Berita Live Scores
Ballon D'Or

Lionel Messi Tak Layak Raih Ballon D'Or? SKANDAL!! Harusnya Dia Punya Lebih Banyak Lagi!

13.23 WIB 03/12/19
2019-12-02 Lionel Messi
Sejak memulai karier, idola fans Barcelona ini selalu tampil konsisten dan terus memasang standar baru di sepakbola.

Ballon d'Or keenam milik Lionel Messi layak menjadi lambang keberhasilannya sebagai pesepakbola paling sukses di penghargaan bergengsi ini, yang datang setelah sang superstar memperlihatkan dua performa hebat dalam rentang waktu empat hari. 

Setidaknya itu bisa jadi gambaran, karena aksi heroik Messi untuk Blaugrana lawan Borussia Dortmund dan Atletico Madrid adalah adegan yang sering kita lihat di sepanjang karier sang superstar. 

Di tengah-tengah debat mengular tentang apakah Messi benar-benar 'layak' mendapatkan trofi dini hari tadi, kita juga perlu melihat dari perspektif lain: jika pemenang Ballon d'Or benar-benar dipilih berdasar bakat murni dan kehebatan di atas lapangan, maka Messi seharusnya telah mengoleksi lebih dari sekadar enam trofi. 

Ever Benega, kawan tumbuh besar Messi di Rosario, adalah salah satu pemain yang menderita karena bakat hebat legenda hidup sepakbola dunia tersebut, tepatnya di kancah sepakbola lokal di Rosario. 

Bintang Sevilla itu membela Alianza sementara Messi adalah superstar lokal Grandoli. "Derbi junior Alianza adalah menghadapi Grandoli," kenangnya pada Ole pada 2007 di sebuah wawancara. 

"Kami sering berhadapan, tetapi beruntung dia pergi dengan cepat karena dia selalu menghancurkan kami. Dari dulu dia terlihat layaknya sebuah fenomena."

Fenomena yang disebut Banega pergi untuk mendeskripsikanapa  yang terbaik yang bisa dilihat dari lapangan hijau. Legenda-legenda sepakbola terbaik sebelumnya mungkin 'hanya' menaklukkan dunia dalam satu atau dua musim: tengok kegemilangan Ronaldo bersama Barca pada 1996/97, Zidane pada 1998. Diego Maradona memimpin Napoli dan Argentina berjaya di akhir 80an. 

Pun demikian dengan Messi yang memperlihatkan dominasi serupa dengan para legenda tersebut, bedanya dia melakukan itu dalam periode lebih dari satu dekade. 

Mencetak 40 hingga 50 gol dalam satu musim bisa dipandang sebagai torehan normal bagi pemilik nomor 10 tersebut, belum lagi sederet aksi individu menawan dan torehan assistnya. Tidak ada pemain di planet ini yang bisa menandingi Messi ketika menguasai bola, sebuah penilaian yang mungkin hanya bisa disanggah oleh satu-satunya rival terdekatnya yaitu Cristiano Ronaldo.

Ronaldo adalah satu-satunya alasan mengapa koleksi Ballon d'Or Messi tidak menyentuh angka dua digit pada 2019. Punya determinasi tinggi dan selalu tampil efektif di lapangan, bintang Portugal tersebut secara sistematis selalu bersaing dengan Messi dalam empat tahun terakhir - dan harus dikatakan ditandai oleh 'mesin lobi' Real Madrid yang tidak pernah terjadi sebelumnya di sejarah sepakbola - dengan aksi heroiknya di Liga Champions, kompetisi yang sekarang secara absurd dan dilebih-lebihkan punya peran terhadap penentuan pemenang penghargaan individu. 

Tetapi di antara jajaran pesepakbola elit lainnya, striker milik Juventus itu memang satu-satunya pemain yang bisa mengganggu dominasi Messi di dunia. Tetapi pada usia 34, sinar kegemilangan Ronaldo mulai memudar, dampaknya di Turin tampak berbeda jika dibandingkan dengan aksinya bersama Real Madrid yang berhasil melahirkan empat gelar Liga Champions dalam lima tahun. 

Ada sejumlah kandidat yang dinilai punya kemampuan untuk menggeser Messi sebagai yang terbaik di muka planet ini, yang paling dijagokan adalah Kylian Mbappe, tetapi penyerang Paris Saint-Germain tersebut belum bisa tampil secara konsisten seperti yang diperlihatkan Messi selama ini untuk mengklaim pesepakbola terbaik, bukan hanya digenerasinya tetapi di semua generasi.

Pemberian penghargaan Ballon d'Or dini hari tadi adalah penebusan dari situasi acara yang sama 12 bulan lalu ketika Messi terlempar ke urutan lima sementara Luka Modric menyabet penghargaan. Jadi tulang punggung Madrid dan berpengaruh besar terhadap keberhasilan Kroasia ke final Piala Dunia, sang gelandang memang pantas untuk memutus dominasi Messi dan Ronaldo di penghargaan individual. 

Tetapi kemudian kita juga bisa melihat, sejalan dengan performa rata-rata Modric sepanjang musim 2018/19,  Messi berhasil mengemas 51 gol dari 50 pertandingan yang berbuah gelar LaLiga dan itu adalah bukti yang sulit dibantah bagaimana sang bintang memang berada di atas level pemain-pemain lainnya. 

Sah-sah saja jika jagoan Liverpool Virgil van Dijk merasa kesal karena kalah, tetapi tidak seharusnya orang-orang meragukan kesuksesan Messi dini hari tadi yang juga telah membuatnya melewati pencapaian Ronaldo. 

Terlihat sebagai seniman sepakbola sejak pertama kali melangkahkan kaki untuk menghancurkan rival di Rosario bersama Grandoli, kita seharusnya tidak berargumen apakah Messi layak atau tidak meraih Ballon d'Or, tetapi justru memikirkan...

Hanya keajaibanlah yang membuatnya tidak memenangkan penghargaan tersebut setiap tahun!