“Champions of England, you’ll never sing that!”
"Juara Inggris, kalian tidak akan pernah menyanyikan itu!"
Mungkin fans Leicester City harus menyimpan dalam-dalam chant tersebut.
Bukan tanpa alasan, jika Boxing Day lawan the Foxes dianggap sebagai ujian keras bagi Liverpool, maka sekarang satu tangan mereka telah menyentuh trofi yang begitu diidamkan.
Leicester tidak kuasa membendung Liverpool. Skor kemenangan 4-0 pasukan Jurgen Klopp di King Power Stadium bisa sedikit mewakili bagaimana perbedaan kualitas kedua tim. Bagai langit dan bumi!
Perburuan gelar juara? Silakan tertawa. Liverpool sekarang punya keunggulan 13 poin di puncak klasemen dengan keuntungan satu laga atas Leicester. Sementara itu Manchester City harus menang di kandang Wolves hanya untuk memangkas jarak menjadi 11. Di titik ini juga Liverpool masih memegang keuntungan jumlah pertandingan.
Leicester tidak bisa memberi jawaban. Pasukan Brendan Rodgers memang lebih dari layak untuk mendapat pujian musim ini tetapi mereka baru saja mendapat pelajaran keras. Pertandingan dini hari tadi bagaikan pertarungan antara anak-anak dan orang dewasa.
"Saya pikir kami tampil lebih baik," kata Klopp setelah pertandingan. Jelas, pelatih Liverpool sedang berkelakar jika tidak ingin disebut mengejek.
2019 adalah tahun istimewa bagi Liverpool, tetapi rasanya mereka belum pernah memperlihatkan sebuah performa yang lengkap seperti dini hari tadi. Sejak menit pertama pasukan Klopp mendomnasi lapangan. Kemenangan ini adalah sebuah penegasan.
"Sebuah performa yang lengkap," kata Virgil van Dijk.
Leicester sendiri memasuki lapangan untuk menguji kemampuan. Mereka beraksi di kandang sendiri, mereka sedang percaya diri dan mereka juga punya Jamie Vardie yang siap melukai Liverpool.
Imajinasi itu tidak pernah terjadi. The Foxes ditekan habis-habisan hingga menyerah, mereka terseret putaran arus the Reds yang tidak pernah berhenti. Vardi mencatat sentuhan bola paling sedikit di antara para starter, termasuk Alisson!
GettyAndai Anda menawarkan peluit akhir kepada Leicester setelah satu jam pertandingan berjalan, mereka pasti menerimanya. Mereka harus menghentikan siksaan itu. Liverpool seharusnya sudah jauh berlari sebelum masa rehat tetapi keperkasaan mereka hanya diwakili oleh sebiji gol Roberto Firmino sementara tuan rumah gagal mencetak tembakan.
Bagaimana dengan paruh kedua? Situasinya lebih buruk bagi tuan rumah. Penalti membuat Liverpool menggandakan keunggulan. Setelahnya... Laga persahabatan.
Firmino menambah pundi gol berkat assist Trent Alexander-Arnold untuk mengubah kedudukan menjadi 3-0. Performa Alexander-Arnold sangat enak untuk dinikmati dan dia menyempurnakannya dengan mencetak gol keempat.
Nyanyian fans Liverpool begitu menggelora mengiringi kemenangan meyakinkan tim kesayangan mereka di King Power sementara Leicester mengakhiri duel tanpa satupun tembakan mengenai sasaran.
"Kami bisa mengimbangi hingga wasit mengambil keputusan untuk menjadi pahlawan," keluh Kasper Schmeichel. Gelak tawa di Merseyside bisa terdengar setelah komentar tersebut. Leicester memang selalu menyuguhkan permainan top, tetapi bukan yang ini.
Liverpool sebenarnya punya segudang alasan. Mereka baru saja pulang dari Qatar setelah merajai Piala Dunia Antarklub yang melelahkan, lima pemain bintang mereka cedera hingga harus diparkir. Pada situasi itu Liverpool bisa saja kesulitan dan akan dimaklumi.
GettyTetapi kenyataan berbicara lain. Alasan? Liverpool tidak membutuhkannya. Jetlag? Tidak mengganggu. Cedera? Bukan masalah. Tekanan? Tekanan yang mana?
Dan jangan juga membahas soal kekhawatiran tim akan menganggap enteng lawan. Musim ini Liverpool tidak mengenal kata-kata itu. Kejam, seperti itulah mereka. Lebih bugar dan haus kemenangan dari siapapun. Lebih baik dari semua klub.
Mungkin kita seharusnya sudah menyadari sejak awal, embel-embel "The Greatest Show" akan tercipta di King Power sebagai penegasan dominasi Liverpool.
Liverpool, tim hebat dengan performa luar biasa.
Champions of England (juara Inggris), loyalis Liverpool tidak lama lagi akan menyanyikan lagu itu.
