepada talkSPORT. "Anda menunjuk seseorang yang tidak tahu sepakbola kita."

"Kalau dicari di Google, Anda bakal menemukan dia melatih tujuh tim berbeda dalam sembilan tahun. Kalau Anda memang seorang pelatih bagus, harusnya tim mau mempertahankan Anda..."

Kritikan yang bakal diabaikan De Zerbi. Sejak dulu, dia memang sudah harus menghadapi banyak peragu.

Setahun lalu, filosofinya memicu perdebatan di Italia.

Bersama Sassuolo, De Zerbi memang sukses overachieving, dua kali finis kedelapan di Serie A sembari memainkan sepakbola atraktif, tetapi para pandit mempertanyakan kerapuhan pertahanannya.

Yep, Sassuolo mematikan saat menyerang, tapi lini belakang mereka keropos. Contoh: pada musim 2020/21, Sassuolo mencetak 64 gol tapi kemasukan 56.

Tapi mungkin pendekatannya yang dicap nekat itu tak mengejutkan, mengingat hubungannya dengan Foggia, yang dipandu Zdenek Zeman dari divisi ketiga ke Serie A di era 90-an dengan formasi 4-3-3 miliknya yang mendebarkan.

Namun De Zerbi juga sangat terinspirasi Pep Guardiola, yang ia kunjungi saat manajer Manchester City itu masih menangani Bayern Munich.

"Pengalaman yang sangat menarik," kata De Zerbi kepada La Repubblica 2015 lalu. "Tim Bayern dan Barcelona-nya adalah model yang menginspirasi saya."

"Tapi sejak masih menjadi pemain, saya sudah menghafal berbagai konsep dan mengadopsi mereka menjadi milik saya sendiri. Saya punya ide sepakbola saya sendiri."

Dan ia terus mengolahnya selama bertahun-tahun, meski mendapati pengalaman negatif di Palermo dan Benevento.

Kesuksesan mulai terlihat semasa di Sassulo, tetapi sayang masa baktinya di Shakhtar Donetsk harus berakhir lebih cepat gara-gara perang di Ukraina.

Shakhtar sedang di puncak klasemen saat liga ditunda awal tahun ini.

Saat itu, sepakbola jadi tak ada artinya setelah melihat kengerian invasi Rusia.

"Satu hari memang cuma 24 jam," katanya kepada Radio 105 soal pekan-pekan terakhirnya di Ukraina, "tetapi hari-hari terasa berjalan dengan amat sangat pelan, juga karena tak bisa tidur. DI malam hari, Anda bisa mendengar semuanya."

"Ada yang tidur di bunker, ada yang tidur di kamar sendiri. Saya tidur di kamar untuk memahami apa yang terjadi di luar hotel, tetapi saat mendengar ledakan, saya lari ke bunker."

Setelah berhasil lolos dari Ukraina, De Zerbi memimpin Shakhtar dalam sebuah 'Global Tour for Peace' sebelum akhirnya berpisah dengan mereka Juli kemarin.

Dia diprediksi bakal kembali ke Serie A, tetapi dia akhirnya hinggap di Inggris.

Belum apa-apa, De Zerbi memang sudah dikritik, tapi jangan harap dia bakal goyah dan ganti filosofi. Siap-siap terhibur di dalam dan luar lapangan.

Bagaimana tidak, De Zerbi bukan tipe yang takut bersuara. Ketika kabar Liga Super Eropa mencuat tahun lalu, De Zerbi mengamuk, melabeli kompetisi breakaway tersebut sebagai sebuah "kudeta".

Dia sempat menolak ke lapangan saat Sassuolo menghadapi AC Milan, salah satu anggota pendiri Liga Super, meski pada akhirnya terpaksa karena wajib.

Oleh karena itu, wawancara-wawancara De Zerbi bisa menjadi bahan perdebatan yang seru, tapi tentu saja penampilan tim asuhannya yang akan menjadi fokus utama.

Pengkritik sudah mengerubunginya bak hiu mencium bau darah, tapi dia terlihat sempurna buat Brighton, yang memainkan sepakbola keren tempaan Potter.

Seperti yang telah kita saksikan saat mengimbangi Liverpool 3-3 – bahkan unggul 2-0 sebelum genap 20 menit! – keganasan Brighton tak pudar begitu saja, dan De Zerbi kembali menerapkan metode build-up serangan dari belakang.

Di saat kebanyakan menganggapnya sebagai pendekatan yang berbahaya, dia merasa cara bermain selain itu justru lebih berisiko.

"Buat saya, melambungkan bola ke depan dan mencoba memenangkan bola kedua itu sama saja kayak judi, dan karena saya tak suka taruhan, saya lebih suka melatih sebuah tim memproses bola dengan hati-hati dari lini pertahanan," katanya kepada Bobo TV.

De Zerbi tahu apa yang ingin dia lakukan, dan bagaimana cara untuk mencapai gambaran idealnya tersebut.

Atas alasan itu saja, langkah "berisiko" yang menurut Souness diambil oleh Brighton rasanya sangat mungkin terbayar dengan spektakuler. Dan dengan hasil fantastis (sejujurnya sedikit mengecewakan karena kena come back) di Anfield, mungkin De Zerbi sukses membungkam mulut legenda Liverpool tersebut.