PSSI & Tim Ad-HocPSSI

Liga Masih Terlarang, PSSI Tetap Bahas Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional

Kompetisi Indonesia sedang tiada, karena masih terlarang di tengah pandemi virus corona. Kegiatan sepakbola Indonesia pun sudah vakum sejak Maret tahun lalu, karena situasi pandemi yang melanda dunia.

Kondisi demikian tak lantas membuat PSSI selaku federasi sepakbola Indonesia diam di tempat. Mereka tetap mencoba sibuk dengan berbagai kegiatan, seperti menggelar pemusatan latihan (TC) timnas Indonesia.

Baru saja, PSSI juga membahas Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2019, yakni mengenai Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional (P3N), yang berusaha tetap dikejar meski situasi saat ini serba tidak mendukung.

Membentuk Tim Ad-Hoc merupakan salah satu cara PSSI untuk mengeksekusi P3N. Tim tersebut dihuni dari 18 orang, dan diketuai Dr.Ir. Agus Ambo Djiwa MP, serta wakil ketua umum Drs.Tommy Apriantono, MSc, PhD.

Dalam laporan Agus yang dilansir laman resmi PSSI, sepakbola adalah olahraga paling populer dan diminati masyarakat Indonesia. Bahkan jumlah penduduk Indonesia cukup signifikan sebagai penyumbang jumlah penggemar sepakbola dari seluruh dunia.

‘’Indonesia juga menjadi negara kedua di dunia yang mencintai sepakbola, dengan angka 77 persen penduduk yang mencintai sepakbola. Akan tetapi, hanya 17 persen penduduknya aktif main sepakbola pada urutan ke-22 di dunia,’’ urai Agus.

Suporter Indonesia - Indonesia U-22 vs Vietnam U-22Alvino Hanafi

Artinya, Indonesia masih banyak kekurangan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Dari mulai penduduk yang aktif sebagai pesepakbola, pelatih, dan segala sektor yang berkaitan. Apalagi, kompetisi saat ini sedang tidak jelas.

Bukan hanya soal sumber daya manusia, tapi secara fasilitas, sepakbola Indonesia juga masih tertinggal. Dipaparkan bahwa dari ratusan stadion yang ada, hanya dua yang sudah berstandar AFC, dan tidak ada lapangan khusus untuk latihan timnas Indonesia, juga kantor PSSI.

"PSSI yang rutin menggelar kompetisi professional tidak memiliki akademi berkualitas di Asia atau dunia, sehingga kesulitan menyuplai pemain muda berbakat untuk menjadi andalan timnas nasional. Sekolah sepak bola [SSB] juga belum memiliki standar kualitas yang seragam,’’ beber Agus.

Ketua umum PSSI, Mochamad Iriawan, masih yakin dan tetap berharap bahwa Inpres No. 3 tersebut dapat melecut PSSI untuk melakukan pengembangan di berbagai sektor. Kursus kepelatihan, pembangunan fasilitas, wasit, perbaikan tata kelola sepakbola, diharapkan bisa terwujud dari Inpres tersebut.

"Itu semua menjadi tantangan PSSI ke depan. Tetapi, dengan perhatian dari pemerintah, kami yakin sepakbola akan maju,’’ tutup mantan Kapolda Metro Jaya tersebut.

Mochamad Iriawan - Ketua Umum PSSIGoal Indonesia
Iklan
0