Kisah Pilu PSM Madiun: Ibu PSSI Yang Ditelantarkan

Cover PSM Madiun
Goal Indonesia
Di hari ulang tahun PSSI, Goal Indonesia mengulik kondisi terkini PSM Madiun, salah satu tim pendiri PSSI yang kini dalam kondisi mengenaskan.

OLEH  ALVINO HANAFI    DARI  MADIUN, JAWA TIMUR

PSM. Nama itu kini lebih eksis dengan klub sepakbola alumni perserikatan asal Makassar, punya warna kebesaran merah, dan lahir pada tahun 1915.

Meski berusia lebih dari seabad dan pernah menjadi kampiun Liga Indonesia, PSM yang itu masih kalah legendaris dibanding dengan tim PSM lain yang berasal dari Kota Madiun, Jawa Timur dengan warna kebesaran kuning: PSM Madiun.

Kenapa PSM Madiun lebih legendaris daripada PSM Makassar? Ini karena PSM Madiun adalah satu dari tujuh klub yang melahirkan PSSI pada 19 April 1930 di Yogyakarta, tepatnya saat kongres PSSI pertama.

Pada saat itu, PSM Madiun masih bernama Madioensche Voetbal Bond (MVB) dan turut berkontribusi dalam membidani lahirnya PSSI yang digagas oleh Ir. Soeratin bersama wakil dari enam kota lainnya yakni VIJ (Jakarta), BIVB (Bandung), PSM (Yogyakarta), VVB (Surakarta), IVBM (Magelang), dan SIVB (Surabaya).

Pertanyaan lantas muncul, mengapa PSM merah (Makassar) yang punya usia lebih tua absen dalam hari bersejarah itu. Faktor geografis jadi alasan terkuat karena  wakil-wakil dari Makassar harus menyebrang lautan dan butuh waktu tempuh lama untuk menghadiri kongres di Yogyakarta. Belum lagi dengan situasi politik Hindia Belanda kala itu.

Bagi tujuh tim yang turut membidani lahirnya PSSI, namanya tentu akan tercatat abadi dalam perjalanan sejarah sepakbola Indonesia. Abadi juga berarti bahwa nama turunan dari tujuh klub pendiri itu tidak bisa diubah-ubah dan tidak bisa dipindahkan dari kota asal. PSM Madiun sebagai kelanjutan dari Madioensche Voetbal Bond (MVB) akan selamanya bernama PSM dan berbasis di Madiun.

PSM Madiun

Andai suatu saat bos RANS Cilegon United FC Raffi Ahmad ingin membeli PSM Madiun, maka ia tidak bisa sekonyong-konyong mengubahnya menjadi RANS Madiun karena nama PSM Madiun sudah disakralkan oleh PSSI bersama dengan enam klub pendiri lainnya. Aturan ini tertuang dalam statuta PSSI pasal 17 poin 1 huruf g.

"Sebagai penghargaan kepada tujuh Klub Pendiri PSSI, yaitu PSIM Yogjakarta, Persis Solo, Persib Bandung, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSM Madiun, dan PPSM Magelang, maka ketujuh klub tersebut wajib melindungi seluruh aset sepak bola mereka termasuk nama, logo, domisili dan warisan sepak bola lainnya di setiap waktu, dan tidak melakukan perubahan (pengurangan atau penambahan) hal-hal tersebut dengan alasan apapun di kemudian hari."

Mati Suri

Dibanding enam ibu lainnya, PSM Madiun adalah ibu dari PSSI yang paling tidak eksis. Minim prestasi, lebih sering berkubang di kasta bawah, dan sempat vakum bertahun-tahun menjadi alasan kurang eksisnya PSM Madiun. Sebagus-bagusnya masa bagi tim berjuluk Banteng Wilis ini terjadi pada kurun waktu 2004 hingga 2007, itupun hanya berkecimpung di kasta ketiga dan keempat.

Petaka bagi PSM datang jelang Liga Indonesia musim 2009/10, tepat setelah Kota Madiun memiliki walikota baru, Bambang Irianto. Sebagai wali kota, Bambang dianggap menganaktirikan PSM dan lebih memilih membangkitkan klub baru yakni Madiun Putra FC, klub yang sebetulnya adalah anggota dari liga internal PSM dan sudah dibinanya sejak lama. Sejak Madiun Putra FC lahir, aliran dana dari pemerintah kota Madiun lebih banyak dikucurkan kepada klub milik Bambang Irianto itu.

Menurut pengakuan manajer Madiun Putra, Harminto, pemerintah sebetulnya tidak abai kepada PSM. "PSM itu milik pemerintah. Jadi, waktu pak Bambang awal menjabat jadi wali kota, ia mau mengambil alih PSM hanya saja oleh pemilik yang lama, Pak Sulis tidak ada itikad untuk mengembalikan ke pemerintah," ujar Harminto.

Kehadiran Madiun Putra FC di tengah vakumnya PSM mampu mencuri banyak perhatian pencinta sepakbola Madiun. Klub dengan warna kebesaran biru muda ini perlahan naik ke Liga 2 sehingga mereka bisa cepat merebut hati pecinta sepakbola Madiun yang sudah haus akan hiburan sepakbola.

Madioensche Vokoid Brigade

Meski ditinggalkan oleh pecinta sepakbola Madiun, Banteng Wilis masih memiliki loyalis yang tak silau akan prestasi sang saudara muda. Sekelompok suporter lantas membentuk Madioensche Vokoid Brigade (MVB) karena merasa perlu untuk menjaga nama PSM Madiun sebagai warisan leluhur.

Lewat dunia maya, MVB ingin mengajak pecinta sepakbola Madiun untuk mendorong PSM Madiun agar kembali eksis dan mengajak pencinta sepakbola Madiun untuk kembali mendukung PSM. Tentu saja MVB menemui banyak rintangan.

PSM Madiun Suporter

Tantangan terbesar MVB adalah bagaimana bisa meyakinkan generasi milenial agar bisa bangga terhadap PSM sebagai warisan leluhur di tengah hegemoni tim-tim besar asal Jawa Timur seperti Persebaya Surabaya dan Arema.

"Kami ingin pencinta sepakbola Madiun untuk kembali mencintai PSM sebagai tim tradisional asal Madiun dan warisan dari leluhur. Sudah mulai banyak anak-anak di Madiun yang menjadi fans klub-klub lain terutama tim-tim besar asal Jawa Timur. Sebetulnya terserah karena itu tentang selera saja, tapi lebih baik PSM Madiun sak matine (sampai mati)!," ujar Martin Jon Hutabarat, anggota dari MVB.

2019 Sempat Eksis Lagi

Jelang Liga 3 2019, dorongan untuk membangkitkan PSM semakin banyak, salah satunya dari suporter. Walhasil, PSM Madiun berhasil ditebus kembali aktanya oleh Nono Djatikusumo yang mewakili pemerintah Kota Madiun seharga kurang dari Rp30 juta.

"Alhamdulillah, PSM bisa lahir kembali dan main Liga 3 2019 regional Jawa Timur. Sebelumnya, kami ambil alih dari pemilik saat PSM vakum dan kemudian, saya diberi mandat oleh pemerintah langsung membuat akta notaris untuk PSM. Total, tidak lebih dari 30 juta untuk melahirkan PSM kembali dan berkibar lagi di Liga 3," ujar Nono.

Liga 3 2019 regional Jawa Timur menjadi saksi kembalinya PSM ke kompetisi resmi. Untuk menghargai PSM sebagai sesepuh sepakbola Jawa Timur, laga pembukaan ajang ini pun dihelat di stadion kebanggaan publik sepakbola Kota Madiun, Stadion Wilis, pada 27 Juli 2019.

Menjalani musim "debut" setelah vakum satu dekade, penampilan PSM kurang begitu ciamik dengan hanya membukukan lima hasil seri, tiga kekalahan, dan tanpa satu pun kemenangan. Meski jeblok di atas lapangan, setidaknya PSM bisa eksis kembali dan mengobati kerinduan pencinta sepakbola Madiun akan kembalinya sang ibu PSSI yang terlupakan.

PSSI Dinilai Durhaka

Terpilihnya Stadion Wilis menjadi tempat pembukaan Liga 3 regional Jawa Timur belum dianggap cukup sebagai bentuk perhatian PSSI kepada PSM. Dari beberapa narasumber yang kami temui di Madiun, mereka semua sepakat jika perhatian federasi kepada Madiun masih minim.

Jurnalis sekaligus pengamat sepakbola Madiun Hengky Ristanto menilai PSSI durhaka karena kurang melirik Madiun dan juga PSM. Dengan keberadaan Stadion Wilis, Madiun seharusnya diberi porsi lebih besar oleh PSSI untuk menggelar agenda-agendanya.

"PSSI janganlah menjadi anak yang durhaka terhadap salah satu ibunya yakni PSM Madiun atau Kota Madiun. Saya berharap PSSI mulai berpikir untuk menggelar agenda-agenda tim nasional atau sepakbola dengan skala nasional di Madiun. Madiun punya Stadion Wilis yang layak menggelar ajang besar," ujar Hengky.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Beberapa tahun belakangan, PSSI memang kerap menggelar agenda-agenda tim nasional di luar Jakarta. Meski demikian Madiun dan Stadion Wilis tidak pernah dilirik.

Madiun, PSM, dan Stadion Wilis seperti sudah ditelantarkan oleh sang anak sendiri, yakni PSSI.

 

Tutup