Manajer Liverpool Jurgen Klopp menegaskan dirinya tetap mengikuti keputusan klub terkait lagu kebangsaan 'God Save The King' yang akan dikumandangkan sebelum pertandingan melawan Brentford, Sabtu (6/5) malam WIB.
Operator kompetisi telah menginstruksikan seluruh klub mengumandangkan lagu kebangsaan sebelum pertandingan dimulai. Instruksi itu dikeluarkan, karena di hari yang sama akan ada upaya pemberian mahkota kepada Raja Charles III.
Banyak fans Liverpool yang menolak kebijakan tersebut. Namun Klopp tidak mau terlibat dalam perdebatan itu. Menurutnya, ada juga fans Liverpool yang tak keberatan dengan pemutaran lagu kebangsaan.
“Posisi klub adalah posisi saya. Itu jelas. Selain itu, saya tidak benar-benar mempunyai pendapat yang tepat tentang hal ini. Saya dari Jerman, kami tidak punya raja, atau ratu, atau hal-hal seperti itu,” ucap Klopp dilansir laman resmi klub.
“Usia saya 55 tahun, dan saya benar-benar tidak punya pengalaman dengan itu. Jika melihat dari luar, itu adalah hal yang menyenangkan untuk ditonton. Semua pernikahan [di keluarga kerajaan] adalah hal besar di Jerman.
“Tetapi tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa. Kami hanya melihatnya seperti menonton film, atau sekadar membacanya di koran, karena kami tidak merasakannya.”
“Saya cukup yakin banyak orang di negara ini akan menikmati penobatan. Beberapa mungkin tidak benar-benar tertarik, dan lainnya tidak akan menyukai. Itu saja, itu di seluruh negeri. Saya pikir hanya itu yang bisa saya katakan tentang ini. Sisanya adalah posisi saya adalah posisi klub.”
Masyarakat Liverpool yang dikenal dengan sebutan Scousers sejak lama memang tidak sependapat dengan politik tradisional dan koservatif yang menjadi ciri khas kerajaan Inggris. Para pendukung politik masuk ke dalam kelompok Tories.
Bahkan pada pertandingan final Piala FA musim lalu melawan Chelsea di Stadion Wembley, banyak suporter yang mencemooh ketika lagu kebangsaan dikumandangkan.




