Berita Live Scores
Argentina

Lionel Messi Tak Mampu Tutupi Krisis Argentina

14.59 WIB 23/03/19
Lionel Messi Argentina Venezuela 22032019
Albiceleste dihajar 3-1 oleh Venezuela dan ini jadi catatan merah jelang Copa America, yang bahkan tak mampu ditutupi oleh comeback Messi.

Penantian yang panjang dan tidak menentu telah berakhir. Kurang dari sembilan bulan sejak lawatan terakhirnya di timnas Argentina, Lionel Messi kembali ke kancah internasional di Wanda Metropolitano. Legenda Albiceleste itu didukung oleh seluruh negara dan segenap warga memohonnya untuk mengakhiri masa heningnya.

Adapun tak butuh waktu enam menit bagi sang kapten untuk melihat betapa menakutkan tantangan yang harus dihadapi tim nasionalnya. Bahkan mungkin saja di sudut-sudut paling gelap dari pikirannya, dia mulai menyesali keputusan untuk kembali.

Hanya tiga pemain selain Messi, yakni kiper Franco Armani dan pasangan bek Nicolas Tagliafico dan Gabriel Mercado, selamat dari pencoretan selepas kekalahan dari Prancis di Piala Dunia pada 30 Juni 2018, dan turun bermain melawan Venezuela. Kuartet itu dipercaya Lionel Scaloni sebagai kunci untuk memperbarui tim nasional yang dipersenjatai oleh pemain muda. Pity Martinez dari Atlanta United adalah pemain tertua setelah mereka berempat, masih berusia 25 tahun, dan lainnya cuma pemain yang baru mencatatkan kurang dari 10 caps internasional.

Mercado bergabung dalam formasi tiga bek yang berisi debutan Lisandro Martinez dan Juan Foyth, sebuah set-up yang langsung hancur berkeping-keping setelah laga dimulai. Striker Newcastle United, Salomon Rondon, menghancurkan Armani lewat peluang perdana dalam pertandingan, setelah menguasai umpan jauh yang membuat Mercado lengah dan hanya terpana ketika jala Argentina terkoyak.

Bahkan dengan pemain terbaik dunia di lapangan, Argentina terlihat kacau. Martinez sebagai sayap kiri hanya mampu mengirim umpan silang tanpa visi, sementara duo gelandang lini tengah Leandro Paredes dan Giovani Lo Celso ditekan habis oleh permainan Venezuela.

Dalam pengulangan cerita yang menyedihkan itu, adalah Messi yang diwajibkan untuk menjemput bola dan menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Pada dua kesempatan di babak pertama dia melepaskan diri, melewati kawalannya dengan dribel uniknya, lalu melambungkan umpan silang sempurna ke Lautaro Martinez sebagai striker tunggal. Lautaro melakukan kontrol apik, tetapi kiper Wuilker Farinez melakukan dua penyelamatan gemilang.

Dan itu adalah momen terbaik Argentina yang terjadi di babak pertama. Darwin Machis kemudian mengekspos kelemahan Argentina dengan memaksa penyelamatan satu lawan satu dari Armani, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan olah sang kiper ketika Jhon Murillo melepaskan tendangan pisang, yang dimungkinkan hanya karena bek Argentina terlalu memberi ruang.


Pertahanan yang amburadul itu mendapat sedikit kelegaan ketika Lautaro mencetak gol balasan. Arsitek dari gol tersebut, sudah pasti, adalah sang kapten. Adapun gol itu tak lebih dari sekadar harapan palsu.

Josef Martinez mengembalikan keunggulan dua gol Venezuela tak sampai 20 menit lewati eksekusi titik putih. Satu lagi yang merupakan dampak dari kelengahan lini belakang Tim Tango dan akhirnya Venezuela keluar sebagai pemenang dengan skor 3-1.

Sebelum pertandingan ini dimulai, departemen media Argentina memproduksi video heboh yang membandingkan Messi dengan 10 pahlawan nasional, mulai dari penulis Jose Luis Borges hingga legenda Formula 1, Juan Manuel Fangio. Apa yang benar-benar dibutuhkan kapten, adalah 10 rekan setim yang mampu kreatif, cair, dan mampu memanfaatkan bakatnya yang istimewa.

Dari apa yang terlihat di Wanda Metropolitano, jalan tersebut masih panjang. Di seberang lapangan dan terutama di lini pertahanan, Albiceleste begitu rapuh, tidak terkoordinasi, dan amburadul. Kehadiran Messi bahkan tidak bisa menutupi krisis ini dan, parahnya, belum ada tanda-tanda kesiapan hanya tiga bulan sebelum dimulainya Copa America.