Ketua umum PSSI Mochamad Iriawan dinilai sudah berusaha keras untuk menyelesaikan tragedi Kanjuruhan. Bahkan, ia juga telah mengikuti permintaan publik.
Penilaian tersebut dilakukan oleh mantan anggota komite etik FIFA Dali Tahir. Menurutnya, sosok yang karib disapa Iwan Bule itu layak diberikan apresiasi karena tidak menutup mata dengan korban tragedi Kanjuruhan.
"Itu jelas menunjukkan bahwa hati Iwan Bule tidak terbuat dari batu. Yang pasti, saya bisa merasakan kesedihannya dan juga beratnya beban yang harus dipikulnya akibat musibah tersebut. Dan, saya yakin Iwan Bule pasti punya program lain untuk membantu korban tragedi Kanjuruhan sekaligus memperbaiki citra sepakbola dan pihak kepolisian di mata masyarakat Indonesia dan juga dunia," kata Dali.
Selain itu, Dali mengimbau tragedi Kanjuruhan tidak dijadikan opini menggiring Iwan Bule agar bisa tersingkir dari posisinya melalui Kongres Luar Biasa (KLB). Statuta FIFA jelas menyebutkan jika KLB hanya bisa digelar atas permintaan 2/3 pemilik suara (voters) atau 1/2 plus satu anggota komite eksekutif (Exco) PSSI.
"Keputusan PSSI yang telah mengirimkan surat kepada FIFA soal permintaan KLB yang diumumkan secara resmi oleh Iwan Bule itu merupakan tindakan di luar dugaan. Padahal, Iwan Bule bisa saja bertahan karena secara aturan PSSI tidak bisa serta-merta disalahkan dengan tragedi Kanjuruhan karena pertandingan 2x45 menit tuntas tanpa insiden," ungkapnya.
Dali mengatakan yang dilakukan Iwan Bule harus dilihat secara jernih oleh masyarakat sepakbola terutama pihak-pihak yang berambisi menjatuhkannya. Mengingat, selama kepemimpinannya tak melakukan pelanggaran statuta, namun mampu menaikkan peringkat di FIFA.
"Yang ada, bukan hanya kompetisi yang merupakan ujung tombak pembinaan bisa berjalan, tetapi PSSI juga mampu meningkatkan prestasi timnas Indonesia pada peringkat FIFA serta prestasi lainnya di kelompok umur."
"Saya juga tidak paham apa yang ada dalam benak pihak-pihak yang mencoba mengiring opini menyingkirkan Iwan Bule dengan terus mendengungkan KLB, bahkan mulai membentuk opini siapa yang paling pantas menggantikannya lewat survei. Lantas pernahkah mereka berpikir jika posisinya seperti Iwan Bule dipaksa melepaskan jabatan dengan menabrak statuta FIFA."
"Dan tidak diberikan kesempatan untuk berbuat baik dan memikirkan kelanjutan nasib anak-anak dari korban tragedi Kanjuruhan yang butuh uluran tangan dalam mencapai cita-citanya. Bagaimana jika hal itu terjadi pada mereka. Ini bukan hanya menutup niat baik Iwan Bule tetapi juga mengukirkan tinta hitam kepadanya dan juga anak cucunya ke depan."
