Liga 1 2020 direncanakan kembali bergulir pada September mendatang dengan sentralisasi di Pulau Jawa. Itu setelah PSSI memaparkan rencana kompetisi di tengah pandemi virus corona, kepada klub peserta Liga 1, Selasa (2/6) kemarin.
Persik Kediri menjadi salah satu pihak yang sebenarnya ingin kompetisi musim ini dihentikan. Namun jika memang kompetisi bakal berlanjut, ada tiga hal yang diusulkan oleh Persik, pada rapat virtual kemarin.
Yang pertama, Persik meminta subsidi atau hak komersial klub mendapat kenaikan menjadi Rp1.2 miliar sampai Rp1.5 miliar. Sebelumnya, subsidi yang diusulkan sebesar Rp800 juta untuk sekali pencairan.
Hal itu disampaikan dengan dasar tidak ada pemasukan dari laga kandang, karena tidak mungkin menggelar pertandingan dengan suporter, di tengah ancaman virus corona, dan lagi menyesuaikan 'new normal'.
Abdul Hakim Bafagih, presiden Persik, juga menyebut bahwa pihaknya ingin adanya relaksasi pajak, yang dibantu Kemenpora dan Kemenkeu. “Pajaknya 20 persen dan bisa lebih. Ini akan menjadi beban besar bagi klub,” katanya.
“Sementara Presiden Jokowi [Joko Widodo] memberikan atensi besar kepada sepakbola Indonesia. Di saat kondisi seperti ini [pandemi], akan sangat repot bila relaksasi tidak diberikan,” beber Bafagih menambahkan.
Selain penambahan subsidi dan relaksasi pajak, Persik juga mau kejelasan revisi kontrak pemain. Menurutnya, penyesuaian kontrak pelatih dan pemain adalah hal wajar, karena industri lain juga melakukan hal serupa.
“Tapi yang perlu dipertimbangkan juga adalah akomodasi klub-klub luar Jawa. Seperti penginapan mereka apakah ditanggung atau tidak. Kalau bagi kami [klub di Jawa] tidak masalah,” tukasnya.


